Berita Utama

Tribun Pendukung Saling Klaim Kuasai Panggung

JAKARTA — Debat calon presiden tahap pertama rampung digelar. Tiga kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden mengklaim kandidat mereka sukses menguasai panggung debat capres yang didirikan di halaman gedung Komisi Pemilihan Umum, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, pada Selasa malam lalu.

Tim Pemenangan Nasional (Timnas) Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, misalnya, menyatakan puas akan performa Anies. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini akan mempertahankan gayanya dalam dua debat capres berikutnya. “Artikulasi dan bahasa tubuh yang ditampilkan Anies selama debat sudah terlihat alami,” kata juru bicara Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Amiruddin Al Rahab, pada Rabu (13/12/2023).

Agenda debat capres-cawapres, yang digelar selama masa kampanye pemilihan presiden 2024, masih menyisakan empat sesi. Sesuai dengan hasil kesepakatan, capres akan kembali berdiri satu panggung dalam debat ke-3 dan ke-5, masing-masing pada 7 Januari dan 4 Februari 2024. Adapun agenda terdekat, yakni debat ke-2 pada 22 Desember mendatang, akan menghadapkan tiga calon wakil presiden. Cawapres dijadwalkan berdebat lagi di sesi ke-4 pada 21 Januari 2024.

Amiruddin menilai Anies telah menunjukkan kualitasnya sebagai calon presiden dalam debat perdana pada Selasa lalu, yang membicarakan isu hukum, hak asasi manusia, pemerintahan, pemberantasan korupsi, dan penguatan demokrasi. Anies, kata dia, bisa menyampaikan gagasannya secara sistematis dan mudah dipahami. “Anies memahami masalah dan tahu solusinya. Semua itu disampaikan dengan tenang,” ujarnya.

Menurut Amiruddin, pekerjaan rumah untuk menghadapi debat selanjutnya adalah pendalaman materi. Karena itu, Dewan Pakar Timnas Anies-Muhaimin akan mengkaji berbagai persoalan sesuai dengan topik debat capres berikutnya, seperti pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan geopolitik. “Evaluasi kami adalah pendalaman materi, bukan tampilan. Karena penampilan Anies selama debat kemarin sudah baik,” katanya.

Amiruddin menilai evaluasi semestinya juga dilakukan terhadap format debat yang disusun penyelenggara pemilu. Topik yang kelewat banyak dengan durasi hanya 120 menit membuat debat kurang efektif sebagai wadah menyampaikan gagasan para kandidat. “Seharusnya waktu untuk bertukar gagasan yang diperbanyak, bukan topiknya,” ujarnya. “Cukup tiga topik, asalkan fokus. Para calon pasti bisa lebih efektif bertukar gagasan selama debat. Karena itu yang ditunggu publik.”

Kubu Prabowo Puas Kendati Merasa Diserang

Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto bertanya kepada Capres nomor urut 1 Anies Baswedan saat debat perdana di KPU RI, Jakarta, Selasa, 12 Desember 2023. TEMPO/ Febri Angga Palguna

Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka juga menilai kandidatnya telah tampil maksimal dalam debat pada Selasa malam lalu. Direktur Juru Debat TKN Prabowo-Gibran, Budiman Sudjatmiko, menilai Prabowo menguasai topik dan memberikan pesan yang solid. “Hanya Prabowo yang menekankan pesan pentingnya persatuan untuk kemajuan bangsa, memberikan solusi, dan menebarkan optimisme bagi rakyat,” kata Budiman.

Budiman menilai Prabowo tampil dengan tenang kendati diserang oleh Anies dan Ganjar Pranowo. “Ada beberapa kejutan, terutama sikap Anies yang dianggap berlebihan,” ujarnya.

Dia mengklaim Prabowo tidak tertarik menyerang lawannya selama debat. “Karena bagi beliau panggung ini adalah kesempatan bagi para capres menunjukkan apa yang mereka ingin buat untuk Indonesia,” kata Budiman.

Dalam debat perdana pada Selasa lalu, Prabowo sempat beradu pernyataan, baik dengan Anies maupun Ganjar. Namun intonasi suara Prabowo beberapa kali meninggi ketika bersilat lidah dengan Anies.

Ketika ditanya soal gagasannya untuk memperkuat tata kelola partai politik, Anies Baswedan menjawab bahwa persoalan pada demokrasi lebih dari sekadar menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik. Menurut dia, untuk menjamin demokrasi, diperlukan kebebasan berpendapat, keberadaan oposisi sebagai penyeimbang pemerintah, dan penyelenggaraan pemilu yang netral. Dia menilai dua syarat pertama sedang bermasalah.

Prabowo Subianto tak memanfaatkan waktu 1 menit untuk menanggapi jawaban Anies tersebut dengan menyampaikan gagasannya atas pertanyaan yang sama. Dia malah mengingatkan lawannya itu bahwa Partai Gerindra yang ia pimpin adalah oposisi pemerintah ketika mengusung Anies dalam pilkada DKI Jakarta 2017. “Kalau demokrasi kita tidak berjalan, tidak mungkin Anda menjadi gubernur,” kata Prabowo sambil menunjuk-nunjuk ke arah Anies. “Kalau Jokowi diktator, Anda tidak mungkin jadi gubernur.”

Ganjar Pranowo hanya tersenyum-senyum melihat adegan tersebut. Ketika diberi waktu untuk menanggapi, Ganjar hanya menegaskan tidak mungkin ada demokrasi tanpa partai politik. Sumbernya, kata dia, adalah pendidikan politik. “Soal oposisi atau tidak oposisi, soal kepentingan saja, kok. Yang penting, pendidikan politik kepada masyarakat itulah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi partai politik,” kata Ganjar.

Seperti format debat yang disepakati, capres penjawab soal dapat menanggapi balik atas komentar lawannya. Saat itulah Anies menyerang balik Prabowo. Menurut Anies, keberadaan pemerintah dan oposisi itu sama-sama terhormat. “Sayangnya, tidak semua tahan menjadi oposisi,” katanya. “Seperti yang disampaikan Pak Prabowo, Pak Prabowo tidak tahan menjadi oposisi.”

Setelah dua kali kalah melawan Joko Widodo, Prabowo dan partainya memutuskan bergabung dengan barisan partai pendukung pemerintah tak berselang lama setelah perhelatan pilpres 2019. Jokowi mendapuk Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.

Budiman tak menjawab pertanyaan soal gestur Prabowo dalam debat yang sempat terlihat terpancing emosi. Dia hanya menjawab ihwal evaluasi timnya untuk menghadapi debat berikutnya. Menurut Budiman, penampilan Prabowo apa adanya, tidak dibuat-buat. “Itu justru kelebihan beliau,” ujarnya.

Peta Elektabilitas Berpotensi Berubah

Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (kanan) dan Calon Presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo saat debat perdana di KPU RI, Jakarta, 12 Desember 2023. TEMPO/Febri Angga Palguna

Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud Md. tak banyak menanggapi ihwal evaluasi terhadap penampilan Ganjar dalam debat pada Selasa lalu. Juru bicara TPN Ganjar-Mahfud, Cyril Raoul Hakim, hanya menegaskan bahwa Ganjar tampil prima malam itu. “Sesuai dengan harapan, bahkan lebih, dari penyampaian visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, hingga menanggapi antar-capres,” katanya.

Menurut Cyril, Ganjar telah menjiwai gagasannya. Dengan demikian, tim persiapan debat, kata dia, akan berupaya mempertahankan penampilan Ganjar dalam dua sesi debat capres berikutnya. Chico—begitu Cyril biasa dipanggil—belum bisa memaparkan detail persiapan menghadapi dua agenda debat tersebut. “Belum banyak dibicarakan karena masih lama,” ujarnya.

Dia hanya mengatakan TPN optimistis elektabilitas Ganjar bakal naik setelah debat perdana. “Karena Ganjar sudah tampil cukup percaya diri serta program dan gagasannya juga bisa disampaikan dengan cara yang sederhana,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah menilai debat perdana secara umum cukup mencerahkan. Dia mengatakan Anies dan Ganjar bisa menjelaskan argumen dan pertanyaannya tanpa basa-basi. Situasi debat semacam itu, kata dia, cukup bagus dan memang diperlukan mengingat elektabilitas keduanya saat ini dalam posisi tertinggal dibanding Prabowo Subianto.

Menurut Dedi, Anies mengulas secara rinci persoalan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, misalnya ketika menyatakan komitmennya untuk merevisi lagi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dan mendorong Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset. Sikap tersebut, kata Dedi, bisa menarik pemilih yang selama ini kontra terhadap revisi UU KPK sebelumnya pada masa pemerintahan Jokowi.

Ganjar juga dinilai cukup tenang mengikuti ritme debat capres pada Selasa malam lalu. “Ketegasan Anies dan Ganjar bisa saja mempengaruhi elektabilitas keduanya,” kata Dedi. “Terutama dari kelompok pemilih mengambang.”

Sebaliknya, Dedi menilai Prabowo cukup kesulitan menghadapi perdebatan. Bahkan bekas Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu cenderung tampak emosional. Menurut Dedi, Prabowo juga berulang kali menyampaikan data yang kurang akurat, seperti soal birokrasi perizinan rumah ibadah di DKI Jakarta dan kelangkaan pupuk di Jawa Tengah. Kurangnya akurasi saat menyerang lawan itu, kata Dedi, bisa menjadi bumerang bagi Prabowo. “Kalau kesalahan ini terus berulang dalam debat selanjutnya, kelompok pemilih kelas sosial menengah bisa bergeser meninggalkan Prabowo,” kata Dedi. (tem/kom/ant)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.