Berita Utama

Untung-Buntung Migrasi Siaran Televisi

JAKARTA – Juru bicara Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran, Bayu Wardhana, berpendapat migrasi siaran dari televisi analog ke televisi digital akan bermanfaat bagi masyarakat. Publik akan memiliki banyak pilihan tontonan televisi karena migrasi akan membuka peluang bagi industri penyiaran untuk berkembang.

Bayu menjelaskan, jumlah lembaga penyiaran akan semakin banyak pada masa penyelenggaraan siaran televisi digital. Pasalnya, satu spektrum frekuensi yang dulunya hanya untuk satu lembaga penyiaran swasta akan bisa digunakan secara bersama-sama oleh 12 saluran televisi digital.

Dengan makin banyaknya pemain, kata Bayu, kompetisi akan meningkat. Stasiun televisi akan lebih tertantang menghadirkan konten-konten yang lebih berkualitas. Jika tidak, masyarakat akan meninggalkannya karena sudah memiliki banyak pilihan tontonan. “Karena banyak persaingan, akhirnya mereka adu kualitas dan variasi,” kata Bayu, Sabtu, 5 November 2022.

Keuntungan lainnya, menurut Bayu, masyarakat akan mendapat saluran khusus tentang kebencanaan. Peluang ini merujuk pada janji pemerintah yang akan menggunakan dividen digital—rentang frekuensi yang tersedia setelah migrasi siaran terestrial analog ke digital—untuk kepentingan penyiaran kebencanaan. “Selama ini memang belum ada saluran khusus tentang kebencanaan,” ujarnya.

Pemerintah menghentikan siaran televisi analog atau analog switch-off (ASO) pada Rabu pekan lalu, 2 November 2022. Penghentian saluran televisi analog ini mengacu pada Pasal 60A Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang mewajibkan pengalihan siaran televisi dari analog ke digital paling lambat dua tahun sejak undang-undang itu berlaku. Keputusan ini diperkuat dengan Pasal 97 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, sependapat dengan Bayu. Ia mengatakan migrasi ke TV digital tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kecepatan akses Internet di Indonesia. Selain itu, kata dia, migrasi siaran televisi ini akan menciptakan dividen digital yang dapat digunakan untuk mempercepat akses Internet. “Untuk layanan 5G, kita butuh setidaknya 100 megahertz,” kata Heru.

Dividen digital yang dimaksudkan Bayu dan Heru adalah frekuensi yang tersisa dari hasil migrasi analog ke digital. Selama lebih dari dua dekade terakhir, 14 stasiun televisi menyelenggarakan siaran terestrial analog di spektrum frekuensi selebar 328 megahertz (MHz), yakni pada frekuensi 478-806 MHz. Dengan beralih ke siaran digital, industri penyiaran akan menggunakan spektrum frekuensi sebesar 176 MHz, yakni pada rentang frekuensi 518-694 MHz. Sisa spektrum frekuensi yang ditinggalkan stasiun televisi itu akan dipakai untuk pengembangan jaringan Internet cepat dan saluran komunikasi kebencanaan.

Adanya dividen digital inilah yang dinilai oleh Boston Consulting Group (BCG), lembaga riset global, akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Hasil riset BCG pada 2018 menunjukkan, jika migrasi analog ke digital di Indonesia dimulai pada 2020, dividen digital tersebut akan berpotensi menambah produk domestik bruto sebesar total US$ 39,9 miliar hingga 2026. Dengan kurs saat ini, angkat tersebut setara dengan Rp 622 triliun.

Dua Sisi Potensi Berebut Kue Iklan

Bayu Wardhana memprediksi migrasi saluran televisi ke digital merugikan lembaga penyiaran swasta yang selama ini menguasai frekuensi untuk siaran analog. Semakin banyaknya pemain di industri penyiaran era migrasi ke digital sedikit-banyak akan membuat persaingan berebut kue iklan makin ketat.

Migrasi siaran digital, kata Bayu, akan menyulitkan pemain lama di industri penyiaran dalam menawarkan slot iklan kepada pengiklan. Selain karena pemain semakin banyak, jumlah penonton mungkin akan berkurang. Tak semua masyarakat otomatis bisa menikmati siaran digital ketika migrasi diberlakukan.

Bayu menuturkan masyarakat yang mempunyai televisi analog belum tentu mau atau mempunyai uang untuk membeli set top box (STB), alat penangkap siaran digital untuk televisi analog. “Ada kemungkinan juga masyarakat sudah merasa cukup memperoleh hiburan dan informasi melalui ponsel pintar,” ujarnya.

Pemerintah memang menargetkan mendistribusikan STB secara cuma-cuma kepada 5,5 juta keluarga miskin. Namun, hingga saat ini, realisasi bantuan STB yang menjadi komitmen bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika serta lembaga penyiaran swasta masih rendah, baru mencapai 20 persen. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.