Berita Utama

Urgensi Mendongkrak Spektrum Frekuensi

JAKARTA – Migrasi dari siaran televisi analog ke digital (analog switch-off/ASO) dinilai penting dilakukan untuk mengakomodasi peningkatan aktivitas berbasis Internet.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology Institute, Heru Sutadi, mengatakan frekuensi pada spektrum 700 megahertz (MHz) merupakan kandidat utama penyokong jaringan Internet 5G di Indonesia.

“Itu (kekosongan sebagian spektrum 700 MHz) adalah bonus digital dari ASO yang bisa dimanfaatkan untuk penyelenggaraan telekomunikasi,” ucap Heru, Selasa (8/11/2022), dilansir Tempo.

Selama lebih dari dua dekade, spektrum yang jangkauannya tak terhambat oleh topografi dan cuaca itu hanya dimanfaatkan oleh 14 stasiun televisi nasional. Para penyedia siaran menguasai spektrum selebar 328 MHz, yakni pada frekuensi 478-806 MHz. Lewat digitalisasi siaran, kebutuhan televisi bisa dipindahkan ke spektrum berbeda. Televisi digital rencananya hanya memakai rentang frekuensi 518-694 MHz. Satu spektrum frekuensi ini bisa menampung 12-13 kanal penyiaran.

Menurut Heru, jaringan 5G setidaknya baru bisa dioptimalkan pada spektrum di atas 100 MHz. Bila penataan ulang frekuensi televisi berjalan lancar, kata dia, terdapat sisa spektrum 112 MHz dari area frekuensi 700 MHz, persisnya pada 694-806 MHz. Jaringan inilah yang nantinya bisa dipakai untuk mempercepat pengunggahan dan pengunduhan data pengguna.

“Dapat dilelang dan bisa menyumbang pendapatan negara yang cukup besar,” tuturnya. Di satu sisi, penggunaan siaran televisi digital juga akan menghasilkan gambar dan suara siaran yang kualitasnya lebih jernih.

Digitalisasi siaran sudah diagendakan pemerintah sejak Konferensi Radio Komunikasi Regional yang digelar Organisasi Telekomunikasi Sedunia (ITU) di Jenewa, Swiss, pada 2006. Setelah sempat diundur ke 2020, program ASO diterapkan sepenuhnya pada 2 November 2022, yang bertepatan dengan tenggat dua tahun sejak implementasinya ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Mendukung Kinerja e-Commerce

Heru sebelumnya menyebutkan platform belanja daring atau e-commerce sebagai salah satu sektor usaha digital yang akan terdongkrak oleh peningkatan pemakaian Internet. Bila infrastrukturnya sudah mantap, teknologi 5G pun bakal segera diserap oleh perusahaan teknologi dari sektor prioritas yang pangsa pasarnya tinggi, dari pendidikan, kesehatan, hiburan visual, teknologi keamanan, hingga sistem kota pintar.

Berpendapat senada, Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Bima Laga, pun menyebutkan kapasitas 5G menyokong tingkat penjualan virtual. Menurut dia, penyedia toko daring membutuhkan kestabilan jaringan untuk mengunggah dan mengunduh data serta menjaga kecepatan transaksi. “Ini langkah menuju ekonomi digital Indonesia yang mumpuni,” tutur dia.

Pada Juni lalu, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan sebanyak 77 persen dari total penduduk Indonesia sudah menjadi pemakai Internet. “Sangat fantastis. Sebelum masa pandemi Covid-19 angkanya hanya 175 juta, sementara pada data terbaru sekitar 220 juta,” kata Ketua Umum APJII, Muhammad Arif.

Hingga saat ini APJII sudah menaungi sedikitnya 750 penyedia jasa Internet (internet service provider). Jumlah penyedia bertambah sebanyak 200 entitas selama dua tahun pandemi. Arif optimistis jumlah penyedia bisa mencapai 1.000 perusahaan dalam tiga tahun ke depan karena tingginya kebutuhan layanan digital.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Ika Mardiah, mengatakan pelaksanaan ASO berdampak ganda terhadap pengembangan bisnis kreatif, khususnya yang berbasis digital. Saat ini, sektor usaha daring itu tumbuh 40 persen di Jawa Barat. “Frekuensi berlebih itu untuk Internet berkecepatan tinggi yang menopang industri ini.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.