Berita Utama

Warga Laporkan Dugaan Pencemaran Air Sumur kepada DLH

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Warga RT 03/RW 05 Kelurahan Sanggeng melapor kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manokwari atas dugaan air sumur di wilayahnya telah tercemari sehingga terjadi gatal-gatal saat digunakan untuk mandi.

Kabid Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Manokwari, Yohanes Ada’ Lebang saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut.

“Laporan ini sudah kami terima sejak satu bulan yang lalu dan baru bisa menindaklanjuti laporan tersebut,” ujarnya kepada awak media di Manokwari, Selasa (2/2/2021).

Ia mengatakan, pihaknya bersama Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Papua telah mengambil sampel di 5 titik dari sumur warga yang diduga telah tercemari.

“Beberapa waktu yang lalu, kita sudah melakukan pengambilan sampel di 5 titik,” ungkapnya.

Ia menjelaskan dari hasil pengambilan sampel  tersebut, akan dilakukan pengecekan di Laboratorium PPLH Unipa.

“Selanjutnya akan dilakukan pengecekan di laboratorium PPLH Unipa dan akan menjadi bukti apakah terjadi pencemaran sumur warga atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Laboratorium PPLH Unipa, Heri Langsa mengatakan pihaknya sudah mengambil sampel dan kemudian akan ditindaklanjuti.

“Kami siap menindaklanjuti sampel yang telah di ambil dan ada beberapa data awal yang sudah kita ambil di lokasi diduga terjadi pencemaran,” ujarnya.

Ditanya mengenai berapa lama hasil laboratorium keluar, Ia mengatakan hasil laboratorium akan diketahui sekira 2 minggu kedepan.

“Hasil analisis laboratorium ini akan dilihat karakteristik sampel air tersebut. Kita akan melihat dari metafisik microbiologi,” ungkapnya.

Dijelaskan dari hasil laboratorium nantinya dapat diketahui apakah hasilnya sesuai dengan laporan dari masyarakat bahwa telah terjadi pencemaran terhadap sumur mereka yang mengakibatkan gatal-gatal saat di gunakan untuk mandi.

Kata Heri, hasil dari analisis laboratorium nanti akan dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup untuk ditindaklanjuti.

Saat dilakukan pengambilan sampel, lanjut Heri, pH air masih dalam batas normal untuk air kelas 1 rata-rata 6,5 sampai 6,7.

“Sesuai PP No. 82 tahun 2001, pH air yang di ambil untuk dijadikan sampel masih dibatas normal, namun itu bukan menjadi kesimpulan utama, tentunya  kita masih menunggu hasil dari parameter-parameter yang lain sehingga bisa mendapatkan hasil yang valid,” pungkasnya. (PB19)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 3 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.