Adolf Kabo, Legenda Timnas yang Meninggal dalam Keprihatinan

MANOKWARI, papuabaratnews.co –  Sepak bola Indonesia kembali berduka. Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya di kancah sepak bola nasional atas nama Adolf Kabo.

Mantan pemain timnas Indonesia era 1980-an itu meninggal dunia, pada Minggu (4/4/2021) sekitar pukul 15.30 WIT di RSAL Manokwari.

Sepanjang kariernya, Adolf Kabo terkenal saat memperkuat Perseman Manokwari pada periode 1983 hingga 1988.

Untuk timnas Indonesia, Adolf Kabo sempat membela skuad Garuda pada Piala Perserikatan di Brunei Darussalam pada 1985. Pada Asian Games 1986, Adolf Kabo menjadi andalan lini depan timnas Indonesia. Berkat kelihaiannya mengolah si kulit bundar, lelaki kelahiran 3 Maret 1960 itu membawa skuad Garuda menembus semifinal.

Adolf Kabo yang berposisi sebagai striker merupakan pemain penting Perseman Manokwari. Bersama Elly Rumaropen dan Yonas Sawor, mereka berhasil membawa Perseman Manokwari menembus partai final Divisi Utama Kompetisi PSSI Perserikatan musim 1986. Di partai puncak, Perseman sebagai tim kejutan bertemu dengan Persib Bandung.

Sayang ukiran gemilangnya di lapangan sepak bola tidak secemerlang kehidupannya di luar lapangan. Dia mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan keprihatinan.

Nuni Kabo (41), putri pertama Adolf Kabo bersama istrinya alm Mariam Opur, mengaku  sangat prihatin karena kontribusi besar sang ayah pada sepak bola tanah air, namun perhatian pemerintah tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dia berikan. Nuni menyesalkan ketiadaan perhatian sejak sang ayah pensiun pada 1994 sampai tutup usianya.

“Kami sedih karena bapa ini legenda tapi tidak perhatian yang diberikan oleh Negara atau pun pemerintah kepada bapa sampai beliau tutup usia,” ujarnya.

Nuni menyebutkan rumah yang dihuni almarhum bersama dirinya dan keluarga di Sanggeng Dalam, Distrik Manokwari Barat, juga luput dari pandangan pemerintah.

Dia berkisah, nama besar sang ayah membuat sejumlah pejabat pemerintah yang datang dan bertemu dengan almarhum di rumah dan berjanji akan memberikan bantuan, namun sampai Adolf tutup usia tidak ada satu pun bantuan yang datang.

“Banyak yang datang dan janji akan membantu namun setelah pulang tidak muncul sampai hari ini,” kata istri Yohanes Rence Gasper.

Senada, Isak Jefri Kabo (38), putera kedua almarhum menyatakan perhatian pemerintah daerah kepada ayahnya sangat minim. Padahal ayahnya sangat berjasa saat membawa Perseman Manokwari lolos Divisi Utama Liga Indonesia pada era 1980-an. Perhatian besar dari negara maupun pemerintah tidak ada kepada beliau semasa hidupnya saat memasuki pensiun.

“Bapa tidak pernah meminta atau mengeluh atas yang terjadi padanya sampai menutup mata ini. Sekalipun beliau telah banyak berkontribusi bagi bangsa ini,” paparnya.

Jefri menambahkan keprihatinan inilah yang akhirnya memaksa dirinya berbalik haluan mengikuti jejak sang ayah. Diakuinya, pada awalnya dia juga hendak mendalami sepak bola namun pada tahun 2007 lolos tes pegawai di Kabupaten Teluk Wondama dan akhirnya ia memutuskan untuk langsung gantung sepatu. Keputusan untuk gantung sepatu sejak dini diprakarsai oleh nasehat sang ayah demi masa depannya bersama anak dan istri.

“Saya sempat bermain namun pada 2007 begitu dengar nama lolos di Wondama, atas saran ayah saya langsung pulang dan ke Wondama,” urai suami Melia Rumbewas yang kini telah dikaruniai 5 orang anak.

Terpisah, Direktur Eksekutif  Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy mengemukakan sebagai salah satu lembaga sepak bola tanah air, Adolf Kabo sangat menyedihkan. Mulai dari pensiun tanpa jabatan dan sampai tutup usia pun tanpa perhatian dari Negara maupun pemerintah. Kondisi ini kontras dengan masa mudanya yang banyak menciptakan gemuruh sorak sorai penonton apabila sang bomber berkaki emas ini mencetak gol ke gawang lawan.

“Sangat disayangkan karena sang legenda sepakbola nasional meninggal dalam kesunyian,” jelasnya.

Warinussy berharap adanya perhatian berupa penghargaan yang diberikan oleh Negara melalui pemerintah daerah kepada keluarga Almarhum Adolf Kabo. Diakuinya sistem penghargaan kepada tokoh olah raga yang telah memberikan kontribusi besar dan mengharumkan tanah air memang belum ada dalam produk peraturan Indonesia. Kondisi ini yang menyebabkan banyak atlet tidak hanya di bidang sepak bola yang luput dari perhatian dan sentuhan pemerintah.

“Kendala besar kita karena memang belum ada mekanisme tersebut di dalam peraturan hukum kita,” kata Warinussy.

Dia berharap ke depan pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan kontribusi bagi pahlawan di bidang olah raga. Menurutnya banyak hal dapat dilakukan secara khusus di tanah Papua dan Papua Barat yang memiliki Undang – Undang Otonomi Khusus (Otsus) seharusnya kebijakan tersebut dapat dijalankan. Diuraikannya, perhatian dapat berupa penggangkatan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan keluarga juga diberikan kelonggaran untuk menjadi ASN.

“Kita berharap ada perhatian pemerintah kepada mereka yang masih hidup namun tidak diperhatikan,” pungkasnya. (PB22/PB1)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: