Antisipasi Makin Banyaknya Ternak Babi Mati

  • Masyarakat Diminta Perketat Bio Sekuriti

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Guna mengantisipasi meluasnya penyebaran penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), yang menyebabkan kematian pada ternak babi di wilayah Kabupaten Manokwari, masyarakat khususnya peternak diminta untuk menerapkan bio sekuriti secara ketat.

“Masyarakat kita jangan lengah. Karena penyakit ini lebih berbahaya dari Covid-19. Walaupun hanya menyerang ternak babi, tapi resiko kematian yang ditimbulkan mencapai 100 persen,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Manokwari Nikson Karubaba di Manokwari, Selasa 27 April 2021.

Menurut Nikson Karubaba, satu-satunya cara untuk mencegah meluasnya penyebaran wabah demam babi Afrika adalah peternak diminta untuk menerapkan bio sekuriti dengan serius yakni dengan mengamankan ternak babi yang berkeliaran ke dalam kandang, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying dengan disinfektan, membatasi dengan ketat lalu lintas orang, barang, bahan dan hewan yang mudah terkontaminasi virus ke dalam kandang termasuk dihimbau tidak menggunakan pakan bekas limbah hotel atau restoran karena diduga menjadi pemicu munculnya wabah ini serta memusnahkan babi yang sudah mati dengan cara dibakar atau dikubur.

“Petunjuk yang disampaikan pemerintah harus dilaksanakan. Ini penting agar babi lokal kita tidak habis,” kata dia

Dia menuturkan, data jumlah kasus kematian akibat virus ASF atau demam babi sampai dengan saat ini sudah mencapai 956 kasus. Data tersebut terhitung sejak kasus pertama yang dilaporkan mulai pertengahan Maret 2021 yang lalu. Penyebaran kasus ASF hampir merata di sejumlah Distrik seperti Manokwari Barat, Tanah Ribuh, Manokwari Timur, Prafi, Manokwari Utara dan Masni.

“Karena penyebarannya hampir merata di seluruh distrik, maka perlu ada proteksi terhadap ternak babi yang ada supaya tidak punah,” kata dia.

Nikson mengatakan, angka kematian ternak babi kemungkinan bisa lebih dari jumlah yang ada saat ini, karena pihaknya belum mengumpulkan data secara baik. Hal tersebut ditambah dengan belum ada laporan yang diterima dari beberapa distrik lainnya.

“Jika data sudah terhimpun baik, maka kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Saat ini kami juga sudah menerima laporan dari Distrik Sidey. Tetapi kami belum turin untuk lakukan pendataan,” ungkapnya.

Dengan mempertimbangkan semakin bertambahnya angka kematian ternak babi saat ini, pihaknya berinisiasi untuk mengalihkan anggaran yang semula direncanakan untuk mendatangkan bibit babi kepada masyarakat untuk penanganan virus ASF. Padahal, pihaknya sudah menganggarkan pengadaan 75 ekor bibit ternak babi dengan nominal anggaran senilai Rp 315 juta.

“Jadi tahun ini tidak ada pengadaan karena memang kehadiran virus ini. Jangan sampai kita datangkan lalu mati. Apabila keadaan sudah kembali normal, masyarakat dapat mengusulkan pengadaan ternak babi melalui Musrembangdes pada kesempatan berikut,” pungkasnya. (PB25)

 

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 29 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: