Cakupan Vaksinasi Tiga Kabupaten di Papua Barat Sangat Rendah

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Cakupan vaksinasi Covid-19 pada tiga kabupaten di Provinsi Papua Barat yakni Pegunungan Arfak, Tambrauw dan Maybrat masih sangat rendah. Hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi pemerintah provinsi setempat.

Hingga 14 September 2021, vaksinasi dosis pertama di Pegunungan Arfak baru 0,4% dan dosis kedua 0,2%, Kabupaten Tambrauw dosis pertama 4,4% dan dosis kedua 1,9% serta Kabupaten Maybrat dosis pertama 5,1% dan dosis kedua 4,2%.

Padahal, pemerintah telah menargetkan capain vaksinasi masing-masing kabupaten/kota adalah 70% dari total penduduk.

“Ini pekerjaan rumah bagi gugus tugas, Dinas Kesehatan, ya pemerintah daerah,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Papua Barat dr Arnold Taniap saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (15/9/2021).

Menurut dia, sosialisasi manfaat vaksin yang melibatkan tokoh agama dan tokoh adat menjadi solusi atas rendahnya cakupan vaksinasi di tiga kabupaten tersebut. Langah itu akan meningkatkan minat masyarakat dalam mengikuti vaksinasi.

“Partisipasi denominasi gereja ini belum banyak, memang ada sebagian yang sudah terlibat,” tutur dia.

Selain itu, dukungan dari TNI/Polri, lembaga pemerintah lainnya dan lembaga swasta sangat diperlukan. Pelaksanaan vaksinasi dengan sistem ‘jemput bola’ harus digencarkan agar target cakupan berjalan sesuai harapan pemerintah daerah setempat.

“Dalam situasi pandemi ini keselamatan masyarakat jadi hukum tertinggi. Kalau boleh ya sedikit pemaksaan dengan cara yang halus, misalnya di Jakarta itu masuk mall harus tunjuk kartu vaksin,” tegas dia.

Arnold mengakui bahwa, masih banyak masyarakat khususnya orang asli Papua enggan mengikuti vaksinasi. Kondisi ini dipicu oleh berbagai informasi hoax tentang vaksin serta rendahnya pengetahuan masyarakat itu sendiri.

“Kalau masyarakat menolak, sangat mengkhawatirkan. Sebab, vaksin ini memberikan perlindungan terhadap ancaman penularan virus,” jelas dia.

Ia memprediksi, persentase orang asli Papua yang mau mengikuti layanan vaksinasi massal dari pemerintah daerah, hanya 20 persen.

“Baik itu di fasilitas kesehatan atau di acara vaksinasi massal lainnya,” ucap Arnold.

Dirinya kerap mengimbau agar orang asli Papua tidak perlu khawatir dengan efek vaksin. Sebab, manfaat vaksin adalah meningkatkan kekebalan tubuh supaya dapat menekan penularan virus korona.

Contohnya, masyarakat Papua ataupun non Papua yang sudah menerima vaksin terbukti tetap sehat.

“Dalam satu vial itu 10 kali suntikan dan siapa saja yang datang disuntik. Kecuali ada vial vaksin untuk OAP beda dengan non OAP, nah itu baru patut dicurigai,” papar Arnold.

Sebelumnya, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menuturkan, pemerintah akan mencari formula yang ampuh dalam menyosialisasikan vaksinasi di tiga kabupaten. Pelibatan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat di masing-masing kabupaten juga menjadi alternatif dalam mendorong masyarakat mengikuti vaksinasi. Selain itu, pemerintah juga melibatkan TNI/Polri dalam menggenjot vaksinasi di tiga kabupaten yang masih sangat rendah.

“Kita lagi cari waktu yang tepat untuk melaksanakan,” tutup Dominggus.

Dinas Kesehatan Papua Barat melaporkan, cakupan vaksinasi secara keseluruhan per 14 September 2021 untuk dosis pertama mencapai 28,2% atau sekitar 224.670 sasaran dan dosis kedua 16,6% atau sebanyak 132.415 sasaran.

Apabila ditinjau per kabupaten/kota, maka Kabupaten Manokwari menjadi yang tertinggi dengan capaian vaksinasi dosis pertama 49,4% atau 65.613 sasaran dan dosis kedua 29,2% atau 38.819 sasaran.(PB15)

**Berita ini Diterbitkan di harian Papua Barat News Edisi Kamis 16 September 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: