Jumlah WNA di Manokwari Capai 111 Orang

MANOKWARI, papuabaratnews.co Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II Non TPI Manokwari mengungkapkan, jumlah warga negara asing (WNA) yang melakukan perpanjangan izin tinggal di Manokwari sebanyak 111 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari rohaniawan 15 orang, izin tinggal kerja di perusahaan dan lembaga sebanyak 88 orang.

“Dan juga izin tinggal keluarga sebanyak 8 orang,” ujar Kepala Kanim Kelas II Non TPI Manokwari Bugie Kurniawan di Manokwari, Jumat pekan lalu.

Ia menerangkan, WNA yang memperpanjang izin tinggal tersebut pada periode Juni 2020 terbagi menjadi dua bagian yaitu Izin Tinggal Permanen (ITP) dan Izin Tinggal Sementara (ITS).

Jumlah pengurusan ITP didominasi oleh WNA yang bertugas sebagai rohaniawan 10 orang yakni sponsor Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) 8 orang, dan sponsor saksi-saksi Yehuwa Indonesia sebanyak 2 orang.

“Sedangkan ada tujuh orang yang memperpanjang ITP sebagai keluarga,” jelas Bugie.

Sedangkan pengurusan ITS didominasi oleh WNA dengan tujuan kedatangan sebagai tenaga kerja perusahaan dan lembaga yaitu sebanyak 87 orang. Mereka tersebar di PT SDIC Papua Celeng Indonesia sebanyak 81 orang, PT Ying Yan Sejahtera sebanyak 2 orang, PT Longkelai Hijau Bersama 1 orang, PT MCC Seventeen ada 1 orang, PT Pahala Juantong Fishery 1 orang dan Universitas Papua juga 1 orang.

“Sisanya adalah mereka yang memperpanjang ITS sebagai rohaniawan GPKAI dan juga sebagai keluarga,” kata dia.

Bugie menambahkan WNA yang saat ini berada di Manokwari berasal dari berbagai negara yaitu, Chinayang , Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Ekuador, Filipina, Kanada dan Britania Raya.

“Dari semua WNA yang ada ini, WNA asal China menjadi yang terbanyak di Manokwari,” pungkas Bugie.

Diberitakan media ini sebelumnya, Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Manokwari berkomitmen akan perketat pengawasan terhadap WNA dengan menggandeng sejumlah instansi terkait di wilayah kerjanya.

Tujuannya untuk memudahkan koordinasi dan mendapatkan informasi keberadaan serta aktivitas WNA tersebut.

“Ini kami lakukan agar dapat mengantisipasi pelanggaran peraturan keimigrasian di masa tatanan normal baru ini,” kata Bugie Kurniawan.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II BKSDA Papua Barat, Glen Eric Kangiras, menuturkan, pengawasan terhadap WNA memerlukan sinergitas dan kolaborasi lintas sektor terkait. Selain itu, Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) harus jeli memantau WNA yang melakukan aktivitas travelling ataupun penelitian.

Ia melanjutkan, WNA yang datang sebagai turis adalah kelompok atau individu yang perlu mendapatkan pengawasan lebih, karena ada indikasi mereka melakukan observasi dan mengambil gambar tidak saja terkait tata kehidupan masyarakat lokal, tetapi juga mengeksplorasi peninggalan-peninggalan sejarah yang tidak masuk dalam obyek wisata yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Glen Eric, komposisi Tim PORA yang ada saat ini belum merepresentasikan seluruh kalangan yang berhubungan dengan keberadaan dan kegiatan WNA di Manokwari khususnya dan Papua Barat umumnya.

“Kalau perlu kita libatkan Dinas Pariwisata dalam Tim PORA ini,” tutup Glen Eric. (PB25)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: