Kenakan Masker, Jangan Buat Orang Lain Tertular Covid-19

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Imbauan keras mengenakan masker sudah ada sejak jauh-jauh hari. Namun, belum semua orang patuh. Hal ini dipengaruhi persepsi risiko publik terhadap Covid-19. Jika persepsi risikonya tinggi, kesadaran bermasker akan tinggi. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Husein Habsyi, masker bukan sekadar alat perlindungan diri dari virus. Mengenakan masker sama dengan melindungi kesehatan orang lain.

”Kami menekankan bahwa semua masyarakat bertanggung jawab. Jangan sampai karena kita tidak disiplin menggunakan masker, orang lain malah tertular karena kita. Sebab, ada pula orang yang terinfeksi Covid-19, tetapi tidak bergejala,” kata Husein dikutip Kompas.id, Selasa (21/7/2020).

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan ada 40 persen pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala sakit. Adapun potensi terinfeksi dari suspek tanpa gejala ialah 75 persen.

Edukasi bahwa mengenakan masker sama dengan melindungi orang lain perlu dilanjutkan. Dengan edukasi menerus, menurut Husein, kesadaran publik akan tumbuh dan dijalankan. Semua orang perlu terlibat untuk mengingatkan satu sama lain.

Pilihan

Kenyataannya, pesan untuk menjaga kesehatan bersama dengan masker ditanggapi berbeda oleh tiap individu. Ada yang meyakininya sebagai kewajiban hingga pandemi selesai. Ada juga yang berpendapat bahwa bermasker ialah pilihan pribadi.

Presiden AS Donald Trump, misalnya, dikenal resisten terhadap masker. Mengutip Reuters, April lalu, Trump berkata bahwa ia tidak bisa membayangkan dirinya mengenakan masker sambil menyapa para pejabat dunia. Trump juga disebut tidak ingin memberi kepuasan kepada jurnalis dengan memakai masker.

Trump berpendapat, mengenakan masker adalah masalah pilihan personal. Trump, seperti diberitakan BBC, bahkan melakukan manuver politik dengan berjanji tidak akan mewajibkan warga AS memakai masker.

Bias perspektif terhadap masker juga terjadi di Indonesia. Sejumlah pihak berpendapat bahwa ini terjadi karena ketidaktegasan pemerintah mewajibkan protokol kesehatan. Peraturan yang berubah-ubah juga membingungkan masyarakat.

Survei dari gerakan warga Lapor Covid-19 dengan Social Resilience Lab Nanyang Technologial University (NTU) Singapura menyatakan, warga apatis terhadap pandemi. Survei ini dilakukan pada 29 Mei-20 Juni 2020 terhadap 154.471 warga DKI Jakarta. Sebanyak 77 persen responden yakin bahwa kemungkinan tertular Covid-19 relatif kecil.

Kebutuhan dan keyakinan

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Derajad S Widhyharto, mengatakan, ada dua faktor yang memengaruhi perilaku seseorang dan keputusan mengenakan masker. Keduanya ialah kebutuhan untuk menjadi sehat dan keyakinan bahwa bermasker merupakan tindakan bermanfaat.

”Kedua faktor itu ada di ranah personal. Ada satu lagi faktor yang memengaruhi perilaku, yakni (opportunity) peluang yang adalah respons individu atas rekomendasi atau perilaku orang di sekitarnya. Faktor ini dipengaruhi lingkungan dan peraturan yang berlaku,” ujar Derajad.

Perilaku kolektif untuk mengenakan masker hanya bisa terjadi jika faktor kebutuhan, keyakinan, dan peluang terpenuhi. Walaupun seseorang memenuhi dua faktor pertama, usahanya melindungi bisa gagal karena lingkungan tidak mendukung.

”Seseorang bisa saja mengenakan masker karena butuh dan sadar akan kesehatan. Namun, usahanya akan sulit jika tidak didukung lingkungan yang menerapkan perilaku sama,” kata Derajad. (KOM/RED)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: