Longsor dan Banjir Terjang Kota Sorong

  • Tiga orang meninggal

SORONG, papuabaratnews.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong menyatakan sebanyak tiga orang meninggal dunia karena dampak longsor dan banjir akibat hujan deras yang melanda daerah itu, Kamis (16/7/2020).

Kepala BPBD Kota Sorong Herlin Sasabone saat dikonfirmasi di Sorong, Kamis malam membenarkan bahwa dari laporan sementara tim di lapangan tiga orang dikabarkan meninggal dunia.

“Dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun longsor dan satu orang meninggal dunia akibat tersengat arus listrik akibat hujan deras disertai petir yang melanda kota Sorong sejak pukul 18.00 WIT,” katanya.

Ia menambahkan dua orang korban meninggal dunia saat ini sedang berada di Rumah Sakit Herlina dan seorang korban meninggal dunia di Rumah Sakit Mutiara.

Menurut dia, BPBD kota Sorong belum mendapatkan data pasti korban luka-luka, tetapi dari laporan sementara tim di lapangan terdapat tiga orang luka-luka yang dirawat di Rumah Sakit Herlina.

Dikatakannya bahwa berdasarkan data lapangan yang diterima, tiga orang yang mengalami luka-luka tersebut dua orang akibat longsor dan satu orang akibat jatuh dari lantai dua rumahnya karena menyelamatkan barang-barang penting.

“Kami masih menunggu laporan lebih lanjut tentang korban luka-luka dan jumlah rumah yang terendam banjir di Kota Sorong,” demikian Herlin Sasabone.

Pantauan Papua Barat News, hanya kurang lebih empat jam diguyur hujan deras Kota Sorong nyaris jadi lautan. Ruas jalan panjang Km.14 hingga Kampung Salak, Kota Sorong mengalami banjir parah. Juga di beberapa titik seperti sekitar Jalan Nuri dan HBM ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

Sejumlah warga yang ditemui Koran ini memberikan keterangan berbeda terkait penyebab banjir dan longsor itu. Ada yang menyebut karena faktor sampah yang tidak diurus dengan baik, pemerintah seolah menutup mata terhadap permasalahan saluran air. Namun ada yang mengatakan karena aktivitas galian C di Kota Sorong yang terkesan masih terus dibiarkan.

Sebagian kalangan juga menyebut soal pembangunan yang tidak mengindahkan dampak lingkungan. Baik bangunan ruko, hotel dan bangunan jumbo lainnya diduga diberikan izin membangun meski tanpa memperhatikan dampak lingkungan.

Banjir di kota tercinta ini dapat dikategorikan sebagai penyakit komplikasi. Soal penanganan sampah misalnya, kabarnya sudah ada anggaran yang sudah dialokasikan untuk fokus mengatasinya, namun faktanya bisa dilihat kasat mata. Pemandangan indah sampah bisa dinikmati dimana- mana. Padahal, jika sampah ini ditangani dengan baik Kota Sorong tentu menjadi kota yang bersih dan mengurangi resiko banjir,” ungkap seorang warga yang enggan namanya dikorankan.

Dia juga mengatakan, terkait galian C, sampai saat ini hanya segilintir orang yang diuntungkan dalam usaha ini. Sementara kebanyakan warga yang dirugikan karena terkena dampaknya.

“Usaha galian C di Kota Sorong ini seperti siluman. Ijinnya tidak jelas tapi aktivitasnya terlihat jelas. Apakah mereka (pengusaha galian C, red) sudah mengantongi AMDAL yang benar? Itu juga patut disangsikan,” katanya lagi. (PB7/ANT)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: