Nama Pejabat Daerah Disebut dalam Sidang Pembunuhan Sumiati

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Deni Indou, terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Sumiati Simanullang, langsung menjalani persidangan beragendakan pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Manokwari, Selasa 16 Maret 2021. Dalam kasus ini, Deni Indou didakwa pasal pembunuhan berencana.

Pada persidangan tersebut, Jaksa Penuntut umum Kejaksaan Negeri Manokwari Benony Kombado menghadirkan sejumlah orang saksi, salah satunya ialah Natan Siahaan, suami dari almarhumah Sumiati Simanullang. Berikut fakta yang muncul dalam persidangan kemarin.

Di hadapan Ketua Majelis Hakim Sonny A.B Laoemoery, saksi Natan Siahaan mengaku, mengetahui Motor milik istrinya, yakni Yamaha Fino PB 4123 ML, sering terparkir dalam halaman rumah milik seorang pejabat daerah. Motor itu terparkir berdekatan dengan mobil Pajero berplat nomor PB 1824 ML.

“Dua kendaraan itu sering terparkir bersamaan di sebuah sebuah rumah yang letaknya tidak jauh (belakang) dari rumah saya. Awalnya saya tidak tahu itu rumah siapa, tapi setelah saya bertanya-tanya, ada tetangga bernama Gultom, dia menyebut bahwa rumah itu milik Ever Dowansiba,” kata Natan.

Natan menjelaskan, bahwa sebelumnya ia tidak mengetahui kalau motor istrinya sering terparkir di halaman rumah tersebut. Ia baru mengetahui hal itu setelah Karlos, seorang tetangganya menunjukan sejumlah foto keberadaan kendaraan istrinya biasa terparkir. Berdasarkan foto itu, ia pun sering memantau halaman rumah tersebut, setiap kali pulang bekerja.

Dalam persidangan itu, Natan juga mengungkapkan, bahwa sikap serta kebiasaan istrinya memang telah berubah sejak 2019, mulai dari jam pulang yang selalu malam, hampir tak pernah berada di rumah bersama dirinya dan anak-anak selama waktu libur, dan kerap memberikan berjuta alasan ketika berada di luar rumah.

Natan pun curiga dan mulai sering memantau keberadaan istrinya ketika berada di luar rumah saat bukan jam kerja di Puskesmas. Salah satunya ialah memantau keberadaan motor milik istrinya yang terparkir di halaman rumah pejabat daerah itu.

Natan juga menerangkan sempat bertanya kepada istrinya perihal hubungannya dengan pejabat daerah itu. Sebab, ia curiga lantaran motor milik istrinya setiap kali terlihat parkir dalam halaman rumah itu, apalagi istrinya selalu pulang lewat dari jam kantor. Sayang, pertanyaannya itu pun selalu dijawab dengan berjuta alasan.

“Saya jadi berpikir, ada apa? Ada hubungan apa antara istri saya dengan orang Papua di situ. Apakah hubungan kerja?,” ujar Natan. “Istri saya kerja di Puskesmas, tapi jam pulangnya selalu malam. Dari situ saya curiga, selalu saya bertanya, namun berjuta alasan yang dia (istrinya) berikan. Dan pada akhirnya saya tahu, dia berbohong,” katanya lagi.

Hand phone korban hilang

Sumiati Simanullang ditemukan tewas pada 7 Maret 2020, empat hari sebelumnya korban dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Selama empat hari pencarian, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan.

Jasadnya ditemukan di tepi jalan setapak kawasan Sowi Gunung yang sebenarnya masih dalam kawasan kediaman korban. Jasad Sumiati Simanullang ditemukan mulai membusuk karena dipenuhi banyak belatung. Tak jauh dari situ, masih terparkir motor milik korban lengkap dengan kunci dan helm, namun tidak dengan handphone milik korban.

Dari rangkaian peristiwa, keterangan saksi dan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), hand phone milik korban tetap tidak ditemukan. Ini diakui oleh saksi Natan Siahaan saat ditanya oleh ketua Majelis Hakim. Saksi bahkan mengaku, bahwa tak ada dari pihak manapun yang menemui dirinya, dan bertanya dimana keberadaan hand phone milik istrinya.

Menurut ketua Majelis Hakim, fakta jasad korban ditemukan, namun tidak dengan handphone korban. Sebab, secara kebiasaan, handphone seharusnya selalu berada bersama korban. Namun, mulai olah TKP sampai akhirnya jasad korban berada di kamar jenazah, hand phone korban masih tetap tidak ditemukan.

“Benar yang mulia. Hand phone istri saya tidak ditemukan, dan tidak ada dari pihak manapun yang bertanya tentang hand phone istri saya, atau mencoba mengembalikan kepada saya. Yang mulia, saya sendiri tidak tahu dimana hand phone istri saya. Hilang,” terang Natan pada majelis hakim.

Inisiatif permohonan maaf

Usai Deni Indouw ditetapkan sebagai tersangka oleh jajaran Reskrim Polres Manokwari, sejumlah orang (keluarga terduga pelaku) bersama tokoh adat mendatangi Natan Siahaan di kediamannya. Mereka bermaksud meminta maaf atas kejadian yang menimpa istrinya, dan agar ada perdamaian antar kedua belah pihak.

Dalam pertemuan itu, keluarga Deni Indou membawa Noken, perhiasan dari manik-manik dan sejumlah uang. Namun Natan menolak pemberian itu. Sebab, menurutnya, nyawa istrinya tidak bisa digantikan dengan uang atau pemberian. Apapun kesalahan istrinya, kata Natan, dia tidak berhak untuk dibunuh.

Natan menjelaskan, bahwa kedatangan tokoh adat dan pemberian hadiah termasuk uang itu bukan atas permintaannya. Sebab, sebagai umat Kristiani, dari awal ia telah memaafkan pelaku pembunuh istrinya.

“Mereka datang karena niat baik, bukan atas permintaan saya. Perlu diingat, sebelum dia (terdakwa) melakukan itu, saya sebagai umat Kristiani sudah memaafkannya dan tidak pernah menuntut apa-apa selain proses hukum,” kata Natan dalam persidangan. (PB13)

 

Berita ini telah terbit di Harian Papua Barat News edisi Rabu 17 Maret 2021’

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: