PLN Genjot Pembangunan Kelistrikan Desa di Papua Barat

MANOKWARI, papuabaratnews.co – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) area Papua Barat terus menggenjot pembangunan listrik desa di daerah itu, yang ditargetkan rampung pada 2020.

Manager Unit Pelaksana Proyek Kelistrikan (UPPK) Papua Barat Humbert Rumbekwan mengatakan ada 102 kampung di Papua Barat dan 3 kampung di Dogiyai, Papua yang yang ditargetkan rampung dalam tahun ini.

“Kami optimistis sebelum  2020 berakhir, program pembangunan listrik desa di 102 kampung itu bisa dilaksanakan sesuai target,” kata Rumbekwan saat ditemui Papua Barat News di Manokwari, Kamis (16/7/2020).

Humbert menyebutkan pihaknya sementara mempersiapkan pelaksanaan program listrik desa di 21 kampung yang ada di Papua dan Papua Barat. Sebanyak 20 kampung berada di Papua Barat yaitu 13 kampung di Kabupaten Maybrat, 6 kampung di Kaimana, 1 kampung di Fakfak, dan 1 kampung lainnya berada di Kabupaten Dieyai, Papua.

“Prioritas kami adalah kampung-kampung sudah terhubung dengan jaringan listrik, sehingga begitu selesai dikerjakan bisa langsung menyala. Kampung-kampung ini umumnya ada di Kabupaten Maybrat, Fakfak dan Dieyai,” ungkapnya.

Sementara 6 kampung yang ada di Kabupaten Kaimana menurut Humbert akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), karena berada di pulau-pulau sehingga sulit dijangkau jaringan listrik.

“Saat ini panel-panel untuk PLTS itu sedang dalam proses pengiriman ke Kaimana. Kami berharap proses pengirimannya lancar dan begitu tiba disana bisa segera dipasang,” katanya.

Humbert juga mengatakan PLN juga berencana dalam waktu dekat akan melakukan survei di 40 kampung lain di Papua Barat terkait program pembangunan listrik desa. Kampung-kampung itu antara lain 7 kampung di Kabupaten Tambrauw, 5 kampung di Kaimana, 3 kampung di Fakfak, 1 kampung di Pegunungan Arfak, dan 24 kampung lain di Kabupaten Maybrat.

“Data 40 kampung ini adalah data yang kami peroleh dari Kementerian Dalam Negeri, dan kami ditargetkan untuk menyelesaikan program pembangunan listrik desa di kampung-kampung itu dalam tahun ini juga,”  katanya.

Humbert mengaku masih banyak kampung yang belum menikmati listrik, hanya saja belum didata dengan baik. Terkait hal itu, kata dia, pihaknya saat ini masih memfokuskan perhatian pada kampung-kampung yang jadi prioritas program listrik desa.

“Kami fokus dulu dengan kampung yang sudah terdata. Untuk yang belum terdata, kami mengharapkan dukungan pemerintah daerah untuk melakukan pendataan, karena mereka yang lebih tahu kondisi daerahnya masing-masing. Kampung-kampung mana yang sudah teraliri listrik dan mana yang belum. Informasi itu yang seharusnya disampaikan kepada kami untuk kemudian ditindaklanjuti,” jelasnya.

Ia mengaku kendala utama yang saat ini menghambat percepatan program listrik desa di Papua Barat adalah pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemic Covid-19 menyebabkan mobilisasi ke daerah-daerah menjadi lebih sulit.

“Karena akses transportasi dibatasi, maka transportasi alternatif adalah perjalanan darat. Ini sudah membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang sedikit lebih mahal,” ujarnya.

Selain pandemi Covid-19, kata Humber, jarak kampung dan daerah yang berjauhan satu dengan lainnya, serta faktor cuaca dan gelombang terutama di wilayah perairan seperti di Kaimana, ikut menghambat program kelistrikan desa di Papua Barat.

“Kondisi ini menyebabkan akses transportasi untuk menuju ke kampung-kampung jadi sulit dan mahal. Hal itu menjadi hambatan utama bagi kami mempercepat pelaksanaan program ini,” ujarnya.

Diketahui data rasio elektrifikasi listrik desa di Papua Barat, sesuai data Pemprov Papua Barat sudah mencapai 96,57 persen. Sementara data Pemprov Papua untuk Kabupaten Dieyai, Dogiyai, Paniai, Intan Jaya, dan Nabire sudah mencapai 99,63 persen.

“Perhitunganya seperti itu karena katagori desa berlistrik menurut pemerintah itu dihitung berdasarkan listrik PLN, bantuan pemerintah, dan juga swadaya masyarakat. Sementara data PLN sendiri tentang desa yang sudah teraliri listrik di Papua Barat itu baru mencapai 43,11 persen dari total 1.837 kampung. Kalau untuk 5 kabupaten di Papua itu baru mencapai 19,82 persen dari total 545 kampung,” paparnya. (PB1)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: