Vaksin Covid-19 Jadi Obat Pelepas Rindu

Saya rindu sekali dengan anak-anak. Sudah tidak sabar mau bertemu mereka lagi. Satu tahun ini rasanya berat sekali. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan melalui zoom,” ujar Robertus Mujiana.

 

Laporan: Samuel Sirken, Manokwari

 

ROBERTUS Mujiana (45), guru kelas 6 di SD YPPK Santa Sisilia Manokwari, sudah tak sabar ingin divaksin Covid-19. Ketika warga berusia di atas 60 tahun, warga berprofesi guru, pedagang, dan sopir taksi mendapat giliran divaksin, Robertus dan teman-teman gurunya segera mendaftar di tempat vaksinasi layanan yang buka selama tiga hari di Gedung Wanita, Jalan Percetakan, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.

Ia berharap, setelah divaksin, ia bisa segera bertemu lagi dengan murid-muridnya di sekolah. “Saya rindu sekali dengan anak-anak. Sudah tidak sabar mau bertemu mereka lagi. Satu tahun ini rasanya berat sekali. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan melalui zoom,” ujarnya.

Antrean panjang vaksinasi massal kembali terlihat pada dua hari berikutnya. Sebelum mengantre, warga harus mendaftar terlebih dahulu dan dalam sehari bisa ribuan orang divaksin.

Munir Kasim (64), karyawan swasta, gelisah tak sabar menunggu giliran divaksin. “Saya tak sabar bermain kartu dengan teman-teman. Sudah lama tidak ketemu mereka,” katanya.

Munir menyadari pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Karena itu, dirinya sangat bersyukur dengan adanya program vaksinasi massal tersebut. “Pemerintah tentu saja menginginkan masyarakatnya tetap sehat dan luput dari bahaya Covid-19,” ujarnya.

Munir mengaku tidak begitu tahu manfaat dari vaksin Covid-19 ini. Selama ini, yang ia tahu, kasus Covid-19 semakin melonjak di Manokwari. Selain itu, ia menganggap vaksin juga bisa membuatnya lebih sehat. ”Yang penting vaksin dulu. Katanya, biar lebih sehat dan tidak gampang sakit kalau kena virus. Lagian gratis,” ucapnya terkekeh.

John Mare (33), karyawan swasta lainnya mengatakan, dirinya secara sadar bersedia divaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan Covid-19. Selain itu, perusahaan tempatnya bekerja juga mengharuskan seluruh karyawan divaksin guna menjaga kemungkinan penularan dalam lingkungan kerja sehari-hari. “Saya bersama kawan-kawan datang secara bergilir. Ada juga yang besok,” ujar karyawan salah satu hotel di Manokwari itu.

Dengan pekerjaan bertemu banyak orang, ia tidak ingin sakit dan terkena Covid-19. Jika terkena virus pun, ia ingin tetap sehat dan kembali bisa beraktivitas normal. Ia percaya vaksin bisa membuatnya lebih sehat.

Belum lagi dengan banyaknya informasi yang beredar jika untuk mengurus surat-surat di pemerintahan, harus memiliki kartu vaksinasi. Itu juga yang menjadi salah satu faktor utama yang membuat langkahnya ringan melangkah. ”Nanti tidak dapat bantuan lagi nantinya,” ujarnya.

Sejak Februari lalu, Indonesia menggenjot program vaksinasi paling masif sepanjang sejarah. Sejumlah fasilitas kesehatan yang sudah direkomendasikan pemerintah dijadikan tempat vaksinasi massal bagi masyarakat.

Pada awal-awal program vaksinasi, ketika baru tenaga kesehatan (nakes) saja yang divaksin, prosesnya berjalan lamban dan menuai kritikan. Pemerintah beralasan ada kendala teknis pada prosedur pelaksanaan registrasi, kekurangan tenaga medis yang memvaksin, dan distribusi vaksin yang tersendat.

Robertus Mujiana, yang sudah divaksin lengkap mengaku, sampai sekarang ia tidak merasakan efek samping apapun. “Saya tidak merasakan adanya efek samping. Meskipun awalnya agak kuatir dengan karena mendengar dan membaca informasi tentang resiko jika divaksin,” ujarnya.

Sebelum memutuskan untuk vaksin, Ketua KIPI Komda Papua Barat Rio Indiarso, mengingatkan perlunya membekali diri dengan informasi lengkap tentang vaksin Covid-19, termasuk keamanan dan risikonya.

Rio mengatakan, pihaknya terus memantau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Papua Barat, sejak pencanangan vaksinasi tahap pertama. Dia memastikan tidak ada kejadian ikutan pasca vaksinasi yang sifatnya serius.

“Kejadian ikutan pasca imunisasi sangat jarang, biasanya ada keluhan-keluhan yang biasa,  seperti suntikannya,  siapapun yang disuntik itu pasti ada rasa nyeri,  bekas suntikan,  kadang bengkak,  ada merah,  itu normal,  biasa kalau anak-anak kita diimunisasi juga demikian itu masih normal,” tuturnya.

Ia menambahkan, kejadian ikutan selama pasca imunisasi yang ringan-ringan saja, untuk lansia tenaga kesehatan juga sama keluhannya kebanyakan yang berhubungan dengan suntikan,  bukan dengan vaksinnya,  jadi kalau disuntik terasa nyeri  itu wajar,  ada yang rasa mengantuk itu juga normal tapi yang berhubungan dengan vaksin tidak ada.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat Otto Parorongan mengatakan, pihaknya bersama instansi lain, termasuk TNI dan Polri mengupayakan agar vaksinasi di Papua barat terus digiatkan. Hal itu ditujukan agar masyarakat, utamanya kelompok rentan, lebih terjaga di tengah pandemi yang terus mengganas.

Parorongan menambahkan, vaksinasi penting untuk menjaga kekebalan tubuh warga, terutama ketika terpapar Covid-19. Terlebih lagi, kasus positif Covid-19 di Papua Barat turut melonjak beberapa pekan terakhir. (*)

 

**Berita ini Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Jumat 25 Juni 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: