PLN UIP Salurkan Bantuan Pemberdayaan Anak Papua

JAYAPURA, papuabaratnews.co – PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku Papua menyalurkan bantuan empat program pemberdayaan untuk anak Papua.

Empat program itu adalah pendirian bank sampah di Skouw Mano, peternakan ayam petelur bagi perempuan di Arso VIII, pengolahan pinang di Koya Tengah dan pengembangan topi khas Papua di Kampung Harapan.

Total bantuan dalam bingkai PLN Peduli yang disalurkan itu sebesar Rp320 juta. Penyerahan dana program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) itu dilakukan secara simbolis oleh Senior Manager Perizinan, Pertanahan & Komunikasi PLN UIP Maluku Papua Achmad Ismail, pada Senin (26/4/2021).

Melalui rilis pers yang diterima Papua Barat News di Manokwari, Selasa (27/4/2021), Achmad mengatakan bahwa PLN terus menjaga komitmen untuk menjalankan program yang bersifat berkelanjutan.

Untuk itu PLN mengandalkan kaum muda Papua yang notabene memiliki semangat dan kegigihan dalam mengelola program-program ini secara konsisten.

“Meskipun program ini tidak bisa tumbuh dan berbuah dalam tempo yang singkat, namun ketika berbuah manfaatnya bisa bertahan lama dan dirasakan oleh banyak orang,” ujar Achmad.

Melalui program TJSL ini, sambung dia, PLN UIP Papua & Maluku memberikan pelatihan, penyerahan bantuan sarana dan prasarana, serta melakukan pendampingan hingga kelompok tersebut dapat mandiri dalam mengembangkan usahanya masing-masing.

Elia Musa Rawar, selaku pendamping empat kelompok pemuda menyatakan, optimalisasi potensi alam dan budaya dengan melibatkan peran pemuda merupakan hal yang positif dan perlu didorong. Sehingga, produk yang dihasilkan dapat mengedepankan prinsip ekonomi sirkular.

“Sewaktu saya mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, saya memperhatikan sistem di sana berjalan dengan sangat baik. Saya ingin hal itu bisa kita mulai dari Jayapura,” jelas Elmus, sapaan akrabnya.

Sementara itu, ketua kelompok pengolahan pinang di Koya Tengah Briggita Debora Hisage mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian PLN Peduli terhadap kaum perempuan.

Selama ini, harga buah pinang untuk satu pohon dibandrol sekitar Rp 20 ribu sampai Rp30 ribu.

Sehingga, diperlukan inovasi dan inisiatif agar para petani pinang memiliki alternatif dalam pengelolaan produk turunan buah pinang.

“Perempuan Papua harus maju, kami berharap dapat mengembangkan bisnis pinang yang umumnya dikelola oleh perempuan agar mempunyai nilai tambah,” tutup Briggita. (RLS/PB15)

 

*Berita ini telah diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 28 April 2021.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: