EKONOMI

25 Unit Pertashop Tersebar di Papua Barat, Optimalkan Pelayanan

MANOKWARI – PT Pertamina MOR VIII Maluku-Papua memperluas akses ketersediaan bahan bakar dengan menempatkan pelayanan pertashop sebanyak 25 unit di Papua Barat.

25 unit pertashop tersebar di Papua Barat tersebar di enam kabupaten, yakni Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Wondama, Kaimana, dan Fakfak.

Sales Branch Manager Depo Pertamina Manokwari, M. Bisma Abdillah menyebutkan selain 25 unit pertashop yang sudah ada, Pertamina akan mendirikan 8 unit pertashop lagi di enam kabupaten tersebut.

“Tahun 2022 rencananya akan dibangun lagi 8 unit pertashop,” ujarnya di Manokwari, Kamis (23/6/2022).

Ia mengatakan, pertashop hadir sebagai lembaga penyalur resmi berskala kecil untuk melayani kebutuhan konsumen akan produk BBM non subsidi yakni pertamax.

Kehadiran pertashop, mendekatkan masyarakat akan layanan kebutuhan BBM, dengan harga, kualitas, dan takaran yang sama seperti di SPBU.

“Keberadaan pertashop di suatu daerah yakni minimal jaraknya 3 – 5 KM dari SPBU.Tentu makin mendekatkan energi ke masyarakat,” ujarnya.

Ia mejelaskan untuk suplai pertamax dan dexlite di setiap pertashop, perharinya sekitar 3 kilo liter tiap jenis BBM yang mana dilihat dari kapasitas tangki nya.

“Saat ini pertashop di enam wilayah ini masih memakai pertashop jenis gold karena lebih ekonomis,” jelasnya

Ia mengungkapkan, pertashop di wilayah timur, realisasi penyalurannya lebih besar dibandingkan dengan wilayah lainnya seperti wilayah barat ataupun tengah.

Dalam pendirian pertashop, lanjut Bisma hal utama yang perlu disiapkan yakni badan usahanya, sertifikat tanah, dan modal yang mencukupi.

“Pertashop didirikan atas nama perusahaan pribadi (perorangan, red). Pembangunan pertashop perijinan awal harus memiliki badan usaha seperti CV ataupun PT, kemudian memiliki titik lokasi dengan sertifikat tanah yang legalitasnya dimiliki orang tersebut, pendiri pertashop harus mampu secara finansial untuk pendirian dan penyaluran BBM,” bebernya.

Setelah beberapa hal tersebut telah dilengkapi, kemudian pihak pertamina melakukan survey di lokasi yang hendak didirikan pertashop. Tak lupa juga perizinan dari kelurahan, IMB, dan ijin lingkungan. Itu adallah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendiri pertashop.

“Biaya mencapai Rp300 juta sampai Rp400 juta sudah meliputi modular atau mesin pertashopnya, biaya instalasi, biaya vabrikator dan sebagainya,” pungkasnya. (CR1)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.