EKONOMI

Aset Perbankan di Papua Barat Capai Rp20,37 Triliun

MANOKWARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat mencatat aset perbankan di daerah tersebut pada triwulan I tahun 2023 sebanyak Rp20,37 triliun atau tumbuh 7,45 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Aset perbankan meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2022,” kata Kepala BI Papua Barat Rommy Sariu Tamawiwy di Manokwari, Jumat.

Ia menjelaskan penyaluran kredit perbankan mencapai Rp15,84 triliun atau meningkat 5,98 persen (yoy) dan 0,34 persen secara kuartal (q-to-q).

Kredit yang disalurkan pada triwulan I 2023 masih didominasi kredit konsumsi sebanyak 58,80 persen, disusul kredit modal kerja 30 persen, dan kredit investasi 11,19 persen.

Dari sisi sektor, kata dia, penyalur kredit perbankan lebih didominasi perdagangan besar dan eceran, pertanian, perburuan dan kehutan, serta sektor konstruksi.

“Kinerja penyaluran kredit tumbuh positif baik secara tahunan maupun triwulanan,” ucap Rommy.

Dia menerangkan rasio kredit bermasalah atau NPL pada triwulan I sebanyak Rp555 miliar atau 3,50 persen dari total penyaluran kredit.

Meski begitu, kondisi NPL perbankan di Papua Barat relatif stabil dan lebih rendah dari NPL triwulan IV 2022 yang tercatat 3,53 persen dan 3,62 persen pada triwulan II 2022.

“NPL masih dalam kondisi aman,” jelas Rommy.

Selain itu, kata dia, masyarakat cenderung menyimpan dana mereka pada perbankan yang tercermin dari nilai dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp16,96 triliun.

Pencapaian DPK triwulan I 2023 mengalami pertumbuhan 13 persen (yoy) jika dibandingkan triwulan I tahun 2022.

Kendati demikian, realisasi DPK triwulan I 2023 terkontraksi 5,59 persen (q-to-q) apabila dibandingkan triwulan IV tahun 2022.

Rommy menuturkan BI sebagai bank sentral terus melakukan berbagai langkah dalam menopang stabilitas sistem keuangan pada masa pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.

Seperti mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility 5 persen, dan suku bunga Lending Facility 6,50 persen.

Sehubungan dengan hal tersebut, BI terus memperkuat respon bauran kebijakan guna menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui beberapa langkah strategis.

Meliputi memperkuat operasi moneter guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter, memperkuat nilai tukar rupiah sebagai upaya pengendalian inflasi, melanjutkan implementasi kebijakan makroprudensial, dan lainnya.

“Intermediasi perbankan harus terus positif untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi,” ujar Rommy. (SWF)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.