BI Papua Barat: Penyesuaian Harga BBM Memicu Inflasi

MANOKWARI – Deputi Kepala perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Eko Listiyono mengatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak memberikan inflasi secara langsung dan tidak langsung.

Diketahui, pasca kenaikan atau penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal bulan September yakni BBM jenis Pertalite mengalami penyesuaian 30,7 persen menjadi Rp10,000 per liter, Solar mengalami penyesuaian sebesar 32,04 persen menjadi Rp6.800 per liter, dan Pertamax mengalami penyesuaian 16 persen menjadi Rp14.500 per liter.

Eko menungkapkan, pihaknya mewaspadai tekanan inflasi di Papua Barat seperti tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan penyesuaian tarif dasar listrik (TDL).

Secara langsung, kata dia, penyesuaian harga BBM akan berdampak pada inflasi harga-harga yang diatur oleh pemerintah seperti BBM dan jasa angkutan umum. Secara tidak langsung, penyesuaian harga BBM tersebut akan berpengaruh terhadap inflasi harga pangan bergejolak.

“Tentu saja hal ini bergantung pada seberapa besar konsumsi BBM di masing-masing daerah,” terangnya saat ditemui diruang kerjanya belum lama ini.

Ia menuturkan, Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Papua Barat telah memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan ketahanan pangan untuk mengatasi kenaikan tekanan inflasi di Papua Barat.

“Bank Indonedia dan TPID Papua Barat akan segera mencanangkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai bentuk komitmen dan upaya penguatan upaya pengendalian inflasi pangan,” tutur Eko.

Menurutnya, program GNPIP ini mengoptimalkan peran seluruh pemangku kebijakan untuk menjaga kesinambungan pasokan, serta mengatur efisiensi rantai distribusi untuk komoditas cabai melalui program tanam cabai dan bawang merah. Selain itu, Bank Indonesia juga mengembangkan budidaya pertanian perkotaan penanaman cabai di lahan pekarangan.

“Untuk menekan dampak langsung dan tidak langsung dari penyesuaian harga BBM, Pemerintah Daerah harus mengintervensi pelaku usaha untuk melakukan pengendalian harga dan menetapkan penyesuaian harga tarif angkutan darat dan laut,” ujarnya.

Ia juga beranggapan bahwa upaya pengendalian inflasi tidak hanya dari Bank Indonesia dan Pemerintah. Untuk itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk turut serta menjaga inflasi Papua Barat.

Menurutnya, masyarakat harus bijak dalam berbelanja, yaitu dengan melakukan perencanaan yang baik dalam berbelanja dan sesuai kebutuhan, melakukan perbandingan harga demi memperoleh harga terbaik.

Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi mengerek inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun ini tembus 6% (year on year/yoy).

Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan penyesuaian harga BBM memberikan dampak second round effect terhadap kenaikan tarif angkutan umum hingga permintaan barang lainnya. Oleh karena itu, kenaikan inflasi akan meningkat pada bulan September.

“Penyesuaian harga BBM, khususnya Pertalite dan solar tidak hanya berdampak langsung tetapi juga tidak langsung. Sehingga akan terjadi second round effect yang berlangsung 3 bulan dan karenanya kemungkinan inflasi akan meningkat,” ucapnya dalam Konferensi Pers rapat dewan gubernur (RDG), Kamis (22/9/2022). (PB19)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: