EKONOMI

BPS Sebut Inflasi di Papua Barat Akibat Naiknya Indeks Kelompok Pengeluaran

MANOKWARI — Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat menjelaskan naiknya sejumlah indeks kelompok pengeluaran menjadi pemicu terjadinya inflasi di daerah itu yang mencapai 3,61 persen secara tahunan (yoy).

“Inflasi ini akibat kenaikan harga indeks pengeluaran kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 2,58 persen,” kata Kepala BPS Papua Barat, Merry dalam press conference Berita Resmi Statistik di Manokwari, Jumat (1/3/2024).

Kelompok lainnya yang turut memicu inflasi yakni transportasi sebesar 0,46 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,24 persen.

Selanjutnya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil sebesar 0,05 persen.

“Penyumbang inflasi sebesar 0,05 persen juga datang dari kelompok  perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, serta  kelompok rekreasi, olah budaya,” ujarnya.

Berikutnya, kata Merry, kelompok kesehatan juga turut menyumbang inflasi 0,04 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,02 persen, serta kelompok pendidikan 0,01 persen.

Ia mengatakan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yoy pada Februari 2024 antara lain beras sebesar 1,09 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,39 persen, sigaret kretek mesin sebesar 0,35 persen, bawang putih sebesar 0,27 persen, dan tomat sebesar 0,19 persen.

“Sebaliknya, komoditas yang turut memberikan andil deflasi yakni beberapa jenis ikan, minyak goreng dan tempe,” kata dia.

Lebih detail, jika dilihat berdasarkan bulan ke bulan (m-to-m) maka inflasi Provinsi Papua Barat pada Februari 2024 berada di angka 0,13 persen.

“Tingkat inflasi bulanan Februari 2024 ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, tetapi berbanding terbalik dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami deflasi,” jelasnya.

Merry menyebut, naiknya sejumlah indeks kelompok pengeluaran menjadi pemicu terjadinya inflasi di Papua Barat secara bulanan (m-to-m) antara lain kelompok transportasi sebesar 0,08 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,03 persen.

Selanjutnya kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta kelompok perawatan pribadi dan lainnya dengan andil sebesar 0,01 persen.

“Selain tiga kelompok pengeluaran tersebut, kelompok pengeluaran lainnya tidak memberikan andil inflasi secara bulanan,” kata dia.

Adapun komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi secara bulanan pada Februari 2024 antara lain beras sebesar 0,13 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,08 persen, ikan cakalang 0,07 persen, bayam sebesar 0,05 persen, dan bawang putih sebesar 0,04 persen.

“Sementara komoditas yang turut memberikan andil deflasi antara lain sejumlah jenis ikan, minyak goreng dan tempe,” kata Merry.

Sementara itu, Penjabat Gubernur Papua Barat Ali Baham Temongmere yang hadir pada kesempatan itu menanggapi kenaikan inflasi yang dipicu sejumlah kenaikan harga sejumlah komoditas antara lain beras, angkutan udara dan beberapa jenis ikan.

Ia berujar angka yang disampaikan oleh BPS merupakan kondisi reel di daerah setempat. Sebab itu jajaran OPD perlu menindaklanjuti dengan memaksimalkan realisasi program dan kebijakan untuk menekan laju inflasi.

Dia menegaskan segera menginstruksikan jajaran untuk mengintesifkan operasi pasar dan memberikan pemahaman kepada para pedagang. Sehingga bisa mendorong peningkatan daya beli masyarakat.

“Kita tidak boleh pesimis, ini data sangat bermanfaat kita optimalkan. Tim TPID harus bisa membaca dan memahami data ini. Harus bisa memetakan permasalahan, lalu mengambil langka yang perlu untuk mengatasinya,” kata Ali Baham Temongmere. (sem)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.