EKONOMI

Dapur tak Lagi Ngebul karena Beras Mahal

JAKARTA – Kenaikan harga beras makin terasa dampaknya bagi kalangan masyarakat bawah. Harga beras saat ini dianggap sudah terlalu mahal sehingga membuat masyarakat kalangan bawah harus menyiasati kenaikan harga beras dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Hasan (58 tahun), pekerja harian lepas di Bandar Lampung, mengaku tak mampu lagi membeli beras untuk hidupnya bersama istri. Harga beras kualitas super di warung sudah mencapai Rp 16 ribu per kg dan beras medium (biasa) Rp 14 ribu per kg dari biasanya paling mahal Rp 12 ribu per kg.

Hasan dan istri tak lagi memasak. Untuk makan sehari-hari, ia menyiasatinya dengan membeli nasi uduk pada pagi hari dan nasi bungkus untuk siang dan malam hari. “Sekarang harga beras mahal Rp 16 ribu di warung, jadi tidak beli beras. Saya beli nasi bungkus,” kata Hasan, warga Kelurahan Beringin Jaya, Bandar Lampung.

Dengan penghasilan pas-pasan yang dimilikinya, Hasan lebih memilih membeli nasi bungkus karena sudah termasuk lauk pauk. Sedangkan, jika membeli beras yang harganya saat ini sedang mahal, ia masih harus membeli bahan makanan lainnya. Belum lagi kebutuhan gas untuk memasak.

Pemantauan harga beras di Pasar Tani Kemiling, Bandar Lampung, Minggu (17/9/2023), stok beras berbagai kualitas di pasar rakyat tersebut masih tersedia cukup aman untuk kebutuhan masyarakat. Namun, harga beras berkualitas masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Kenaikan harga beras tersebut karena petani belum memasuki musim panen dan kemarau.

Hasnan (48 tahun), pemilik Toko Beras di Pasar Tani Kemiling, mengatakan kenaikan harga beras dipicu dengan kemarau panjang hampir empat bulan terakhir. Selain itu, ujar dia, petani di sentra beras di Provinsi Lampung belum banyak memasuki masa panen pada September 2023.

“Kalau kemarau, penggilingan biasanya kesulitan mencari gabah petani. Harga beras jadi mahal,” kata Hasnan, Ahad (17/9/2023).

Meski demikian, dia mengatakan, stok beras berbagai kualitas dalam kemasan berbagai merek dari agen masih tersedia. Kenaikan harga beras sekarang, ujar dia, bukan karena stok beras berkurang, melainkan karena kemarau banyak petani gagal panen karena sawah kering dan harga gabah mahal.

Dia menjual beras kualitas biasa per 10 kg sebesar Rp 110 ribu, medium Rp 125 ribu, dan premium Rp 140 ribu. Sedangkan, penjualan beras eceran lebih tinggi lagi.

“Kalau eceran lebih mahal lagi yang biasa Rp 11.000 per kg, medium Rp 13.000 per kg, dan premium Rp 15.000 per kg,” katanya.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Lampung Kusnardi mengatakan, pada September, Oktober, dan November 2023 sudah mulai ada petani yang panen. Daerah yang sudah memasuki musim panen adalah Mesuji, Tulangbawang, dan Lampung Selatan.

Menurut dia, pada September 2023, terdapat lahan padi siap panen seluas 84.728 hektare (ha), Oktober seluas 72.000 ha, November seluas 40.000 ha, dan Desember seluas 137.000 ha. Selain itu, terdapat juga lahan tambahan gerakan pangan nasional seluas 36.000 ha, lahan pertanian reguler seluas 228 ribu ha.

Kusnardi memperkirakan jumlah luas lahan padi petani pada September 2023 seluas 84.728 ha tersebut memasuki masa panen. Jika produksi beras untuk satu hektare sebanyak lima ton, akan tersedia cadangan beras sebanyak 400 ribu ton lebih cadangan beras.

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengeklaim harga beras di sejumlah lokasi di Indonesia mulai mengalami penurunan dengan besaran bervariasi, mulai Rp 100 hingga Rp 500 per kilogram.

“Sudah mulai turun di beberapa tempat, ada yang Rp 500 turunnya, ada yang Rp 100, ada yang baru 200 rupiah turunnya,” kata Zulkifli kepada awak media di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (17/9/2023).

Meski demikian, menurut Mendag, berbagai upaya untuk menekan harga beras di pasaran masih terus dilakukan pemerintah. Salah satu yang masih digencarkan, yakni penyaluran program bantuan beras kepada masyarakat sebanyak 10 kilogram (kg) beras per kepala keluarga (KK).

Sesuai perintah Presiden RI Joko Widodo, bantuan 10 kilogram beras kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) akan terus dilakukan dengan alokasi mencapai 210 ribu ton beras per bulan. “Pemerintah menggelontorkan 10 kilo per KK sebanyak 21 juta (KK) lebih dibagi mulai September, Oktober, November,” ujar Zulkifli.

Terkait ketersediaan beras, Mendag memastikan stok cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 1,6 juta ton sehingga diyakini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional. “Lagi perjalanan 400 ton jadi cukup, lebih dari cukup,” ujar dia. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.