EKONOMI

Empat Jurus Perkuat Strategi Bisnis Hadapi Tantangan 2023

JAKARTA – Para pelaku bisnis harus menyusun strategi yang jitu untuk menghadapi perekonomian 2023 yang diramal penuh tantangan. Walau prospek ekonomi nasional cukup menjanjikan, pelaku bisnis tetap perlu waspada.

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen pada tahun ini, sebelum meningkat menjadi 4,7 hingga 5,5 persen pada 2024. Peningkatan ini karena tumbuhnya konsumsi swasta, investasi, dan kinerja ekspor yang baik.

Sirclo Group, sebuah perusahaan omnichannel commerce di Indonesia, menyebut lanskap bisnis di Tanah Air harus mengantisipasi beberapa tantangan pada 2023 akibat inflasi, suku bunga yang lebih tinggi, dan rantai pasokan global yang terganggu.

“Pemahaman atas keadaan tersebut perlu dimiliki oleh setiap pelaku usaha dalam mempersiapkan bisnisnya di tahun yang baru ini,” kata CEO Sirclo Group Brian Marshal, Sabtu (7/1/2022).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Agar mampu bertahan dan berkembang seterusnya, pelaku bisnis dapat berfokus pada diversifikasi sumber produk, penilaian biaya, dan digitalisasi.

Menurut Sirclo, terdapat setidaknya empat strategi bisnis agar pemilik usaha di Indonesia dapat mempersiapkan diri dengan tangguh.

Perhatikan gambaran besar perekonomian.

Dalam memperkuat fondasi perekonomian Indonesia, sangat penting untuk membangun ketahanan bisnis terhadap tekanan industri yang berskala besar maupun kecil. Pelaku bisnis perlu melihat gambaran besar saat menghadapi perekonomian Indonesia pascapandemi.

“Untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen, pola konsumsi, dan situasi ekonomi, pelaku bisnis dapat mengembangkan strategi bisnis baru yang berfokus pada pertumbuhan jangka panjang serta menghindari tindakan dramatis, seperti lonjakan harga mendadak sebagai respons terhadap inflasi atau resesi,” ucap Brian.

Tidak mengabaikan penjualan yang bervolume kecil

Konsumen yang berkecukupan secara finansial cenderung memiliki daya beli yang tinggi sehingga bisnis pada umumnya menyasar segmen konsumen tersebut untuk menghasilkan penjualan dan keuntungan bervolume tinggi. Terlepas dari fakta tersebut, mengabaikan penjualan bervolume kecil bisa menjadi kesalahan besar karena sebagai mesin perekonomian negara, sebagian besar UMKM menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Hampir semua lapangan kerja negara, 97 persennya disediakan oleh 63 juta UMKM yang menyumbang lebih dari 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk tidak kehilangan fokus pada penjualan yang bervolume kecil.

Kurangi biaya produksi dan tingkatkan penjualan

Penurunan harga produk bisa menjadi solusi untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi biaya produksi dan menetapkan harga pasar. Dengan menurunkan harga secara bertahap sambil mempertahankan margin keuntungan yang didapatkan dari setiap penjualan, pelaku bisnis dapat meningkatkan pangsa pasar mereka.

Keunggulan komparatif merupakan teori ekonomi yang dapat digunakan sebagai alat untuk memodifikasi sistem produksi untuk daya saing. Suatu negara mampu mencapai keunggulan komparatif ketika negara tersebut menghasilkan komoditas atau jasa dengan biaya peluang yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain.

Teori ini memungkinkan pelaku bisnis untuk menawarkan barang dan jasa dengan biaya lebih rendah daripada para pesaingnya, sehingga margin keuntungan dapat ditingkatkan.

Perbanyak kolaborasi dan kemitraan

Pada masa pascapandemi, kolaborasi dan kemitraan dapat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan yang dihadapi lintas industri. Kolaborasi dan kemitraan yang erat antarpelaku bisnis menjadi makin relevan di pasar yang terfragmentasi seperti Indonesia.

Saat era digital, kolaborasi bisnis merupakan langkah strategis yang bijak karena dapat memengaruhi kinerja positif perusahaan secara signifikan. Dengan demikian, kolaborasi dan kemitraan juga menjadi faktor pendukung yang sangat baik bagi kesuksesan bisnis di sektor digital Indonesia.

Dengan pergerakan ekonomi dunia yang cepat, pelaku bisnis terus dihadapkan dengan pilihan untuk bergerak maju atau berisiko untuk tertinggal. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.