EKONOMI

Inflasi Juni 2023 Diperkirakan di Bawah 4 Persen

JAKARTA – Tingkat inflasi Juni 2023 secara tahunan diperkirakan di bawah 4 persen. Artinya, tingkat inflasi akan mulai berada di dalam rentang target pengendalian inflasi 2023 yang dicanangkan oleh Bank Indonesia dan pemerintah, yakni sebesar 2-4 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berdasarkan hitungan tim ekonomnya, tingkat inflasi Juni 2023 diperkirakan mencapai 3,64 persen secara tahunan. Artinya, tingkat inflasi akan mulai masuk dalam rentang target pengendalian inflasi tahun ini.

”Tingkat inflasi tahunan menunjukkan tren melandai dan akan berlanjut pada Juni 2023,” ujar Josua saat dihubungi, Sabtu (1/7/2023).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat inflasi Mei 2023 mencapai 4 persen secara tahunan (yoy). Angka ini menurun dibandingkan dengan inflasi April 2023 yang tercatat 4,33 persen secara tahunan.

Kendati demikian, secara bulanan, inflasi Juni 2023 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2023. Kenaikan ini berasal dari aspek harga pangan bergejolak, seperti daging, cabai merah, dan cabai rawit. Kenaikan harga beberapa komoditas itu antara lain dipicu oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya Idul Adha. Selain itu, ada juga kenaikan inflasi inti.

Akan tetapi, inflasi harga diatur pemerintah (administered price) justru diperkirakan turun seiring dengan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada awal Juni 2023. Harga BBM jenis RON 92, misalnya, turun Rp 800 per liter sehingga menjadi Rp 12.500 per liter. Sementara jenis RON 98 turun Rp 1.400 per liter menjadi RP 13.600 per liter.

Perkiraan serupa juga dikemukakan oleh ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman. Pihaknya memperkirakan tingkat inflasi Juni 2023 secara tahunan akan berada di bawah 4 persen setelah genap 12 bulan atau sejak Juni 2022 berada di atas 4 persen. Pihaknya memperkirakan inflasi Juni 2023 berada pada posisi 3,65 persen secara tahunan. Dengan demikian, inflasi Juni 2023 akan kembali berada dalam rentang target pengendalian inflasi Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, yakni 2-4 persen.

Seperti halnya perkiraan Josua, menurut Faisal, inflasi Juni secara bulanan diperkirakan justru meningkat menjadi 0,27 persen dibandingkan dengan Mei yang sebesar 0,09 persen. Salah satu pemicunya adalah kenaikan permintaan untuk perayaan Idul Adha.

Ia menambahkan, tingkat inflasi kalender tahun berjalan 2023, yakni Januari-Juni 2023, diprediksi sebesar 1,37 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 yang sebesar 3,19 persen. Sebagai catatan, pengumuman resmi inflasi Juni 2023 akan disampaikan oleh BPS pada Senin (3/7/2023).

Harga pangan

Mengenai perkiraan tingkat inflasi pada semester kedua 2023, baik Faisal maupun Josua sama-sama berpendapat, tantangan pengendalian inflasi adalah adanya fenomena El Nino yang bisa memicu kekeringan dan penurunan produksi komoditas pangan. Apabila pasokan pangan tak mencukupi permintaan, situasi itu akan berpotensi memicu lonjakan inflasi.

”Ada potensi kenaikan inflasi dari aspek harga pangan bergejolak karena ada kemungkinan gagal panen karena kekeringan sehingga mengganggu produksi dan pasokan pangan,” ujar Josua.

Kendati demikian, Josua optimistis inflasi relatif terkendali sehingga sampai akhir tahun berada pada level 3-3,5 persen. Ini karena selepas September 2023 perhitungan perbandingkan inflasi tahunan akan menurun karena faktor pembanding tahunan yang lebih tinggi (high based effect). Seperti diketahui pada September 2022 pemerintah menaikkan harga BBM sehingga langsung mengerek naik inflasi. Dengan perbandingan tahunan demikian, perhitungan inflasi tahunan selepas September 2023 akan menghasilkan angka lebih rendah.

Untuk meningkatkan pemantauan akan pergerakan harga pangan, mulai 1 Juli 2023, BI meluncurkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dapat diakses melalui situs resmi BI pada laman www.bi.go.id/hargapangan.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, informasi harga yang disajikan mencakup komoditas pangan strategis seperti beras, telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, dan gula pasir. Hingga tahun 2023, survei pemantauan harga PIHPS Nasional telah mencakup empat jenis pasar, yakni pasar tradisional, pasar modern, pedagang besar, dan produsen.

Erwin menambahkan, publikasi PIHPS Nasional pada website BI dilakukan guna memperkuat aksesibilitas, akuntabilitas, dan keamanan data pangan nasional. PIHPS sejatinya sudah dikembangkan tahun 2016 melalui platform independen www.hargapangan.id.

Namun, setelah proses integrasi, portal www.hargapangan.id akan dinonaktifkan. Hal ini merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga stabilitas harga melalui ketersediaan data harga pangan yang akurat dan dapat diakses oleh publik secara luas.

PIHPS Nasional menjadi salah satu indikator yang penting dalam memantau perkembangan harga pangan dalam rangka mendukung analisis BI dan juga bagi masyarakat luas. ”Ke depan, BI akan terus meningkatkan kualitas data publikasi PIHPS Nasional untuk menjamin akurasi dan keandalan data pangan nasional,” ujar Erwin. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.