Jumlah Merchant QRIS di Papua Barat Meningkat

MANOKWARI – Jumlah merchant pelaku usaha di Provinsi Papua Barat yang menerapkan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk transaksi pembayaran, terus meningkat.

Hingga akhir Januari 2022, jumlah merchant QRIS mencapai 26.295 unit. Angka ini meningkat 907 merchant, Jika dibandingkan dengan Desember 2021 yang tercatat 25.388 merchant.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Ruth Eka Trisilowati, mengatakan, sosialisasi penggunaan QRIS bagi seluruh pelaku usaha terutama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dilakukan secara masif. Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem keuangan pelaku usaha yang semakin inklusif.

“Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, salah satunya adalah perluasan penggunaan QRIS,” kata Eka.

Inovasi QRIS dari Bank Indonesia, mengintegrasikan seluruh sistem pembayaran elektronik pada merchant yang telah bekerja sama dengan Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) baik perbankan maupun non perbankan. Seperti, OVO, Dana, LinkAja, GO-PAY, dan lainnya.

“QRIS adalah kanal pembayaran yang bersifat digital, selain kanal pembayaran lainnya,” ucap dia.

Eka melanjutkan, merchant pelaku usaha yang terkoneksi dengan QRIS tersebar di 12 daerah di Papua Barat.

Kota Sorong merupakan daerah yang paling banyak menggunakan QRIS, jumlahnya mencapai 11.933 merchant. Posisi kedua ditempati Manokwari dengan jumlah 10.788 merchant, Fakfak ada 1.114 merchant, Teluk Bintuni sebanyak 697 merchant, Raja Ampat 639 merchant, Kaimana 552 merchant, Sorong Selatan 280 merchant, Teluk Wondama 124 merchant, Maybrat 77 merchant, Manokwari Selatan 45 merchant, Tambrauw 28 merchant, dan Pegunungan Arfak 18 merchant.

“Peningkatan paling banyak terjadi di tiga daerah yaitu Manokwari meningkat 286 merchant, Kota Sorong 248 merchant, dan Bintuni 218 merchant,” jelas dia.

Bank Indonesia menargetkan, penambahan merchant QRIS di Indonesia selama tahun 2022 sebanyak 15 juta merchant. Khusus di Papua Barat, jumlah yang ditargetkan adalah 35 ribu merchant. Target ini meningkat dari tahun 2021 lalu yang hanya 8 ribu merchant QRIS. “Papua Barat menargetkan 35 ribu pengguna baru QRIS,” jelas Eka.

Realisasi target dari inovasi dompet digital tersebut memiliki banyak tantangan. Sebab, kualitas jaringan internet di seluruh wilayah Papua Barat belum merata.

Selain itu, masyarakat dan pelaku usaha masih perlu diedukasi secara intens terkait manfaat sistem pembayaran digital. “Implementasi perluasan penggunaan QRIS untuk mendorong ekonomi inklusif,” jelas dia.

Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani, menerangkan, literasi keuangan digital memerlukan kolaborasi dan sinergitas antara pemerintah daerah dengan PJSP. Karena, saat ini sistem pembayaran mengalami perkembangan seiring perkembangan teknologi yang masif. “Supaya meyakinkan masyarakat untuk bertransaksi non tunai,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Bank Indonesia juga telah memperluas kanal elektronifikasi transaksi bagi pemerintah daerah. Peningkatan transaksi digital, akan mendorong efisiensi perekonomian, mempercepat keuangan yang inklusif dan mencegah penularan Covid-19.

“Perkembangan digitalisasi ini menuntut adanya metode pembayaran serba cepat, mudah dan aman,” ucap Lakotani.(PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: