EKONOMI

Karpet Merah Tesla di Batang

JAKARTA – Pengelola Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang di Jawa Tengah memastikan peluang investasi baru dari Tesla Inc, perusahaan otomotif dan pengembang energi asal Amerika Serikat, akan disambut dengan fasilitas yang memadai. Direktur Utama KIT Batang, Galih Saksono, mengatakan lahan kluster pertama proyek strategis nasional itu sudah hampir terjual sepenuhnya. Namun masih tersisa banyak area untuk investasi baru.

“Rencana Tesla termasuk investasi strategis asing yang dapat memberikan efek berlipat ganda,” ucap Galih dilansir Tempo, Sabtu (21/5/2022).

Wacana masuknya Tesla ke KIT Batang berembus seusai pertemuan Presiden Joko Widodo dengan bos Tesla, Elon Musk, di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengklaim Tesla akan berinvestasi di Batang pada tahun ini. Dia belum merincikan potensi nilai yang akan dikucurkan Tesla, tapi permodalan itu diperkirakan terkait dengan ekosistem baterai dan mobil listrik.

Di kluster awal, Galih melanjutkan, manajemen baru mempromosikan lahan seluas 3.100 hektare dari total 4.300 hektare kepada para calon penyewa. Bila sesuai dengan rencana, kluster pertama itu akan difokuskan untuk menampung industri otomotif. Peruntukannya juga bagi pabrikan sektor lain, seperti mebel, makanan dan minuman, pergudangan, garmen, tekstil, serta kimia.

Galih memastikan sudah ada 450 hektare area produksi pertama yang rampung. Pengembangan kawasan yang juga populer disebut Grand Batang City itu akan dilanjutkan ke 400 hektare berikutnya pada tahun ini.

“Infrastruktur dasar berupa jalan tol dan jalan dalam kawasan sudah selesai, sedangkan infrastruktur lain masih dikembangkan,” tutur Galih. Maksud dia adalah akses simpang susun KIT Batang sepanjang 3,1 kilometer yang terhubung dengan jalan tol Batang-Semarang. Ada juga dua proyek jalan dalam kawasan yang panjang totalnya berkisar 8 kilometer, belum termasuk beberapa jembatan.

Hingga saat ini, baru enam investor yang sudah menandatangani perjanjian penggunaan tanah industri (PPTI) di lahan fase pertama Kawasan Industri Batang. Belum ingin merincikan identitas, Galih menyebutkan ada 46 hektare lahan yang sudah disewa produsen kaca asal Korea Selatan. Ada juga produsen keramik afiliasi entitas asal India yang akan memakai lahan 13,8 hektare. Perjanjian itu pun dijalin dengan produsen Windows Shutter afiliasi Inggris, produsen alat kesehatan dari Singapura, dan produsen tinta Korea Selatan.

“Di awal tahun ini masuk juga perusahaan perakitan sepatu yang memakai 16 hektare,” kata Galih. Bersama pemerintah, manajemen KIT Batang pun sedang melobi 10 perusahaan calon investor lainnya. Mereka, antara lain, berasal dari Korea Selatan, Belanda, Cina, serta Amerika Serikat.

Menteri Bahlil mengaku belum bisa membeberkan hasil perundingan dengan manajemen Tesla lantaran belum ada kesepakatan di atas kertas. “Tunggulah. Tapi ini barang bagus, barang gede,” ucapnya di sela acara Road to G20: Investment Forum Kementerian Investasi, Rabu lalu.

Yang pasti, Bahlil menuturkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia siap digarap bersama sejumlah investor. Beberapa nama yang sudah dipublikasi adalah Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) asal Cina dengan rencana investasi sebesar Rp 70 triliun untuk proyek pabrik di Batam dan Kalimantan Utara. Pemerintah pun menggandeng LG Electronics dari Korea yang berkomitmen membangun smelter produksi baterai mobil listrik di Maluku Utara.

Nama lainnya adalah Foxconn Group, yang akan mengasup US$ 8 miliar untuk industri otomotif listrik dan alat penyokongnya. “Mereka masuk ke tiga hal, yaitu mobilnya, ekosistem baterainya, kemudian dia membangun chip untuk telekomunikasi. Itu dibangun di Batam,” kata Bahlil.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Tengah, Ratna Kawuri, belum bisa mengkonfirmasi ihwal masuknya investasi Tesla. Menurut dia, pernyataan itu masih hanya dari pemerintah pusat. “Kami belum mendapat konfirmasi detail tentang hal tersebut,” ujarnya, Sabtu (21/5). Namun Dinas Permodalan memastikan akan menangani proses teknisnya.

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menilai belum ada kepastian investasi setelah pertemuan Jokowi dan Elon Musk. Klaim investasi besar itu pun bisa saja terganjal beberapa persoalan bidang tata kelola lingkungan dan sosial (environment, social, and good governance/ESG). “Kalau tidak selesai, kita tidak berharap ada investasi Tesla di sini (Indonesia),” ujarnya.

Lewat akun Twitter-nya, Presiden Jokowi sempat mencuitkan hasil pertemuan dengan Elon Musk. Dia tak gamblang menyebutkan soal rencana investasi Tesla di KIT Batang. Namun Elon Musk menyatakan ketertarikan untuk berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia. “Kita akan melihat dari dekat bentuk kerja sama di banyak hal karena Indonesia memiliki banyak potensi. Apalagi Indonesia memiliki jumlah populasi dan terus berkembang. Ini bagus karena kita membutuhkan banyak orang di masa depan,” ucap Elon. (TMP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.