EKONOMI

Mentan Sebut Pertanian Papua Barat Potensial untuk Dikembangkan

MANOKWARI – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo mengatakan Pertanian Papua Barat sangat potensial untuk dikembangkan.

“Saya melihat Manokwari memiliki daerah yang potensial dalam menghasilkan beras. Perlu kita kembangkan dan tingkatkan. Semua tergantung dari gagasan dan kemauan,” katanya saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Manokwari, Selasa (25/10/2022).

Menurutnya, pemerintah daerah harus mulai memperhatikan penggunaan teknologi pertanian sehingga bisa menekan kehilangan dari produksi padi. Dengan penggunaan mesin, maka kehilangan hasil produksi padi bisa sampai 3 persen dari pada panen secara manual yang nilai kehilangannya bisa mencapai 13 persen.

“Kita manfaatkan teknologi yang ada saat ini. Dan mulai beralih dari yang manual menjadi menggunakan alat atau mesin,” ucap Syahrul.

Ia menilai pertanian bisa menjadi bantalan ekonomi dan bantalan bagi masyarakat. Pemerintah daerah harus mengakselerasi pertanian terutama padi, jagung dan komoditas lainnya dan bisa menjadikan ketahanan pangan daerah yang mana berkontribusi kepada ketahanan pangan nasional.

“Kita melihat bersama Gubernur Papua Barat sangat semangat dan semoga ini menjadi pertanda baik bagi Papua Barat,” katanya.

Ia mengatakan berdasarkan laporan Bupati Manokwari, Hermus Indou lahan sawah tanaman padi di Distrik Prafi, Manokwari masih 866,5 hektar.

“Pak Bupati, ini luasan lahan saat ini nanti harus menjadi 1.000 hektar,” ujarnya.

Ia menyebutkan dalam satu hektar sawah tanaman padi sekiranya menghasilkan enam hingga tujuh ton beras. Jika dalam 1.000 hektar sawah tanaman padi dalam kurun waktu 100 hari bisa menghasil uang sebesar Rp30 miliar. Sebelum mencapai itu semua, Ia meminta ada perbaikan penggilingan padi sehingga bisa meningkatkan kualitas beras menjadi premium.

“Saya harap Papua Barat memiliki 11.000 hektar sawah dengan luasan saat ini masih 6.758,5 hektar,” ujarnya.

Menteri Pertanian berharap Pj Gubernur Papua Barat, bupati dan walikota se-Papua Barat untuk mengajak masyarakat khususnya petani dalam mengelola lahan sawah.

“Kita libatkan masyarakat. Dengan terlibatnya masyarakat maka daerah akan bisa maju. Keberhasilan program terlihat dari keterlibatan masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Pj Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Paulus Waterpauw mengatakan program pertanian ikut menjaga stabilitas ketersediaan bahan pangan di Papua Barat serta ikut menekan terjadinya inflasi di daerah.

Dalam menekan inflasi daerah, lanjut Waterpauw pemerintah Papua Barat bersama Bank Indonesia telah merilis gerakan nasional inflasi pangan Papua Barat dengan penanaman cabai di Kabupaten Sorong. Selain itu dalam ketahanan pangan, pemerintah Papua Barat melakukan penanaman pangan lokal di areal lahan pemerintah Papua Barat.

“Penanaman pangan lokal menjadikan masyarakat tidak hanya menunggu bantuan dari pemerintah melainkan meanfaatkan sumberdaya, alam dan kesuburan lahan yang kita punyai biarlah kita manfaatkan sedemikan rupa dalam mengantisipasi krisis pangan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Oleh karena itu, masyarakat mendapatkan kebutuhan pangan melalui perkebunan, peternakan dan sebagainya. Pemerintah Papua Barat berkomitmen meningkatkan produktifitas komoditi pertanian dengan tujuan untuk menyediakan bahan pangan yang bermutu untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

“Kami berkomitmen melaksanakan pembangunan pertanian dari hulu sampai ke hilir. Kami meminta Kementerian Pertanian meralisasikan gerakan ketahanan pangan sehingga Papua Barat menjadi penyanggah suplai bahan pangan bagi negara,” tutupnya.(PB19)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.