EKONOMI

Minat terhadap Kredit Pemilikan Rumah Masih Tinggi

JAKARTA – Kinerja penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) masih menunjukkan performa positif. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, sebagai bank spesialis di segmen ini, mencatatkan penyaluran KPR hingga akhir Juni 2022 mencapai Rp 251,91 triliun. Direktur Utama BTN, Haru Koesmahargyo, berujar bahwa minat dan kebutuhan KPR masih tinggi, khususnya KPR bersubsidi yang porsinya masih mendominasi, yaitu sebesar Rp 137,25 triliun, tumbuh 8,68 persen dibanding penyaluran pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan KPR nonsubsidi tumbuh 5,84 persen menjadi Rp 85,30 triliun.

“Pertumbuhan positif ini diikuti dengan kualitas kredit yang terus terjaga, dengan rasio kredit macet (NPL) gross kami turun dari 4,1 persen menjadi 3,54 persen,” ujar Haru, kemarin. Di sisi lain, BTN juga membukukan peningkatan laba bersih hingga 59,87 persen dibanding laba pada Juni 2021, yaitu mencapai Rp 1,47 triliun.

Tren penyaluran KPR ke depan diprediksi masih terus tumbuh, baik untuk segmen KPR bersubsidi maupun nonsubsidi. Guna memenuhi kebutuhan ekspansi penyaluran kredit, BTN telah menyiapkan rencana penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 4,13 triliun, yang akan dilaksanakan pada November 2022. “Terlebih, kami juga memiliki kerja sama pembiayaan dengan pihak ketiga. Ini tentu membutuhkan ekuitas atau permodalan yang cukup,” kata Haru.

Butuh Insentif Pemerintah

Berdasarkan data, kebutuhan perumahan atau angka backlog perumahan saat ini mencapai 12,75 juta unit. Namun, menurut Haru, tidak semua kebutuhan itu langsung terkonversi menjadi permintaan KPR ke perbankan. “Dibutuhkan insentif dari pemerintah, seperti tambahan subsidi atau kenaikan kuota skema FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) untuk merealisasi permintaan,” ujarnya.

Wakil Direktur Utama BTN, Nixon L. Napitupulu, mengimbuhkan bahwa proyeksi penyaluran KPR pada paruh kedua tahun ini juga tetap positif, meski dibayangi risiko tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan pokok serta bahan bakar minyak (BBM). “Terlebih untuk segmen KPR bersubsidi, kami harapkan bisa menyalurkan pembiayaan dua kali lipat dari 75 ribu unit pada semester I menjadi 160-170 ribu unit sampai akhir tahun,” katanya.

Nixon mengatakan saat ini permintaan pembiayaan paling tinggi didominasi oleh segmen menengah, yaitu harga rumah di bawah Rp 1 miliar. Terlebih, kisaran harga rumah di level tersebut relatif stabil sehingga tidak pernah sepi peminat. “Jadi, untuk tipe 21, 36, dan 45, itu masih bagus prospeknya. Tidak ada penurunan minat,” ucapnya.

Tak hanya BTN yang merasakan kenaikan permintaan pembiayaan. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) juga mencatatkan penyaluran skema FLPP untuk kredit perumahan melampaui target kuartal III 2022. Hingga 14 September lalu, BP Tapera telah menyalurkan FLPP senilai Rp 15,73 triliun untuk 141.547 rumah. Adapun target kuartal III yang sebelumnya ditetapkan adalah Rp 15,64 triliun untuk 153.540 unit.

“Kami mampu melebihi target dengan capaian sebesar 100,57 persen dari sisi rupiah, sedangkan dari sisi unit telah mencapai 92,19 persen. Kami optimistis akhir September ini target unit akan segera tercapai,” ujar komisioner BP Tapera, Adi Setianto. Dia mengatakan, selama periode tersebut, sebanyak 6,152 pengembang telah membangun 9.239 perumahan yang tersebar di 33 provinsi dan 386 kabupaten/kota. “Penerima manfaat FLPP mayoritas pekerja swasta sebesar 93,64 persen, pegawai negeri 3,87 persen, dan personel TNI/Polri 2,49 persen.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.