EKONOMI

Nilai Tukar Petani Papua Barat Capai 100,58, Naik 0,51 Persen pada Mei 2024

MANOKWARI — Nilai Tukar Petani atau NTP di Provinsi Papua Barat mencapai angka 100,58 atau naik 0,51 persen pada bulan Mei tahun 2024. Terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan NTP April 2024 sebesar 100,08.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, Merry dalam jumpa pers secara daring di Manokwari, Senin (3/6/2024).

“Peningkatan NTP Papua Barat terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,79 persen lebih besar daripada indeks harga yang dibayar petani yang mengalami kenaikan hanya sebesar 0,28 persen,”kata Merry.

Adapun empat komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima petani Papua Barat yaitu tomat, cabai rawit, sapi potong, dan buncis.

Merry menyebut, Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Mei 2024 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2018 (2018-100). Yang mana, penghitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Merry merincikan, NTP Papua Barat sebesar 100,58 dengan NTP masing-masing subsektor yaitu tercatat sebesar 104,54 untuk subsektor tanaman pangan (NTP-P), 100,56 untuk sub sektor hortikultura (NTP-H).

Kemudian, 96,89 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 106,05 untuk subsektor peternakan (NTP-P) dan 94,10 untuk subsektor perikanan (NTP-P).

“Jika dilihat menurut subsektor peningkatan tertinggi terjadi pada subsektor pembudidaya ikan yang naik sebesar 2,65 persen. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani atau pembudidaya ikan naik 2,99 persen leboh besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang juga mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen,” paparnya.

Adapun komoditas yang dominan mempengaruhi indeks harga yang diterima petani subsektor pembudidaya ikan adalah ikan mas, ikan lele tawar, dan ikan mujair tawar.

Sementara itu, penurunan NTP terdalam terjadi pada subsektor perikanan tangkap yang turun 2,44 persen. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima nelayan turun 2,09 persen, sebaliknya indeks harga yang dibayar nelayan naik 0,36 persen.

“Komoditas yang dominan memengaruhi penurunan indeks harga yang diterima subsektor perikanan tangkap adalah ikan cakalang, ikan tongkol, ikan tenggiri, ikan kakap, ikan bubara, ikan lencam, ikan hiu, ikan tuna dan ikan tembang,” kata Merry. (sem)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.