EKONOMI

OJK Tingkatkan Literasi Keuangan Agar Rakyat Cerdas Kelola Uang

JAKARTA – Deputi Direktur Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yulianta mengatakan terus meningkatkan literasi keuangan agar masyarakat makin cerdas mengelola keuangan. Saat ini ketimpangan inklusi dan literasi keuangan cukup tinggi.

“OJK selalu mendorong untuk melakukan peningkatan literasi keuangan ini. Tujuannya agar gap (ketimpangan antara literasi dan inklusi keuangan) ini makin kecil,” kata Yulianta dalam dialog Mendorong Literasi dan Inklusi Keuangan yang dipantau virtual di Jakarta, Kamis (11/5/2023).

Ia menuturkan ketimpangan antara literasi dan inklusi keuangan masih cukup besar. Pada 2022, indeks literasi keuangan di Indonesia sebesar 49,68 persen, sementara indeks inklusi keuangan tercatat 85,1 persen, sehingga ada ketimpangan sekitar 35 persen.

Ketimpangan tersebut menunjukkan kondisi masyarakat sudah menggunakan produk keuangan tapi belum begitu memahami produk yang digunakan sehingga rentan menjadi korban penipuan. “Kalau gap ini makin kecil setidaknya orang itu paham dengan produk yang digunakan itu apa sehingga nanti kemungkinan terjadinya fraud atau menjadi korban penyalahgunaan itu kecil karena sudah terliterasi,” ujarnya.

Yulianta mengatakan OJK memiliki sejumlah inisiatif dan strategi dalam meningkatkan literasi keuangan, yakni strategi online dan offline untuk edukasi masyarakat terkait keuangan, pengembangan infrastruktur, penguatan kebijakan atau regulasi, penguatan sinergi dan aliansi strategis, serta program peningkatan literasi keuangan syariah dan pasar modal.

Edukasi keuangan secara offline dilakukan untuk menjangkau masyarakat daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) dan kelompok rentan yang mengalami kendala akses digital.

Pengembangan infrastruktur literasi keuangan berupa penyediaan sistem dan materi literasi keuangan yang dapat diakses secara mandiri oleh masyarakat sehingga dapat menjangkau secara lebih masif.

Penguatan sinergi dan aliansi strategis dilakukan dengan meningkatkan sinergi antar kementerian/lembaga, regulator, pelaku industri jasa keuangan dan seluruh pemangku kepentingan terkait sebagai pengungkit (enabler) dalam program literasi dan edukasi keuangan.

Penguatan kebijakan atau regulasi diwujudkan dengan perumusan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia sebagai guidance dalam melaksanakan kegiatan literasi keuangan serta penyusunan kebijakan literasi dan inklusi keuangan untuk mendorong keterlibatan pelaku usaha jasa keuangan dalam peningkatan literasi keuangan.

Peningkatan literasi keuangan syariah dan pasar modal dilaksanakan melalui berbagai program yang berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan seperti LIKE IT, Gebyar Safari Ramadhan dan Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO).

“Hasil survei kami menunjukkan bahwa ternyata untuk keuangan syariah dan pasar modal itu masih kecil, jadi kami punya strategi khusus untuk keuangan syariah dan pasar modal agar meningkat,” tuturnya. (ANT)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.