Papua Barat Catat Inflasi Januari 0,77 Persen

MANOKWARI – Badan Pusat Statistik mengungkapkan, inflasi gabungan dua kota IHK (Indeks harga konsumen) di Provinsi Papua Barat periode Januari 2022 sebesar 0,77% (month to month/mtm). Secara tahunan atau year on year/yoy, inflasi Papua Barat mencapai 4,06%.

Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia, mengatakan, inflasi Januari merupakan paling tinggi bila dibandingkan Januari 2021 yaitu 0,20% dan Januari 2020 yang justru terjadi deflasi 0,45%.

“Secara tahunan juga sangat tinggi dibanding tahun 2021 yang hanya 1,36% dan tahun 2020 1,62%,” ujar Maritje dilansir dari laman resmi BPS, Minggu (6/2/2022).

Ia menjelaskan, inflasi Papua Barat pada Januari terjadi karena sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga. Yaitu, kelompok makanan dan minuman 2,99%, kesehatan 1,74%, penyedia makanan dan minuman 0,99%, rekreasi dan olahraga 0,98%, perumahan dan bahan bakar rumah tangga 0,53%, pakian dan alas kaki 0,38% serta kelompok informasi dan jasa keuangan 0,12%.

“Inflasi paling tinggi itu kelompok makanan dan minuman dengan andil 1,1%,” jelas dia.

“Kelompok kesehatan inflasi didorong oleh peningkatan permintaan obat dengan resep di Kota Sorong. Sedangkan di Kota Manokwari, obat dan resep justru deflasi,” ujar Maritje lagi.

Ia melanjutkan, ada lima komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Papua Barat. Untuk Kota Manokwari, lima komoditas itu adalah tomat, ikan mumar, ikan ekor kuning, daging babi dan sayur kangkung.

“Kalau di Kota Sorong ada ikan mumar, ikan teri, bahan bakar rumah tangga, ikan kembung dan telur ayam ras,” ucap Maritje.

Dia menerangkan, kenaikan harga gas elpiji non subsidi secara nasional memberikan dampak terhadap kelompok pengeluaran rumah tangga baik. “Gas elpiji yang terus naik sepanjang tahun 2021,” ucap dia.

Selain inflasi, ada dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami deflasi karena terjadi penurunan indeks harga. Yaitu kelompok transportasi 4,38% dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya 0,43%. “Ada dua kelompok pengeluaran yang deflasi,” jelas Maritje.

Dari sisi komoditas, ada lima yang memberikan andil deflasi terbesar baik di Kota Manokwari maupun Kota Sorong.

Untuk Kota Manokwari, komoditas tarif angkutan udara, ikan cakalang, buah pinang, biaya administrasi transfer uang dan sirih. Sedangkan di Kota Sorong, tarif angkutan udara, cabai rawit, air kemasan, ikan ekor kuning, dan ikan cakalang.

“Ketika Januari, efisiensi rute penerbangan oleh maskapai mendorong turunnya harga tiket pesawat,” terang dia.

“Penyesuaian pascalibur Natal. Kondisi Desember kita mengalami inflasi yang cukup tinggi ya,” katanya menambahkan.

Maritje melanjutkan, dari 90 kota IHK di Indonesia, 85 kota mengalami inflasi dan lima kota yang deflasi. Kota Sorong menempati peringkat inflasi ke 19 dan Kota Manokwari ke 85. (PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: