Pembangunan Pabrik Pakan Ternak di Masni Terkendala Anggaran

MANOKWARI – Rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.

Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian. Sebab, pembangunan pabrik tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp60 miliar.

“Tapi kementrian menyampaikan tidak ada anggaran. Mekanismenya melalui DAK (Dana Alokasi Khusus), kalau DAK itu hanya Rp4 miliar sampai Rp5 miliar,” ujar Kepala Disperindag Papua Barat, George Yarangga, saat dikonfirmasi awak media, Selasa (5/4/2022).

Usulan pabrik pakan, sambung dia, sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

“Dan sudah masuk pada rencana aksi,” jelas dia.

Beberapa waktu lalu proposal pembangunan pabrik pakan sudah dikirim ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Proposal itu dilandasi hasil kajian yang dilakukan bersama Universitas Papua (Unipa) tahun 2019 lalu. Akan tetapi, Bappenas justru menyarankan agar pemerintah daerah mencari investor untuk merealisasikan pembangunan pabrik pakan.

“Kalau lewat mekanisme investasi, kita harus cari lagi, investor siapa yang siap masuk,” tutur George.

Ia melanjutkan, masalah anggaran dalam pembangunan pabrik pakan telah diinformasikan ke Sekretaris Daerah Papua Barat. Solusinya adalah anggaran pembangunan pabrik pakan ternak dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua Barat.

“Jadi dititip ke OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang berkaitan supaya kita keroyok bersama,” jelas George.

Disperindag, kata dia, terus mendorong agar rencana pembangunan pabrik pakan bisa terlaksana. Karena, bahan baku produksi pakan sangat melimpah. Selain itu, kehadiran pabrik pakan akan memberikan multiplier effect (efek berganda). Antara lain, penyerapan tenaga kerja, penyerapan hasil panen jagung, menekan harga pakan yang selama ini didistribusikan dari luar daerah, serta mencegah lonjakan inflasi dari komoditi daging ayam dan telur.

“Tanah sudah clear and clean, luasnya mencapai 2,5 hektare dan ada sertifikat,” ucap George.

Ia berharap, pembangunan pabrik pakan tahap pertama bisa dimulai tahun 2023 mendatang, dengan menggunakan APBD. Setelah itu, Disperindag akan melaporkan progres pembangunan ke pemerintah pusat melalui kementerian guna mendapatkan dukungan APBN.

“Jadi ada sharing anggaran. Mungkin kementerian bisa bantu peralatan atau mesin produksi,” ucap dia.

Menurut dia, gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang terus digelorakan oleh Presiden Jokowi dapat terlaksana bilamana ada aktivitas produksi dari masing-masing daerah. Salah satunya usulan pembangunan pabrik pakan, untuk memanfaatkan potensi daerah.

“Kalau tidak ya masyarakat kita terus menjadi masyarakat konsumtif. Selama ini pakan didatangkan dari luar Papua Barat,” pungkas George Yarangga. (PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: