EKONOMI

Pemerintah Terus Pantau Kondisi Stok Pangan

JAKARTA – Pemerintah pusat terus memantau perkembangan stok pangan di daerah. Hal itu dimaksudkan untuk memastikan masyarakat memiliki stok pangan cukup dan harga stabil di daerah.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi menerangkan pemerintah sangat memperhatikan ketersedian stok di masing-masing wilayah untuk memastikan seluruh masyarakat di seluruh negeri mendapatkan pasokan beras yang cukup.

Ia menegaskan dengan adanya gudang-gudang Bulog di hampir setiap kabupaten seluruh Indonesia memudahkan pemerintah dalam melakukan pemerataan stok beras.

“Bapak Presiden tadi menyampaikan bantuan pangan ini akan disalurkan sampai Maret dan akan dilanjutkan sampai Juni kepada 22 juta KPM secara nasional yang datanya dari Kemenko PMK. Bantuan pangan beras ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh Perum Bulog dan dibantu oleh transporter dari PT Pos Indonesia. Bantuan pangan beras ini urgen kembali dijalankan pemerintah di tahun ini dan ketepatan salur bantuan pangan beras menjadi hal utama untuk dapat semakin ditingkatkan,” kata Arief melalui keterangannya dari Temanggung, Jawa Tengah, Senin (22/1/2024).

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhammad Suyamto menjelaskan penyaluran beras Bantuan Pangan ini merupakan salah satu program pemerintah dengan daya jangkau manfaat paling luas yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Jadi program beras Bantuan Pangan yang ditujukan kepada 22 juta KPM ini merupakan salah satu program pemerintah yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Karena itu, keberhasilan Bulog dalam menyalurkan program ini pada 2023 akan kami lanjutkan untuk tahun ini,” jelas Suyamto.

Ia menjelaskan, keberhasilan Bulog menyalurkan Bantuan Pangan Beras pada 2023 kembali dilanjutkan dengan penyaluran program yang sama untuk 2024 kepada 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Itu meningkat dari 2023 berjumlah 21,3 juta KPM.

Jika rata-rata 1 keluarga terdiri dari 4 orang maka program ini memenuhi kebutuhan pangan hampir 90 juta penduduk Indonesia atau setara dengan 1/3 dari total jumlah penduduk Indonesia.

Pangan Impor

Ekonom Celios, Nailul Huda menyoroti sumber pangan yang digunakan untuk bansos. Menurut Huda, semestinya pangan itu berasal dari produksi petani di Indonesia, bukan dari luar.

Dia menyayangkan upaya stabilisasi harga yang tidak mengandalkan produksi lokal. “Padahal, ancaman El Nino itu sudah lama, mestinya sudah lama diantisipasi, bukan dengan jalan pintas impor,” tandas Huda. (kjt)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.