EKONOMI

Tren Penguatan Rupiah Berlanjut

JAKARTA – Tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut. Menurut kalangan analis, penguatan ini ditopang oleh data ekonomi domestik yang kuat.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir perdagangan Kamis (27/4/2023) meningkat 129 poin atau 0,87 persen ke posisi Rp 14.707 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.836 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Kamis menguat ke posisi Rp 14.751 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.882 per dolar AS. Adapun pada Maret, BI mencatat kurs rupiah berada pada level Rp 15 ribu.

“Penguatan ini lebih dipengaruhi oleh faktor domestik, yaitu data-data ekonomi yang kuat, di antaranya pertumbuhan kredit perbankan yang masih tinggi dan index PMI yang ekspansif,” kata analis Bank Woori Saudara Rully Nova di Jakarta dilansir Antara, Kamis (27/4/2023).

Pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2023 tetap tinggi, yaitu tumbuh sebesar 9,93 persen dibanding periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Hasil stress test BI juga menunjukkan ketahanan perbankan Indonesia yang kuat, baik dari sisi permodalan, risiko kredit, maupun likuiditas.

Likuiditas perbankan pada Maret 2023 yang terjaga didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7 persen (yoy). Di sisi lain, likuiditas perekonomian juga memadai, tecermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang masing-masing tumbuh sebesar 4,8 persen (yoy) dan 6,2 persen (yoy). Likuiditas perbankan dan perekonomian yang memadai berkontribusi positif mendorong peningkatan kredit atau pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, hasil survei yang dirilis S&P Global menunjukkan capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2023 berada di posisi 51,9, naik dibanding bulan sebelumnya yang menempati level 51,2.

Dia mengatakan, kekhawatiran resesi ekonomi global juga tidak terlalu signifikan mempengaruhi perekonomian Indonesia yang lebih mengandalkan pengeluaran domestik. Selain itu, sistem perbankan Indonesia yang kuat tidak terpengaruh oleh krisis perbankan di Amerika Serikat.

Menurut ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pelemahan dolar AS disebabkan oleh kembali munculnya tanda-tanda perlambatan ekonomi Amerika Serikat. Perlambatan itu, antara lain, ditandai dengan melemahnya tingkat pemesanan barang modal inti yang lebih dalam dari ekspektasi. Hal itu diperkirakan sebagai dampak lanjutan dari kenaikan suku bunga the Fed yang sangat agresif.

Pesanan barang modal inti AS pada Maret membukukan penurunan bulan ke bulan sebesar 0,4 persen, meleset dari ekspektasi pasar akan ekspansi 0,2 persen, menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan AS. Data menunjukkan bahwa pesanan baru untuk barang-barang modal utama manufaktur AS turun lebih dari yang diharapkan pada Maret.

Data tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran bisnis untuk peralatan kemungkinan akan menghambat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama.
GDPNow Federal Reserve Atlanta, yang melacak bagaimana data yang masuk mempengaruhi perkiraan produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal saat ini, menunjukkan bahwa perkiraan pertumbuhan sekarang sebesar 1,1 persen tahunan, turun tajam dari 2,5 persen dibandingkan sepekan lalu. Hal itu menunjukkan ada risiko penurunan pada data PDB kuartal pertama AS.

Sementara dari dalam negeri, pasar masih menunggu rilis data inflasi bulan April, yang akan dipublikasikan pekan depan pada awal ei.
Rully memproyeksikan kurs rupiah bergerak pada kisaran Rp 14.835 per dolar AS hingga Rp 14.895 per dolar AS.

Adapun di sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat dipimpin oleh saham sektor teknologi. IHSG ditutup menguat 35,33 poin atau 0,51 persen ke posisi 6.945,48. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,87 poin atau 0,19 persen ke posisi 965,08.

“Investor mengantisipasi rilis data ekonomi AS, khususnya estimasi kedua PDB kuartal I 2023, serta Personal Consumption Expenditure (PCE) Price Index, sebuah indikator the Fed untuk mengukur inflasi, yang dijadwalkan dirilis pada Jumat,” tulis Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya yang dikutip di Jakarta, Kamis.

Dari mancanegara, para pelaku pasar menantikan agenda pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve (the Fed) yang akan dilakukan pada awal Mei pekan depan. Bank sentral AS tersebut diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Dari dalam negeri, pada awal Mei pekan depan, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaporkan tingkat inflasi dalam negeri, yang diperkirakan akan berada di atas 5 persen (yoy) seiring dengan kenaikan harga pangan dan barang lainnya pada momentum Ramadhan dan Idul Fitri 1444 Hijriyah.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat di mana sektor teknologi paling tinggi yaitu 1,01 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik serta sektor infrastruktur naik masing-masing 0,75 persen dan 0,65 persen.

Sedangkan, lima sektor terkoreksi dipimpin oleh sektor kesehatan yang turun paling dalam yaitu minus 0,48 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan barang baku yang masing-masing turun minus 0,25 persen dan 0,23 persen

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.590.202 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,74 miliar lembar saham senilai Rp 11,14 triliun. Sebanyak 303 saham naik, 225 saham menurun, dan 203 tidak bergerak nilainya. (ANT)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.