Gaya Hidup

Cermat Pilih Produk Perawatan Kulit

BELANJA rutin produk perawatan kulit atau skincare boleh jadi merupakan agenda wajib. Setiap bulan ada saja produk skincare yang perlu dibeli pemakainya.

Hal itu pula yang rutin dilakoni oleh Putri Ashri (22 tahun). Perempuan yang mengaku sedang menjalani masa magang ini berusaha menyisihkan sedikit dari uang yang dimilikinya untuk membeli beragam produk perawatan kulit. ”Kadang ada yang cocok, tapi sering juga tidak cocok,” ujarnya saat dihubungi, pekan lalu.

Karena itulah Putri mengaku tidak berani memilih produk skincare yang terlalu mahal. ”Khawatir tidak cocok,” kata dia.

Pengguna lain, Karina (33 tahun), menjelaskan, produk skincare yang wajib adalah sabun wajah, pelembap, dan tabir surya. Namun, dia menyadari memiliki kebutuhan lain untuk kesehatan kulit wajahnya. Karena itu, dia menambahkan pembersih minyak, toner, serum, produk eksfoliasi, dan krim mata.

Perempuan yang biasa disapa Karin itu sendiri tidak membeli produk-produk itu setiap bulan. “Karena produk-produk/skincare bisa habis dalam tiga sampai empat bulan. Ada juga yang sampai delapan 10 bulan,” kata dia.

Karin sejujurnya lebih senang membeli di toko daring karena lebih mudah membanding-bandingkan harga. Namun, dia sesekali juga membeli langsung ke toko yang menjual beberapa produk skincare, jadi bukan toko milik brand tertentu.

Untuk urusan skincare, Karin tidak memasang anggaran khusus. Namun, dia selalu menyisihkan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk tabungan khusus skincare. Tabungan itu digunakan saat salah satu produk skincare miliknya habis. “Kadang ada produk yang mau dibeli harganya Rp 500 ribu, ada yang Rp 200 ribu. Kalau ada tabungan skincare, jadi nggak terlalu terasa pas belinya,” ujar Karin.

Meskipun beberapa produknya belum habis, dia memiliki skincare incaran untuk dibeli selanjutnya. “Ada, pelembap dan toner. Sebenarnya ingin coba anti-aging, tapi kondisi kulit lagi kering. Jadinya, mau lebih fokus ke kondisi kulit sekarang dulu,” kata dia.

Kalau pelembap, Karin sedang penasaran dengan produk DR Ceuracle Vegan Kombucha Tea Gel Cream (Rp 300 ribu) dan Sioris Enriched By Nature Cream (Rp 500 ribu). Untuk toner, Karin ingin mencoba Soo Good Feel Soo Calm Toner Pad (Rp 400 ribu) dan I’m From Mugwort Essence (Rp 400 ribu).

Karyawan swasta, Fauziah (31 tahun), memiliki rutinitas perawatan kulit berupa micellar water, sabun wajah, toner, serum, dan pelembap saat malam hari. Saat pagi atau siang, dia mengaplikasikan sabun wajah, toner, serum, pelembap, dan tabir surya. Untuk produk eksfoliasi, dia tidak memakainya setiap hari, tapi hanya beberapa kali dalam sepekan. “Tidak dibeli setiap bulan, lebih ke pemakaian saja. Kalau lebih dari sebulan, ya alhamdulillah. Tapi, memang satu produk bisa lebih dari sebulan. Jadi, habisnya nggak barengan,” ujar Fauziah.

Dia juga lebih suka membeli di toko daring karena malas ke toko fisik secara langsung. Apalagi, dia bisa menemukan banyak promo dengan membeli lewat toko daring. Untuk anggaran, dia menyesuaikan dengan apa produk yang habis saat itu. “Kembali lagi, yang habis apa. Kalau ditotal pas awal beli semuanya, lebih dari Rp 500 ribu, tapi nggak setiap bulan,” kata dia. Dia juga memiliki produk pelembap incaran, yang sedang hype. “Sekarang, kan usia sudah 31 tahun. Jadi, mau coba yang anti-aging, tapi uangnya belum ada,” ujar dia.

Dominasi Jenama Lokal

Co-Founder & CMO Social Bella Chrisanti Indiana mengamati tiga perilaku atau kebiasaan pelanggan dalam melakukan pembelian produk. Pertama, membaca ulasan produk. Cara ini dinilai sangat membantu mengetahui secara lebih jelas gambaran produk yang sesuai dengan kebutuhan. Apalagi di tengah banyaknya pilihan produk skincare berkualitas yang ada di pasar saat ini, mulai dari lokal hingga mancanegara.

Kedua, mempelajari kandungan skincare. Hal ini menjadikan para pencinta kecantikan mengetahui informasi lebih banyak dan selektif sebelum melakukan pembelian produk. Mereka banyak memanfaatkan informasi yang dapat ditemukan secara daring untuk mengetahui secara lebih detail seluk beluk produk, salah satunya kandungan skincare .

Ketiga, memastikan sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sertifikasi BPOM memberikan jaminan kualitas produk yang aman untuk digunakan oleh pencinta kecantikan.

Selain itu, Social Bella terus mengedukasi pelanggan mencoba menggunakan produk dengan ukuran yang lebih kecil (small size). Apabila dirasa cocok dan sesuai dengan kebutuhan, bisa dilanjutkan dengan pembelian ukuran normal atau yang lebih besar. Edukasi ini merupakan upaya untuk menerapkan prinsip mindful shopping atau melakukan pembelanjaan secara bijak. “Dengan langkah sederhana ini, pelanggan bisa mencoba kecocokan tanpa boros membeli produk dengan ukuran besar,” kata Chrisanti.

Di Sociolla, para pelanggan membeli produk sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, tidak selalu bergantung pada potongan harga besar atau promo. Selain itu, ulasan produk populer dan produk yang baru saja diluncurkan juga kerap menarik perhatian para pelanggan di Sociolla.

Social Bella fokus untuk memahami pelanggan dengan lebih baik dan menghadirkan produk berkualitas sesuai kebutuhan mereka melalui kampanye-kampanye. Salah satu contohnya “Glow From Home” yang memberikan solusi total perawatan diri di rumah yang sangat dibutuhkan pelanggan saat pandemi.

Berdasarkan data internal Social Bella Indonesia, kategori produk skincare paling populer saat ini terdiri dari serum, toner, dan tabir surya. Hal ini juga menunjukkan adanya kebutuhan tinggi akan produk yang mampu melembapkan kulit, mengangkat sel kulit mati, dan melindungi dari paparan sinar UV matahari. Dalam empat tahun terakhir, terjadi pertumbuhan jenama kecantikan lokal sebesar 20 kali lipat dan adanya peningkatan sebesar 48 persen dari 2021 hingga saat ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.