Gaya Hidup

Edukasi Seksual Sesuai Tahapan Usia

EDUKASI seksual menjadi pemahaman yang sangat perlu diterapkan oleh orang tua.

“Penanaman nilai untuk tidak kebablasan saat pacaran tidak bisa dilakukan setelah anak sudah besar atau remaja. Semua ini harus perlahan ditanamkan pada anak sejak kecil,” ujar praktisi psikolog keluarga, Nuzulia Rahma Tristinarum, Minggu (16/4/2023).

Menurut Lia, edukasi ini bisa dimulai dari pengenalan aurat, bagian mana dari tubuh yang boleh dilihat dan tidak boleh dilihat, mana yang boleh dipegang orang lain, dan mana yang hanya boleh dirinya sendiri yang menyentuhnya.

Setelah anak lebih dewasa, anak dapat diajarkan tentang pendidikan seksualitas. Misalnya, tentang sistem reproduksi dan konsekuensi apa saja yang bisa diterima jika tidak menjaga dirinya. Ini bisa dilakukan pada anak laki laki dan perempuan. “Anak laki-laki juga perlu diberi tahu konsekuensi jika kebablasan dalam pacaran,” ujarnya.

Hal yang paling penting dari semua ini, Lia mengungkapkan, berilah anak waktu saling bicara, bercerita, dan berilah banyak pelukan agar anak tidak mencari kekosongan dirinya di luar sana.

Ajarkan Sejak Dini

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RSIA Brawijaya Antasari, Dinda Derdameisya, pernah mengatakan, edukasi seksual sebaiknya diajarkan di setiap perkembangan anak. Hal ini bisa dimulai sejak usia prasekolah (TK).

“Edukasi seksual bukan saja berhubungan seksual, melainkan juga perbedaan antarperempuan dan laki-laki itu biasanya diajarkan dari usia TK,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kemudian pada usia SD, Dinda melanjutkan, ajarkan bagaimana laki-laki dan perempuan tidak boleh saling memperlihatkan alat kelaminnya. Lalu memasuki usia SMP, ajarkan anak mengenai siklus menstruasi. Edukasi itu seharusnya diajarkan di lingkup keluarga dari awal.

Bila tidak paham, bisa meminta bantuan profesional. “Jadi, jangan sampai kebablasan anak mencari sumber atau informasi sendiri, yang akhirnya dapat dari video porno,” ujarnya.

Bila anak mendapatkan informasi yang tidak benar, akhirnya mereka berkeinginan melakukan hubungan seksual. Hal ini tentunya sangat berdampak pada kesehatan anak di bawah umur tersebut. “Kalau tidak mengerti berhubungan bisa sebabkan kehamilan, itu banyak sekali dampak negatifnya,” ujarnya.

Karena itulah, mengapa kehidupan seksual harus mulai diajarkan dari sejak awal sekali dari usia prasekolah yang disesuaikan materinya.

Nuzulia pun memberikan saran bagi orang tua yang ingin mengajarkan seksualitas pada anak-anaknya, antara lain:

Secara umum

Edukasi secara umum, menurut perempuan yang akrab disapa Lia ini, jangan dimulai dari nasihat atau wejangan-wejangan pada anak. Ada tahapan yang harus dilakukan.

  1. Bukalah dengan ngobrolringan seputar fenomena yang terjadi mengenai kehidupan seksual remaja.
  2. Tanya pendapat anak remaja kita mengenai fenomena itu. Menurut pandangan dan pemikiran terkait fenomena yang sedang terjadi.
  3. Tanya perasaannya terhadap fenomena tersebut.
  4. Dengarkan dulu, jangan dipotong ceritanya.
  5. Setelah anak selesai mengutarakan perasaan dan pendapatnya, kita sampaikan padanya bahwa ada sisi lain dalam memandang fenomena tersebut. Diskusikan dari sisi ilmiah. Bisa melalui buku, Youtubeatau tanya pendapat ahli. Di sini kita bisa bahas banyak hal secara ilmiah, termasuk tentang konsekuensi dari seks bebas.
  6. Setelah itu diskusikan dengan anak apa yang perlu dilakukan terhadap dirinya terkait fenomena yang dibahas, terkait seks bebas.
  7. Tutup dengan pemahaman agama.
  8. Lalu buat komitmen bersama.

Secara khusus

Sementara, penjelasan secara khusus, jika penjelasan dilakukan bukan per orangan, harus dipisah ruangan antara laki laki dan perempuan.

Secara khusus, sebaiknya yang menjelaskan pada remaja lelaki adalah ayahnya atau sosok laki laki dewasa yang disegani, misalnya, guru, trainer ahli edukasi seksualitas. Sementara, pada perempuan sebaiknya dijelaskan oleh ibunya atau sosok perempuan dewasa yang disegani.

Hal yang sangat perlu dilakukan saat menjelaskan pada anak remaja kita adalah jangan ada judgment pada anak remaja kita, jangan pula menekankan komunikasi satu arah dengan kebanyakan memberi nasihat.

Menurut Lia, dalam hal ini, orang tua dan anak lebih baik banyak diskusi. Jelaskan dengan cara yang asyik dan menyenangkan bagi remaja. Kemudian, tanya apa yang jadi pendapat dan perasaannya dan apa yang akan anak remaja kita lakukan terhadap dirinya. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.