Gaya Hidup

Kuliner Jember yang Menggoyang Lidah

JALAN-JALAN ke Jember kurang lengkap rasanya jika tidak mencicipi kulinernya. Di tempat yang dikenal dengan perhelatan Jember Fashion Carnaval ini, ada beberapa makanan legendaris yang mampu menggoyang lidah para pencinta kuliner.

Menu nasi pecel menjadi kekhasan kuliner di wilayah Jawa Timur. Hampir setiap kota memiliki keunikan pecel. Begitu pula di Kota Jember, pecel disandingkan dengan menu lain. Pecel dengan banyak pilihan lauk sungguh menggoda para penyuka sayur berbumbu kacang ini.

Pada pagi hari, menu sarapan di Jember yang cocok untuk membuka hari adalah pecel lodeh Wali Songo. Lokasi warung berada di Jalan Sultan Agung, di ujung Gang III, atau persisnya di samping toko Wali Songo I. Tempat makannya berupa kursi yang mengular di sepanjang gang menuju belakang.

”Untuk yang makan di sini, langsung masuk ambil nomor antrean itu dan cari tempat duduk di dalam,” kata salah seorang pekerja. Pengunjung pun diarahkan untuk mencari tempat duduk di belakang warung. Pelayan warung nantinya akan mendatangi satu per satu pengunjung yang duduk antre dan menanyakan ingin makan apa.

Adapun pembeli yang ingin membungkus makanan harus antre berdiri di depan warung. Warung buka pukul 05.30 hingga sekitar pukul 12.00.

”Warung sudah ada sejak tahun 1980-an. Ini meneruskan jualannya Ibu Mariyati. Sekarang jualan ini diteruskan anaknya,” kata Hera, anak Bu Mariyati.

Seperti menu pecel pada umumnya, pecel lodeh Wali Songo merupakan menu pecel dengan sayur kacang panjang dan tauge. Sayur tersebut akan disiram dengan sambal pecel serta ditambah rempeyek. Oleh karena namanya pecel lodeh, pecel ini pun dilengkapi sayur lodeh nangka. Pelengkap sajiannya adalah irisan daging rendang dan oseng tempe-tahu.

Dengan menu penuh lauk-pauk tersebut, ditambah segelas teh hangat, pengunjung akan membayar Rp 30.000-an per porsi. Harganya tergantung lauk tambahan yang kita minta, misalnya paru, telur, atau hati ayam.

Masih penasaran menu pecel lainnya? Kita bisa mencicip pecel gudeg yang menjadi kuliner legendaris di Kota Jember. Salah satu warung makan terkenal di sana adalah pecel gudeg Lumintu. Letaknya di Jalan Kertanegara.

Warung makan yang sudah ada sejak tahun 1980 tersebut menjual pecel gudeg dengan aneka lauk tambahan. Nasi pecel dengan cita rasa gurih-pedas berpadu dengan gudeg yang tak terlalu pedas. Perpaduan keduanya memunculkan rasa yang unik di lidah.

”Menu pecel gudeg dahulu memang semacam kreasi orangtua. Ada orang ingin makan gudeg, tetapi tidak ingin terlalu manis. Makanya, orangtua kami membuat gudeg dengan selera Jawa Timuran di mana rasanya cenderung gurih. Rupanya menu itu disukai di sini,” kata Rohan, anak ke-13 dari 14 putra Laksonodipoero. Nyonya Laksonodipoero adalah pembuat pecel gudeg Lumintu.

Warung Lumintu mulai eksis tahun 1980, tetapi sejatinya ibunda Rohan sudah berjualan pecel sejak 1968 di Bondowoso. Mereka pindah ke Jember tahun 1975. Sebelum di lokasi sekarang, sang ibu berjualan pecel berpindah-pindah tempat.

Yang spesial dari pecel gudeg Lumintu adalah gudeg dimasak di atas tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakar. Memasaknya bisa seharian sebelum siap disajikan.

Seporsi nasi pecel gudeg harganya Rp 27.000. Namun, harga tersebut bisa lebih tinggi, tergantung lauk tambahannya, seperti ampela, hati, telur, atau brutu. Namun, jangan khawatir, isian gudeg di warung ini cukup memuaskan. Selain sayur nangka, juga ada kerecek yang menjadi ciri khas gudeg.

Karena warung ini menjadi favorit banyak orang, hampir bisa dipastikan untuk makan di sana harus antre. Jika ingin sedikit longgar, hindari makan di sana saat akhir pekan.

Nasi langgi dan soto

Selain menu pecel, Jember juga punya kuliner lain, yaitu nasi langgi. Salah satu pedagang nasi langgi terkenal di Jember adalah Depot Jawa Timur di Jalan Gatot Subroto.

Nasi langgi adalah semacam nasi campur, lengkap dengan lauk berupa kering tempe, daging bumbu (semacam bumbu semur), sambal goreng kentang, serundeng, telur asin yang disiram kuah santan kental, serta diberi irisan mentimun. Harga seporsi nasi langgi sekitar Rp 35.000.

”Warung sudah ada sejak sebelum tahun 1980. Kira-kira tahun 1974 sudah ada. Sekarang ini yang meneruskan keluarganya,” kata salah seorang pegawai di sana.

Depot Jawa Timur buka mulai pukul 08.30 hingga pukul 21.00. Pembelinya, selain warga Jember, juga tamu-tamu pemerintah daerah dan wisatawan dari luar kota.

Satu lagi, sebelum menutup perjalanan saya pekan lalu di Jember, saya masih menyempatkan menikmati soto dahlok. Soto ayam ini disebut sudah ada sejak 1958. Lokasinya tak jauh dari penginapan saya di Jalan Gatot Subroto.

Disebut soto dahlok, menurut Agus, salah satu anak pemilik warung tersebut, karena dahulu berada di dekat Toko Dahlok. ”Dahulu orangtua saya berjualan tidak di sini, tetapi agak di sebelah sana di sebelah Toko Dahlok. Sekarang yang jualan ini generasi ketiga,” kata Agus.

Tak jauh berbeda dengan soto bening lain, soto dahlok juga memiliki cita rasa segar. Soto semakin segar karena ada tambahan irisan tomat. Racikan bumbu dan ayam suwir yang porsinya cukup banyak juga akan membuat pencinta kuliner merasa puas menyantapnya.

Seporsi soto dahlok porsi kecil dijual seharga Rp 13.000, sedangkan porsi besar Rp 17.000. Itu di luar tambahan seperti lauk hati ampela atau lontong.

Begitulah, petualangan rasa di Jember pekan lalu. Semua menu menyajikan rasa yang khas dan unik ala Jawa Timuran. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.