Gaya Hidup

Menanti Datangnya Era Influencer AI

NAMA Lentari van Lorraine mungkin terdengar tidak asing. Dia adalah idola virtual pertama dari Indonesia. Lentari van Lorraine dikembangkan oleh Imagine8 Studio.

Perempuan yang dipanggil Riri ini memiliki akun Instagram @lentaripagi yang memiliki 168 postingan, 74,1 ribu pengikut, serta mengikuti 392 akun Instagram lainnya. Di Instagram Story-nya, Lentari pernah menyebutkan ayahnya berasal dari Kota Delft, Belanda, sementara ibunya asli orang Sunda.

Lentari juga sudah bekerja sama dengan beberapa jenama. Aktivitas promosi berbayarnya (paid promote) dapat dilihat di highlight Instagram-nya dalam judul ‘Paid project’. Ada pula highlight dengan judul ‘Portfolio’.

Pendiri sekaligus CEO Speechify, aplikasi text-to-speech, Cliff Weitzman menulis artikel yang berjudul “Embrace the Future: How to Become an AI Influencer” pada Mei lalu. Di dalam artikel itu, Weitzman berpendapat di era pemasaran influencer dan media sosial, konsep influencer telah berkembang.

Tren ini sekaligus membuka pintu menuju dimensi baru yang menarik, yaitu influencer kecerdasan buatan (AI). Dilansir Speechify, Ahad (10/9/2023), karakter-karakter yang dihasilkan komputer ini, kemudian dikurasi oleh teknologi AI, seperti pembelajaran mesin (ML) dan AI generatif, mulai membanjiri platform seperti Instagram dan TikTok. Tren ini pun sekaligus mendefinisikan ulang istilah “influencer media sosial”.

Selanjutnya, dia menjelaskan, bagaimana influencer AI diciptakan. Influencer AI diciptakan dengan memanfaatkan alat AI dan algoritma pembelajaran mesin. Perancang menggunakan alat ini untuk menghasilkan penampilan, perilaku, dan jenis konten influencer AI.

Mereka dirancang untuk meniru manusia di kehidupan nyata, sering kali dengan daya tarik estetika yang tinggi dan kepribadian yang menarik. Influencer virtual ini mencakup karakter seperti Lil Miquela, influencer berusia 23 tahun dengan hampir tiga juta pengikut di Instagram.

Lil Miquela bahkan telah berkolaborasi dengan merek terkenal, seperti Calvin Klein dan Balmain. Menariknya, Lil Miquela merupakan ciptaan perusahaan rintisan Los Angeles (LA) Brud.

Bukan sekadar karakter virtual, melainkan versi AI dari orang sungguhan, yang semakin mengaburkan batas antara identitas dunia nyata dan digital. Contoh lainnya adalah Shudu, supermodel digital pertama di dunia, yang juga telah mendapatkan popularitas luar biasa.

Selain Lil Miquela dan Shudu, influencer AI terkenal lainnya termasuk Bermuda dan Blawko. Para influencer ini membuktikan bahwa integrasi AI dan pemasaran influencer menjadi semakin menonjol dalam lanskap digital kita.

Kemudian ada juga Caryn Marjorie. Di usianya yang ke-23, Marjorie rutin memperbarui saluran Snapchat-nya. Namun, menyadari ketidakmungkinan berinteraksi secara pribadi dengan jutaan pengikutnya, dia memikirkan solusi dengan mengembangkan replika AI dirinya untuk menjembatani kesenjangan komunikasi ini.

Kembaran digital ini mampu terlibat percakapan sensual, dan layanan ini tersedia dengan tarif satu dolar Amerika Serikat (AS) per menit.

Weitzman juga membicarakan perbedaan antara influencer AI dan influencer biasa di dalam tulisannya. Kedua jenis influencer ini bertujuan untuk berinteraksi dengan audiens dan mempromosikan produk atau ide.

Meskipun begitu, metode pelaksanaannya berbeda. Influencer AI adalah entitas virtual, yang dijalankan oleh alat AI. Mereka dapat menghasilkan dan mengotomatiskan konten.

Sebaliknya, influencer biasa adalah orang sungguhan yang membuat konten berdasarkan pengalaman, pemikiran, dan emosinya. Munculnya influencer AI menimbulkan pertanyaan apakah mereka akan menggantikan influencer manusia.

Saat ini, menurut Weitzman, influencer AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan influencer manusia sepenuhnya. Tetapi mereka berfungsi sebagai alat pemasaran tambahan yang inovatif.

Influencer AI pun memiliki keunggulan, seperti kemampuan mengotomatiskan pembuatan konten dan tidak pernah lelah atau menua. Namun, mereka saat ini tidak memiliki kedalaman emosional dan hubungan pribadi yang dapat dibangun oleh influencer di kehidupan nyata dengan audiens mereka.

Cara Menjadi Influencer AI

Pertama, menurut Weitzman, yang dapat dilakukan adalah identifikasi posisi Anda. Putuskan jenis konten apa yang ingin Anda buat, demografi audiens target Anda, dan platform yang akan Anda gunakan.

Kedua, bangun karakter AI Anda. Untuk ini, kita menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karakter virtual yang unik dan menarik. Python adalah bahasa populer untuk membuat model AI, sedangkan AI generatif dapat digunakan untuk membuat visual karakter.

Ketiga, kembangkan strategi konten. Secara konsisten, kita bisa menghasilkan konten buatan AI yang relevan dan berkualitas tinggi yang melibatkan audiens Anda. Fokuslah pada peningkatan tingkat keterlibatan.

Keempat, promosikan diri Anda. Konsep kolaborasi dengan influencer lain juga dapat dilirik untuk makin meningkatkan daya tarik akun yang kita miliki. Kita juga bisa mencari kemitraan dengan merek influencer AI, seperti Lil Miquela dan Shudu yang telah menjadi preseden di bidang ini. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.