Gaya Hidup

Optimisme Kreativitas yang tak akan Terganti

KECERDASAN buatan (AI) bukan hanya sebatas tulisan. AI sudah bisa hadir dalam wujud  suara, menciptakan avatar, hingga membuat sebuah karya film dalam waktu singkat. Hal itu tentu berpotensi mengubah karya seni digantikan oleh AI.

Namun, apakah semudah itu AI menggantikan posisi seniman? Musisi dan vokalis band Gigi, Armand Maulana, optimistis bahwa seni atau kesenian, tidak bisa digantikan oleh AI. Karena itu, menurut dia, seniman tak perlu insecure dengan perkembangan AI.

“Kalau art susah tergantikan AI, ngapain juga mesti insecure,” kata musisi kelahiran 4 April 1971 itu.

Sebagai musisi yang menciptakan lagu, Armand tak menampik bahwa kehebohan AI mungkin agak sedikit mengubah pola pikir manusia terhadap musik. Namun, dia menyebut seniman bukan pekerjaan yang mudah digantikan AI, seperti pekerjaan di bidang akuntasi, misalnya.

Karena itu, keberadaan AI tidak membuat pemilik nama H Tubagus Armand Maulana tersebut merasa insecure. Armand menjelaskan seni bukan bidang yang mudah digantikan oleh AI, karena diciptakan oleh rasa, suasana hati dan pikiran, jiwa.

Seni tidak hanya menyampaikan hal yang bagus, tetapi juga bahasa yang sulit diungkapkan oleh kata-kata. “Rasa dan spirit dalam sebuah karya seni, saya kira nggak akan bisa tergantikan AI atau apapun,” ujar pelantun “11 Januari” itu.

Dengan perkembangan teknologi, Armand beranggapan seniman memang harus update dan terbuka. Seniman bisa mengaplikasikan semua teknologi terkini terhadap karya seni apa pun. Namun, dia mengatakan bahwa terkadang manusia juga merindukan hal-hal manual. “Jangan salah, kan kadang manusia juga merindukan yang back to basic, atau manual,” kata Armand.

Pelantun “Sampai Akhir Zaman” (2022) itu menekankan bahwa AI adalah tentang kesempurnaan. Padahal, seni adalah tentang ketidaksempurnaan, atau ketidaksimetrisan. “Kalau AI kan algoritma yang dicetak untuk jadi sempurna dan seimbang, kalau art ketidakseimbangan, itu justru yang jadi sesuattu yang lain,” ujar dia.

Wait and See

Ketakutan akan dunia artificial intelligence (AI) yang kian berkembang cepat, tampaknya tidak dirasakan oleh semua manusia. AI memang diprediksi akan menggantikan sejumlah pekerjaan manusia, tetapi tidak dengan industri kreatif.

Sutradara Awi Suryadi mengemukakan pandangannya terkait dunia AI, yang kini bisa menghasilkan naskah sendiri. “Saya juga pernah nyoba ChatGPT, iseng gitu. Sejauh ini yang dikasih ChatGPT lumayan generik,” ucap dia.

ChatGPT memberikan gambaran cerita yang umum, dari kata kunci yang dimasukkan penggunanya. Untuk saat ini, ChatGPT masih sangat tidak mungkin menggantikan pekerjaan yang berkaitan dengan kreatifitas, tetapi belasan tahun ke depan masih tidak ada yang tahu.

Awi mengaku tidak merasa khwatir sama sekali, khususnya untuk pekerja seni. Lantaran menciptakan sesuatu dengan seni sangatlah berbeda. “Kita sudah bekerja sama dengan begitu banyak penulis. Begitu kita kasih premis aja ke penulis A, B, C, itu beda-beda, semua punya kelebihan dan kelemahan masing-masing,” kata sutradara film KKN di Desa Penari itu.

Menggunakan teknologi AI juga tidak lantas membuatnya lebih murah karena tidak perlu membayar mahal sang aktor atau aktris, karena teknologi seperti CGI saja itu sudah sangat mahal. Dan peran yang digantikan dengan AI juga tergantung tipe film yang dimainkan.

Misalnya adegan aktor Angga Yunanda yang harus memanjat gunung di tepi jurang, ini akan lebih baik menggunakan teknologi AI pengganti. Namun untuk film-film yang memerlukan rasa, tentunya harus dimainkan aktor dan aktris yang real.

Rasa penasaran dengan naskah dari ChatGPT juga dirasakan oleh Sutradara Archie Hekagery, bahkan ia mendalaminya. Menurut sutradara film Wedding Agreement ini, ChatGPT masih belum bisa menggantikan pekerja di industri kreatif.

Namun belasan tahun kemudian, ini bisa saja terjadi. “Karena mereka hanya tools yang kita manfaatkan untuk membantu kita nulis. Rasa itu yang susah untuk dibeli. Cuma, kita nggak tahu ke depannya, 15 tahun ke depan mungkin bisa menulis sebagus Hollywood,” papar dia saat ditemui Republika usai konferensi pers film Hati Suhita, beberapa waktu lalu.

Archie merupakan salah satu yang mencoba menulis dengan ChatGPT, yakni sinopsis. Ketika kata kunci ditulis, misalnya ‘Saya ingin membuat film tentang santri’, lalu diklik, itu akan keluar sinopsis yang tampak hanya seperti copy paste dari sebuah cerita yang pernah ada.

“Sinopsisnya itu kaya copy paste-an yang nggak ada rasa gitu. Nah kita harus tambahin sendiri. Jadi, so far, itu bisa jadi tools yang membantu, bukan tools yang utama,” kata Archie lagi.

Sebagai seorang sutradara, untuk sementara ini ia tidak merasa khawatir pekerjaannya akan digantikan AI. Meskipun tak bisa dipungkiri, AI bisa saja sangat membantu para filmmaker ke depannya.

Let say kita punya pemeran A. Pemeran A ini emang udah menyuarakan suaranya untuk suatu produksi animasi, tapi suara dia bisa diganti dengan suara saya, persis. Jadi untuk ke depannya, ini bisa jadi bahaya untuk right sih,” ucap dia.

Archie sendiri sedang menggarap sebuah produkai animasi, yang belum bisa diinfokan jadwal tayangnya. Tetapi Archie sendiri bercerita bagaimana membuat animasi dengan tools juga sangat membantu dan memudahkan.

“Kita belum tahu bisa tergantikan atau tidak, tapi 15 tahun lagi kita nggak tahu,” ungkap dia. Archie sendiri mengaku, optimistis manusia akan dapat hidup berdampingan dengan teknologi AI. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.