Gaya Hidup

Orang Tua dan Ketakutannya Ketika Anak Bermain Medsos

KEKHAWATIRAN orang tua terkait dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja terungkap dalam sebuah survei terbaru. Jajak pendapat itu digagas “On Our Sleeves”, gerakan yang fokus pada kesehatan mental anak.

Survei ini dilakukan secara daring di Amerika Serikat (AS) oleh The Harris Poll. Hasilnya, sebanyak 50 persen orang tua yang memiliki anak di bawah 18 tahun merasa kesehatan mental anak mereka telah menurun selama 12 bulan terakhir. Hal ini disinyalir akibat akses anak dan interaksi di media sosial.

Dikutip dari laman News Medical, Senin (15/5/2023), survei tersebut menunjukkan hanya 35 persen orang tua di AS yang merasa penggunaan media sosial memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan mental anak. Jumlah itu turun dari 2022, yakni sebanyak 43 persen.

Sayangnya, semakin sedikit orang tua yang merasa nyaman berdiskusi dengan anak mereka tentang kesehatan mental. Persentasenya turun dari 91 persen pada 2022 menjadi 86 persen pada 2023. Padahal, komunikasi yang konsisten dan terbuka sangatlah penting.

Dalam dunia yang semakin digital, penting bagi orang tua untuk memahami imbas penggunaan media sosial terhadap kondisi mental anak. On Our Sleeves pun mendorong orang tua berdiskusi secara teratur dengan anak tentang penggunaan media sosial dan bagaimana itu memengaruhi perasaan mereka.

Melindungi kesehatan mental anak secara daring memang menjadi perbincangan meluas. Antara April 2022 dan April 2023, platform seperti Tiktok telah memperkenalkan langkah-langkah keamanan baru. Anggota parlemen AS pun telah membahas rancangan undang-undang terkait regulasi penggunaan media sosial.

Tak bisa dimungkiri, hal ini termasuk langkah positif. Tetapi, banyak orang tua menganggapnya belum cukup. Menurut orang tua yang disurvei, media sosial berpotensi meningkatkan kecemasan dan depresi pada anak jika digunakan secara tidak tepat.

Itu juga dinilai bisa membuat anak berbagi hal yang tidak pantas, terpapar bahasa kasar, dan jadi korban perundungan. Untuk mencegah hal negatif terjadi, On Our Sleeves merekomendasikan orang tua secara berkala meminta anak-anak menunjukkan video, saluran, atau influencer favorit mereka. Orang tua kemudian bisa menindaklanjuti dengan pertanyaan terbuka sehingga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Menetapkan aturan bermedia sosial yang tegas, bisa meminimalisasi konflik dan mengatasi penyalahgunaan. Orang tua pun perlu menjadi teman mengobrol yang baik bagi anak sehingga mereka tak sungkan mencari bantuan jika merasa ada sesuatu yang tidak aman saat mengakses media sosial.

Diskusikan pengaturan dan pengawasan penggunaan media sosial dengan anak beserta alasannya. Buat keseimbangan antara membiarkan anak menjelajahi media sosial secara mandiri sambil menghindari aspek yang berpotensi berbahaya.

Direktur klinis On Our Sleeves, Ariana Hoet, mengatakan bahwa media sosial tidak sepenuhnya buruk. Hoet yang merupakan psikolog anak di Nationwide Children’s Hospital menyebutkan sejumlah manfaat media sosial, yakni membangun rasa kebersamaan, menjalin koneksi, dan memperkuat pemahaman diri.

“Berperan aktif dalam keterlibatan media sosial anak, alih-alih hanya membatasi paparan, dapat membantu anak merasa nyaman untuk bertanya, melaporkan kekhawatiran, dan mencari bantuan saat mereka membutuhkannya,” kata Hoet.

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah melakukan pendampingan dan selalu terlibat saat anak-anak ada di dunia maya. Ayah dan ibu disarankan memiliki rasa ingin tahu yang tulus tentang apa yang dilakukan anak di media sosial, bukan sekadar membuat larangan. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.