Gaya Hidup

Pahit Manis Pemanfaatan AI

KETAKUTAN akan kecerdasan buatan (AI) telah menghantui umat manusia sejak awal era komputer. Menurut seorang sejarawan, filsuf, dan penulis novel Sapiens, Yuval Noah Harari, sampai sekarang ketakutan ini terfokus pada mesin yang menggunakan sarana fisik untuk membunuh, memperbudak, atau menggantikan orang.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, alat AI baru telah muncul yang mengancam kelangsungan peradaban manusia dari arah yang tidak terduga. Beberapa waktu lalu, Harari menulis di the Economist bahwa AI telah memperoleh beberapa kemampuan luar biasa untuk memanipulasi dan menghasilkan bahasa, baik dengan kata-kata, suara, atau gambar.

“AI telah meretas sistem operasi peradaban kita,” kata Harari yang juga co-founder organisasi Sapienship. Organisasi ini berfokus pada advokasi terhadap isu-isu global, seperti gangguan teknologi, keruntuhan ekologis, dan perang global.

Dilansir dari the Economist, saat orang berpikir tentang ChatGPT dan alat AI baru lainnya, mereka sering kali tertarik pada contoh seperti anak sekolah yang menggunakan AI untuk menulis esai. Tapi, mereka melewatkan gambaran besar.

Harari memberi contoh, bagaimana pemilihan presiden Amerika berikutnya pada 2024 dan coba bayangkan dampak alat AI yang dapat dibuat untuk memproduksi konten politik, berita palsu, dan kitab suci secara massal untuk aliran sesat baru. Hal lainnya adalah dalam beberapa tahun terakhir kultus qanon telah bersatu di sekitar pesan daring anonim yang dikenal sebagai “q drops”.

Pengikutnya mengumpulkan, memuja, menafsirkan q drops ini sebagai teks suci. Harari mengatakan bahwa sejatinya q drops disusun oleh manusia dan bot hanya membantu menyebarkannya, pada masa depan kita mungkin melihat kultus pertama dalam sejarah yang teksnya ditulis oleh kecerdasan non-manusia.

Pada tingkat yang lebih biasa, Harari mengungkapkan, kita mungkin akan segera melakukan diskusi daring yang panjang tentang aborsi, perubahan iklim, atau invasi Rusia ke Ukraina dengan entitas yang kita anggap sebagai manusia—tetapi sebenarnya adalah AI. Dasarnya adalah sama sekali tidak ada gunanya bagi kita untuk menghabiskan waktu mencoba mengubah opini yang dinyatakan dari bot AI.

Sementara, AI dapat mengasah pesannya dengan sangat tepat sehingga memiliki peluang bagus untuk memengaruhi kita. Melalui penguasaan bahasanya, AI bahkan akan bisa menjalin hubungan intim dengan orang-orang dan menggunakan kekuatan keintiman untuk mengubah opini dan pandangan dunia kita.

Meskipun tidak ada indikasi bahwa AI memiliki kesadaran atau perasaannya sendiri, untuk menumbuhkan keintiman palsu dengan manusia saja sudah cukup, jika AI bisa membuat mereka merasa terikat secara emosional dengannya. Kemunculan alat kecerdasan buatan (AI) saat ini tengah banyak dikembangkan oleh sejumlah perusahaan teknologi.

Ini dipicu dari popularitas ChatGPT yang terus meningkat. Microsoft dengan cepat menggandeng OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT untuk memimpin persaingan AI. Tak mau kalah, Google juga mengembangkan alat AI-nya yang bernama Bard.

Namun, persaingan AI ini telah mendapat kritik dari publik dan sejumlah pakar. Bahkan, pelopor AI Geoffrey Hinton mengundurkan diri dari Google. Beberapa waktu lalu, dia mengatakan ancaman AI lebih mendesak dibandingkan perubahan iklim.

Kekhawatiran Pekerja Kreatif

Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah AI dapat menggantikan manusia, termasuk pekerja industri kreatif. Penulis naskah Cassandra Massardi melihat teknologi AI saat ini semakin canggih yang banyak membantu manusia, di antaranya pekerjaan kreatif.

“Sekarang AI sangat berguna untuk membantu presentasi cerita dan sudah mulai banyak digunakan,” kata Cassandra.

Sebagai pekerja seni, Cassandra tidak menolak keberadaan AI. Menurut dia, para seniman seharusnya beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Saya perhatikan sudah banyak fotografer yang bisa berkreasi dengan AI. Ada juga yang membuat komik dengan AI. Karya seni pada akhirnya pasti beradaptasi dengan zaman sama seperti dari lukisan menjadi fotografi. Semua tetap bisa eksis berdampingan karena kebutuhan akan seni itu beragam,” ujarnya.

Oleh karena itu, kehadiran AI digunakan untuk membantu para seniman bukan menggantikan mereka. Cassandra melihat potensi AI dalam pekerjaan kreatif dapat sangat berguna ke depannya.

“Dalam penulisan, saya baca ada yang bisa membuat novel dengan AI, tapi secara hasil masih generik. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan AI untuk alat bantu bukan menggantikan manusia. Menarik sekali kok. Apalagi lihat hasilnya, potensi sangat berguna,” ujarnya.

Penulis dan seniman Lala Bohang juga mengungkapkan tidak antipasti pada kehadiran AI. Menurut dia, seiring berjalannya waktu akan banyak bermunculan temuan.

“Kalau saya pribadi tidak pernah menolak. Menurut saya, memang selalu akan ada yang baru yang muncul di dunia karena manusia selalu mempelajari hal baru, menemukan hal baru,” katanya.

Contohnya, saat kemunculan media sosial (medsos). Meskipun awalnya sempat bingung akan fungsinya, tetapi perlahan orang mulai dapat beradaptasi.

Lala menyebut semua ini membutuhkan proses, tidak bisa cepat. Dengan demikian, fungsi dari temuan bisa dapat terlihat sendirinya. “Kayak dulu medsos baru ada kita bingung kan? Pada akhirnya kayak itu tidak bisa cepat. Semuanya dalam hidup ini bergulir saja sebenarnya. Nanti ketemu kayak ‘Oh begini fungsinya dan cara menanggapinya,’” katanya.

Sama dengan Cassandra, Lala juga mengatakan, para seniman seharusnya tidak perlu takut akan kehadiran AI. Sebab, bagaimanapun, AI tetap tidak akan bisa menggantikan manusia. Ada satu hal yang tidak dimiliki AI, yaitu emosi.

“AI tidak punya emosi. Jadi, menurut saya, manusia memang susah diduplikasi tidak sama seperti robot atau technological things karena manusia mempunyai emosi yang mereka tidak bisa bangun,” ujarnya. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.