Gaya Hidup

Penderita Asma dan Bahaya Ketergantungan Inhaler

PADA penderita penyakit asma, umumnya mengenal pengobatan dengan pelega golongan short-acting beta-agonists (SABA). Contoh pengobatan yang termasuk dalam golongan tersebut, seperti melalui inhaler dan nebulizer.

Sering kali penggunaan pengobatan tersebut menjadi berlebihan. Menurut dokter spesialis paru, Dr HM Yanuar Fajar, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, obat pelega jenis SABA memang membantu saat terjadi serangan. Namun, bukan berarti ketergantungan SABA, melainkan perlu pengobatan lebih tepat agar penyakit bisa terkontrol dalam jangka panjang.

Dia menyinggung terkait perubahan pedoman dari Global Initiatives for Asthma (GINA). “Dari GINA ada perubahan dari pelega sudah tidak dipakai lagi, melainkan sudah pakai pengontrol, jadi perubahannya itu bukan mengatasi dengan SABA saja, tapi inflamasinya,” kata dokter Yanuardalam acara bersama AstraZeneca.

Yanuar melanjutkan, pengobatan asma dibagi dalam dua bagian, yaitu pelega dan pengontrol. Obat pelega bisa membuka jalan napas saat serangan asma terjadi, tetapi hanya membetulkan bronkus. “Dan itu tidak membetulkan inflamasi,” ujar dia.

Menurut dia, sebanyak 90 persen pasien asma menganggap jika sudah memakai pelega, rasanya sudah enak. Tetapi, sering kali beberapa hari atau pekan kemudian, penderita mengalami kekambuhan.

Oleh karena itu, pengidap asma harus semakin menyadari pentingnya pengontrol, bukan lagi sekadar obat golongan jenis SABA. Ketika selesai memakai pelega dan tidak terjadi serangan, seharusnya diberi obat kedua, yaitu pengontrol berbasis long-acting beta-agonist (LABA).

Sebab obat golongan ini memakai asteroid untuk inflamasi yang memiliki sistem kerja sampai 12 jam. Obat ini mengandung inhaled corticosteroid (ICS) supaya inflamasi tidak terjadi terus-menerus.

SABA juga punya kelemahan atau efek samping, seperti berdebar-debar, tangan gemetar. Atau yang paling sering diajukan pasien kalau menggunakan SABA dari tiga sampai lima canister. Artinya, sudah tidak terkontrol hanya mengatasi bronkus tetapi tidak dengan inflamasinya.

Jadi, SABA sebenarnya hanya untuk serangan. Begitu selesai, harus dikontrol dengan obat-obatan jenis LABA. SABA menjadi pertolongan pertama terhadap serangan, tetapi jangan didiamkan, artinya harus dikontrol. Tata laksana terbaru GINA menyatakan inhaler dengan ICS lebih disarankan.

Memakai pengontrol dapat lebih meningkatkan kualitas hidup pasien asma. Asma merupakan penyakit inflamasi kronik yang sudah jalan bertahun-tahun. Saluran napas pada penderitanya akan menyempit karena radangnya terjadi secara terus-menerus atau berlangsung lama.

Tingkatkan Risiko Serangan Asma

Penggunaan inhaler sangat umum di kalangan penderita asma. Tetapi, sayangnya, pemakaian berlebih justru menimbulkan risiko peningkatan serangan asma.

Medical Director AstraZeneca Indonesia dr Feddy dalam kesempatan yang sama, mengatakan, ada perubahan signifikan selama 30 tahun terakhir terkait panduan tatalaksana asma dari Global Initiatives for Asthma (GINA). Pedoman GINA pada 2019 tidak lagi merekomendasikan penggunaan Short Acting Beta-2 Agonist (SABA) inhaler, misalnya, salbutamol, sebagai terapi tunggal yang bersifat reliever pada serangan asma. “Sampai sekarang diperkuat lewat studi global yang sudah dikeluarkan di 2020 di mana Indonesia tergabung di dalamnya,” kata Feddy.

Pada program SABA use IN Asthma (SABINA) di Indonesia juga ditunjukkan bahwa penggunaan SABA untuk asma justru meningkatkan risiko tersendiri. Penggunaan SABA berlebihan terbukti bisa menimbulkan risiko berat pada asma. Feddy mengatakan, ternyata penggunaan SABA empat sampai enam canister bisa meningkatkan serangan asma 25 persen.

Kemudian enam sampai sepuluh canister bisa meningkatkan serangan 67 persen. “Dan lebih dari 20 atau 11 canister ke atas meningkatkan risiko asma berat dua setengah kali lipat,” ujar dr Feddy.

Menurut dia, hal tersebut juga yang mendasari perubahan panduan GINA. Sementara studi di Indonesia, yakni SABINA, menunjukkan 37 persen pasien di Indonesia menggunakan SABA lebih dari tiga canister per tahun.

Kecenderungan lainnya adalah masyarakat kerap membeli sendiri obat tanpa pengawasan dokter. AstraZeneca meluncurkan situs stopketergantungan.id, untuk tes pemeriksaan ketergantungan SABA.

Di situ masyarakat dapat melihat seberapa tinggi tinggi risiko asma berat karena ketergantungan SABA. Tes pemeriksaan tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh tenaga medis maupun pengidap asma. Pengguna situs dapat mengetahui lebih jauh tentang tingkat bahaya SABA saat digunakan berlebihan. “Dari kami juga tersedia BPJS untuk obat, kita usahakan terbuka untuk semua rakyat. Untuk kategori berat tidak terkontrol sedang didaftarkan,” kata Feddy menambahkan.

Adapun panduan GINA terbaru juga didasari bukti ilmiah tentang penggunaan SABA tunggal tidak mampu memberikan proteksi bagi penderita dari asma eksaserbasi yang berat. Penggunaan SABA tunggal dalam jangka panjang, baik secara reguler maupun sering dapat meningkatkan risiko asma eksaserbasi itu sendiri.

Pengidap asma harus semakin menyadari pentingnya pengontrol, bukan lagi sekadar obat golongan jenis SABA. Ketika selesai memakai pelega dan tidak terjadi serangan, seharusnya diberi obat kedua, yaitu pengontrol berbasis long-acting beta-agonist (LABA) agar penyakit lebih terkontrol dalam jangka panjang. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.