Gaya Hidup

Pro Kontra Membesarkan Anak ala Gentle Parenting

Sejak lima tahun lalu, gaya parenting ala Barat seperti gentle parenting mulai dikenal di Indonesia. Meski memiliki nilai positif, praktisi parenting menyarankan agar gaya parenting tersebut tidak serta-merta diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi keluarga.

Istilah gentle parenting merujuk pada gaya pengasuhan yang menekankan cinta kasih dan kelembutan orang tua untuk memahami perasaan anak. Praktisi parenting Krista Endinda mengingatkan, pola pengasuhan gentle parenting memiliki kelebihan dan kekurangan.

“Keunggulannya, gentle parenting banyak berdasarkan riset tentang emosi. Banyak yang terjadi dalam otak anak ketika anak takut atau tantrum. Dalam gentle parenting, orang tua tidak semakin marah sama anak, tapi melakukan validasi emosi,” ujarnya pada konferensi pers virtual peluncuran buku Induk Macan karya praktisi parenting Krista Endinda.

Namun, setelah validasi emosi, bukan berarti orang tua lantas menuruti semua yang diinginkan anak. Itu berkaitan pula dengan kekurangan gentle parenting. Jika orang tua menerapkannya secara kebablasan, gentle parenting malah bisa mengarah pada permissive parenting.

Artinya, pola pengasuhan di mana orang tua serbamembiarkan anak. Akibat dari pola pengasuhan itu adalah munculnya generasi yang cenderung rapuh, yang dalam istilah saat ini diistilahkan dengan generasi stroberi, merujuk pada tekstur stroberi yang lembek.

Perempuan yang biasa disapa Dinda itu menyampaikannya pada peluncuran buku berjudul Induk Macan yang dia tulis. Buku tentang parenting itu juga merupakan isi tesis Dinda yang menempuh studi S-2 di Bank Street College, New York, Amerika Serikat, dengan jurusan infant toddler development and family engagement.

Lantas, sejauh apa gentle parenting bisa diterapkan pada keluarga Indonesia? Menurut Dinda, jika ingin mengaplikasikan gentle parenting, perlu diselaraskan juga dengan kultur budaya masing-masing keluarga dan jangan sampai tidak mencerminkan akar budaya tersebut.

Pada kesempatan yang sama, psikolog anak dan keluarga Saskhya Aulia Prima mencontohkan moderasi gentle parenting yang dia terapkan untuk anak. Saskhya tidak sepenuhnya mengaplikasikan gentle parenting, tapi juga dikombinasikan dengan pola pengasuhan ala keluarganya yang beretnis Jawa.

Psikolog yang juga menggagas pusat aktivitas anak Lightbeam Education itu mengaku dirinya dahulu tumbuh besar di bawah didikan orang tua yang cukup tegas. Dalam dunia parenting, biasanya orang tua demikian dijuluki tiger mom, tiger parenting, alias induk macan.

“Sebagai anak yang tumbuh dari parenting yang benar-benar “macan”, terus-terang pas jadi ibu-ibu susah untuk tidak jadi macan juga. Jadi, beberapa aspek aku coba terapkan pada hal teknis tertentu,” kata Saskhya yang merupakan salah satu pendiri lembaga psikologi Tiga Generasi.

Beberapa hal terkait gentle parenting yang diaplikasikan Saskhya termasuk soal pembiasaan tidur anak, aturan makan, dan keleluasaan anak bereksplorasi. Namun, terkait berbagai hal lainnya, Saskhya cenderung menerapkan unsur pengasuhan ala orang tua Jawa.

Saat awal mempraktikkan sebagian metode gentle parenting, Saskhya pernah terlibat konflik dengan orang tuanya, yakni sang ibunda yang memprotes pilihan tersebut. Namun, Saskhya berusaha memberikan penjelasan atas pilihannya dalam membesarkan anak.

Terlebih, dia pun tetap mengajarkan anak terkait apa yang menjadi budaya ketimuran, seperti tata krama dan kepekaan terhadap sekitar. “Dengan gentle parenting, orang tua bisa menjadi lebih aware dengan emosi yang dirasakan dalam dirinya. Menjadi tahu bagaimana kondisi kita sebenarnya,” ujar Saskhya.

Tak Perlu Menghindari Konflik 

Sebagian orang tua menganggap konflik dengan anak sebagai hal yang sebisa mungkin jangan sampai terjadi. Padahal, menurut Saskhya, konflik itu tak perlu dihindari dan merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh anak.

“Konflik anak dan orang tua adalah pintu pertama anak belajar untuk menyelesaikan konflik di luar,” kata Saskhya. Ia pun menyoroti efek buruk jika anak tidak pernah berkonflik di rumah.

Akibatnya, anak menjadi tidak terlatih saat harus benar-benar menghadapi konflik di dunia luar, yang bisa jadi jauh lebih keras. Menurut Saskhya, ada salah satu pasiennya yang terguncang hingga tak mau masuk sekolah selama sebulan setelah guru di sekolahnya menggebrak meja. Padahal, itu mungkin dianggap biasa oleh anak lain.

Namun, karena anak yang menjadi pasien Saskhya tak pernah menghadapi konflik di rumah, dia menjadi takut berlebihan. Sementara, orang tua tak bisa menjamin dunia luar akan selalu baik-baik saja. Karena itu, konflik sesekali di rumah yang tak berlebihan dan tak membahayakan, termasuk interaksi natural.

Seusai berkonflik, orang tua dapat melakukan refleksi mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam keluarga. Hal itu membuat keluarga berkembang dan akan terus belajar. Ayah dan ibu juga dapat meninjau kembali, apa tujuan mereka membesarkan anak dan dengan cara apa.

Terkait gaya pengasuhan yang diterapkan, Saskhya menyarankan tak perlu memusingkan klasifikasi atau kategori tertentu. Dia berpendapat sudah banyak orang tua Indonesia yang terbuka pada gaya pengasuhan ala Barat, tapi pengasuhan sesuai budaya sendiri juga perlu tetap dipertahankan.

Misalnya, membiasakan hal baik yang sesuai budaya Indonesia seperti adab bicara dan interaksi dengan orang yang lebih tua, senyum, sopan santun, gotong royong, kepekaan terhadap kondisi sosial, dan masih banyak lagi. Orang tua dengan anak remaja punya PR lebih, di tengah gempuran berbagai gagasan di media sosial.

Menyiasati itu, Saskhya menyarankan orang tua yang punya anak remaja mendekatkan diri terhadap hal-hal yang disukai dan sering diakses anak. Jika perlu, aktiflah di media sosial dan ikuti perkembangan topik apa pun yang sedang hype, atau langsung tanyakan pada anak tentang itu.

“Kalau anak ngomong yang enggak sesuai dan kita kaget, gentle parenting bermain di situ. Validasi dulu, baru tanyakan pelan-pelan,” Saskhya mengingatkan. Orang tua, lanjut dia, juga harus menadi tempat kembali yang nyaman untuk anak. Jangan sampai anak punya “Mami AI’ atau orang tua dari teknologi kecerdasan buatan yang kini telah menjad bagian dari interaksi anak dengan gawainya sehari-hari. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.