Gaya Hidup

Screen Time Berlebihan dan Terancamnya Masa Depan Anak

SEBUAH studi menemukan bahwa anak kecil yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar komputer atau perangkat lain cenderung memiliki kemampuan penalaran yang buruk. Penalaran adalah kemampuan berpikir yang sangat penting untuk belajar, kinerja akademik, dan pemecahan masalah sehari-hari.

Studi dari University of Eastern Finland mengemukakan, anak yang menghabiskan terlalu banyak waktunya di depan komputer dikaitkan dengan kemampuan penalaran yang lebih buruk di sekolahnya. Sebaliknya, anak yang dikenalkan pola diet yang sehat serta menghabiskan lebih banyak waktu untuk aktivitas fisik dan membaca memiliki kemampuan penalaran yang lebih baik.

Diterbitkan dalam Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, penelitian ini meneliti efek dari diet dan intervensi aktivitas fisik terhadap kognisi 397 anak sekolah dasar Finlandia. Hubungan antara faktor pola makan, aktivitas fisik, dan perilaku menetap dengan kognisi selama dua tahun juga dipelajari.

“Studi kami melihat bahwa waktu menatap layar yang terlalu banyak bisa berdampak buruk pada penalaran anak. Kondisi ini bisa semakin buruk, jika anak tidak menerapkan diet sehat dan seimbang,” kata peneliti doktoral dari University of Eastern Finland, Sehrish Naveed, seperti dilansir Siasat Daily.

Ia menjelaskan, anak-anak dengan kebiasaan makan yang lebih sehat juga menunjukkan perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan anak-anak lainnya. Secara khusus, kualitas makanan yang lebih baik, konsumsi daging merah yang lebih rendah, dan asupan produk susu rendah lemak yang lebih tinggi, dikaitkan dengan kemampuan penalaran yang lebih baik.

“Berdasarkan penelitian kami, berinvestasi pada pola makan yang sehat dan mendorong anak-anak untuk membaca hal yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan penalaran anak-anak. Selain itu, terlibat dalam olahraga yang terorganisasi tampaknya mendukung kemampuan penalaran,” kata Eero Haapala dari universitas yang sama.

Analisis yang dilakukan peneliti untuk studi ini juga mempertimbangkan pendidikan dan pendapatan orang tua serta persentase lemak tubuh dan tingkat kedewasaan anak-anak.

Tak Selalu Buruk

Paparan gawai di usia satu tahun dapat menghambat perkembangan kemampuan penyelesaian masalah hingga motorik halus anak. Namun, di usia empat tahun, anak-anak tampak mampu mengejar ketertinggalan tersebut.

Temuan ini diungkapkan dalam sebuah studi yang dilakukan di Jepang. Studi ini menyoroti dampak paparan gawai di usia satu tahun terhadap perkembangan anak. Paparan gawai yang dimaksud dalam studi ini adalah menonton televisi, bermain gim video, dan menggunakan ponsel pintar, tablet, atau gawai elektronik lain.

Selama studi berlangsung, tim peneliti menganalisis lebih dari 7.000 data anak-anak berusia satu tahun. Dari studi ini, tim peneliti menemukan bahwa paparan gawai lebih dari satu jam per hari pada anak usia satu tahun dapat menghambat perkembangan kemampuan penyelesaian masalah, motorik halus, hingga komunikasi ketika anak tersebut berusia dua, tiga, atau empat tahun.

“Semakin banyak screen time yang didapatkan oleh bayi-bayi ini pada usia satu tahun, semakin buruk tahap perkembangan mereka pada usia dua tahun, khususnya dalam hal komunikasi,” ujar Dr Jennifer Ashton mengomentari studi tersebut, seperti dilansir ABC News, Rabu (23/8/2023).

Akan tetapi, anak-anak tersebut tampak berhasil mengejar ketertinggalan beberapa tahun kemudian. Menurut studi, anak-anak tersebut memiliki kemampuan sosial, pribadi, serta penyelesaian masalah yang sama dengan teman-teman seusianya yang jarang mendapatkan paparan gawai ketika berusia satu tahun. “Meski begitu, ini menunjukkan bahwa screen time yang terlalu lama tidak baik untuk otak anak satu tahun,” kata Ashton.

Seperti dilansir dari The Sun, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menganjurkan orang tua untuk membatasi paparan gawai pada anak-anak. Orang tua perlu membatasi screen time pada anak menjadi dua jam per hari.

NICE mengungkapkan bahwa screen time yang terbatas bisa memberikan manfaat edukasi bagi anak. Akan tetapi, orang tua harus memastikan bahwa konten yang ditonton oleh anak sesuai dengan usia mereka.

Sementara untuk anak berusia satu tahun, Ashton lebih menganjurkan orang tua untuk memperkuat komunikasi tatap muka dengan anak. Di usia tersebut, Ashton mengatakan, komunikasi tatap muka sangat diperlukan untuk mengasah perkembangan sosial anak. “Mereka membutuhkannya untuk perkembangan bahasa mereka, dan Anda tidak bisa menggantikan komunikasi tatap muka dengan gawai,” katanya.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menganjurkan orang tua untuk tidak memberikan paparan gawai pada anak berusia di bawah satu tahun. Paparan gawai ini termasuk menonton televisi atau bermain gim video.

Pada era digital ini, gawai memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Paparan gawai pada anak juga tidak selalu memberikan dampak negatif. Menurut Ashton, paparan gawai bisa membawa manfaat bagi anak-anak yang sudah berusia lebih besar. Akan tetapi, manfaat ini akan sangat bergantung pada konten yang ditonton oleh anak melalui gawai. “Anak-anak bisa belajar dengan screen time. Ini hanyalah masalah konten yang ditonton dan seberapa banyak yang mereka dapatkan,” ujarnya. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.