Gaya Hidup

Urgensi Menjaga Data Pribadi

PADA era teknologi informasi, masyarakat sangat penting untuk melindungi data pribadinya agar terhindar dari ancaman kejahatan dunia maya. Perlindungan data pribadi dibutuhkan untuk mencegah penyalahgunaan data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Namun, anggota Komisi I DPR RI Rizki Aulia Rahman Natakusumah menilai, tingkat kesadaran masyarakat dalam melindungi data pribadinya masih rendah. Karena itu, ia pun mengajak masyarakat lebih waspada untuk melindungi data pribadi.

“Ketika saya keliling pada desa, banyak masyarakat yang tidak peduli pada perlindungan data pribadi miliknya sendiri,” ujar Rizki dalam seminar bertajuk ‘Keamanan Digital: Waspada Phising dengan Iming-iming’ yang digelar secara daring.

Dia pun berharap, masyarakat meningkatkan kesadaran dalam melindungi data pribadinya. Sehingga bisa terhindar dari kejahatan digital yang menargetkan informasi atau data sensitif korban melalui email, unggahan media sosial, atau pesan teks.

“Saya berharap, masyarakat dapat menyadari bahwa kita harus waspada terhadap data pribadi masing-masing, agar tidak mengalami hal negatif, salah satunya phishing,” ucapnya.

Selain itu, Rizki juga mengajak para peserta yang hadir dalam webinar ini untuk membantu agar generasi muda dapat mempunyai bekal yang cukup. Menurut dia, hal ini penting untuk bisa hidup di era revolusi teknologi yang luar biasa saat ini.

“Saat menggunakan digital, semuanya termonitor dan ada jejak digitalnya, hal tersebut memang bisa membantu. Namun, juga dapat membahayakan, banyak orang sudah merasakan mudharat-nya,” kata Rizki.

Pelaku phishing menargetkan korban phishing dari aktivitas di media sosial. Oleh karena itu, menurut dia, perlu adanya kewaspadaan dalam menyebarkan informasi pribadi, agar tidak diketahui oleh orang di media sosial.

Sementara itu, Pegiat Media Sosial Syifa Hersafitri menjelaskan, ada sembilan cara untuk melindungi diri dari phishing. Di antaranya, masyarakat harus memeriksa pengirim surel atau pesan, serta menggunakan versi peramban yang terbaru. “Lakukan juga scan malware secara berkala,” katanya.

Head of Marketing & Communication BCA Digital, Duardi Prihandiko dalam kesempatan yang berberda mengingatkan, saat ini para pelaku kejahatan phishing semakin pintar. Salah satu cara yang dilakukan untuk meyakinkan targetnya adalah dengan memanfaatkan psikologis target sasaran.

“Saat ini, penipu banyak yang memanfaatkan sisi psikologis kita. Ada yang membuat kita panik, atau menyerang sisi kita mau dianggap lebih kaya atau hebat,” ujarnya di BCA Expoversary 2023 di ICE BSD Tangerang.

Ia pun berbagi tips untuk menghindar dari sasaran penipuan dengan berbagai macam metode. Nasabah, menurut Duardi, harus lebih berhati-hati dan tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi dan data perbankan, seperti nomor rekening, kartu, PIN, user dan kata sandi internet bankingone time password (OTP), card verification value (CVV), dan sebagainya kepada orang lain termasuk yang mengatasnamakan BCA.

Belakangan ini, maraknya kasus penipuan daring yang terjadi setelah membuka tautan pesan. Sebagian besar, terjadinya kasus penipuan online ini mayoritas akibat kelalaian memberi kode kata sandi sekali pakai atau OTP, kemudian PIN dan CVV untuk pengguna kartu kredit.

Selain itu, banyak pula pelaku penipuan yang mengeluarkan modal lebih untuk memasang iklan agar dapat menjaring targetnya, baik di media sosial maupun mesin situs pencarian seperti Google. Sehingga, ada saja yang tertipu dengan iklan yang dibuat oleh para penipu tersebut.

“Jadi mereka berani bayar iklan. Banyak akun-akun yang mengaku akun resmi kami (BCA Digital-Red), padahal bukan, tapi karena mereka beriklan, bahkan sampai iklan di Google, jadi ada saja yang percaya. Artinya memang harus benar-benar waspada,” katanya.

Salah satu cara agar terhindar dari hal tersebut adalah selalu mengecek kembali bila ragu dengan pesan atau telepon dari bank yang terlihat mencurigakan. Nasabah juga harus memastikan apakah yang menghubunginya merupakan nomor dan akun resmi dari bank.

“Tips paling aman nih adalah kalau ragu-ragu, selalu telepon official call center. Kadang memang ada teknologi yang membuat nomor penipu hampir mirip dengan call center, jadi kalau memang ragu, matikan dulu telepon yang masuk dan langsung telepon balik. Always check and recheck, kemudian kontak lagi call center banking,” katanya menjelaskan.

Hal terpenting lainnya adalah jangan pernah memberikan tiga kode rahasia, yakni PIN, OTP, dan CVV kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku-ngaku sebagai pegawai bank. Duardi menekankan, pegawai bank tidak akan pernah meminta tiga kode rahasia nasabahnya.

“Tiga kunci dalam transaksi, yakni PIN, OTP, dan CVV itu dipastikan jangan dikasih ke orang lain. Kalau ada yang minta tiga hal itu sudah jelas itu penipu,” kata Duardi menegaskan. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.