Gaya Hidup

Waspadai Bahaya Hubungan Seksual Sejak Usia Dini

DERASNYA informasi di media sosial, dinamika pergaulan, dan hubungan komuikasi antara anak dan orang tua kerap menjadi faktor pendorong anak berhubungan seks sejak usia dini. Ditinjau dari studi yang sudah ada, berhubungan seks di usia dini dapat menimbulkan konsekuensi negatif.

Menurut tinjauan medis oleh Akilah Reynolds, PhD, dan Jared C Pistoia, ND, dikutip dari laman Psychcentral, Rabu (12/4/2023), wajar jika anak-anak dan remaja ingin mengetahui tubuh mereka sendiri dan tubuh orang lain. Saat pubertas, aliran hormon seks dapat meningkatkan dorongan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen.

Masa remaja yang terjadi antara usia 10 dan 19 tahun dan merupakan periode perkembangan penting sangat memengaruhi kesehatan di kemudian hari. Diketahui bahwa paparan seks selama periode ini, terutama sebelum usia 16 tahun, dapat menimbulkan konsekuensi negatif.

Memahami konsekuensi ini dapat membantu membentuk cara orang tua mendekati subjek dengan anak-anak, dan ada langkah-langkah yang dapat diambil di rumah untuk mencegah paparan seks dini. Studi pada 2017 meneliti lebih lanjut keterkaitan tersebut untuk menentukan paparan dini benar-benar menyebabkan hasil negatif.

Paparan dini didefinisikan sebagai berhubungan seks pada usia 14 tahun atau lebih muda. Untuk kelompok studi muda ini, para peneliti menemukan bahwa seks dini dikaitkan dengan kemungkinan dua atau tiga kali lebih besar untuk:

-Memiliki dua atau lebih pasangan seksual dalam satu tahun terakhir

-Mengalami infeksi menular seksual (IMS) dalam satu tahun terakhir

-Mengalami gejala depresi

-Efek negatif lebih banyak dialami oleh peserta wanita, yang tampaknya menjadi tren di seluruh penelitian yang meneliti inisiasi seks dini.

Selain itu, studi pada tahun yang sama juga  menemukan bahwa wanita yang memulai hubungan seks pada usia 16 tahun atau lebih muda lebih mungkin mengalami episode depresi berat pada masa dewasa muda. Namun, tren tersebut tidak diamati pada laki-laki.

Penelitian tambahan yang meneliti berbagai efek seks dini pada hasil kesehatan di kemudian hari menunjukkan tren sebagai berikut:

-Wanita yang mulai berhubungan seks sebelum usia 16 tahun lebih mungkin untuk bercerai.

-Permulaan hubungan seksual sebelum usia 14 tahun dikaitkan dengan perilaku berisiko tinggi dan kekerasan dalam pacaran pada laki-laki.

-Penyalahgunaan ganja lebih mungkin terjadi dengan paparan dini terhadap seks.

-Penyebab tambahan yang perlu dikhawatirkan di kalangan remaja putri adalah meningkatnya risiko kehamilan yang tidak direncanakan.

Apa saja jenis paparan seksual dini?

Paparan seks bisa diperoleh melalui beragam media seperti pornografi internet, televisi, dan film. Kemudian, bisa juga lewat pesan teks yang menjurus ke arah seksual atau “sexting”, cyberbullying seksual atau “sextortion” melalui aplikasi smartphone atau video gim. Selain itu juga bisa terkait rekaman suara.

Paparan dini terhadap perilaku seksual juga dapat terjadi secara langsung selama masa kanak-kanak sebagai bagian alami dari perkembangan. Menurut American Academy of Pediatrics, bermasalah atau tidaknya tergantung pada tingkat dan frekuensi perilaku tersebut terjadi.

Perilaku masa kecil yang penasaran secara seksual, meliputi masturbasi atau menyentuh alat kelamin di depan umum atau pribadi, menunjukkan atau terpapar alat kelamin orang lain, lalu mencoba melihat orang dewasa atau teman sebaya telanjang.

Perilaku tersebut umumnya dianggap sehat kecuali mereka sering mengganggu orang lain, mengakibatkan tekanan emosional atau rasa sakit fisik, hingga melibatkan kekuatan sebagai upaya untuk meniru hubungan seksual.

Waspadai faktor pendorong

Penelitian ekstensif dari 2020 yang disponsori oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS mengidentifikasi faktor spesifik yang dapat mencegah atau mendorong paparan dini terhadap seks. Faktor risiko berhubungan seks dini meliputi, sebagai berikut, seperti dikutip dari laman Psychcentral, Rabu (12/4/2023).

-Pelecehan, penelantaran, atau kekerasan di masa kecil

-Orang tua dengan gaya pengasuhan yang tidak aman atau cemas

-Tinggal di komunitas yang tidak aman dengan tingkat kemiskinan tinggi

-Paparan TV dan film yang eksplisit secara seksual

-Penggunaan alkohol dan narkoba di antara teman sebaya

-Harga diri negatif

Sementara itu, faktor yang bisa mencegahnya meliputi kedekatan dengan orang tua. Sebagai contoh, anak melakukan makan malam bersama keluarga, merasakan keterikatan emosional yang aman, komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja tentang seksualitas.

Kemudian, anak memiliki panutan teman sebaya yang positif, keterhubungan dengan masyarakat, agama, dan guru. Selain itu, kemampuan mengatur emosi, penentuan nasib sendiri, dan persepsi diri yang positif

Jika orang tua mencurigai bahwa anak terlibat dalam aktivitas seksual dini, ada sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk membantu. Sebagai langkah awal yang baik adalah melakukan percakapan terbuka dengan anak tentang seks, batasan, izin, risiko penyakit infeksi menular seksual (IMS), pencegahan kehamilan dan hubungan yang sehat.

Selain melakukan konsultasi kepada ahli, pihak berwenang, orang tua juga dapat berdiskusi dengan pihak sekolah anak. Orang tua bisa menanyakan tentang program pengurangan risiko seksual komunitas. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.