Kejaksaan Masih Tindaklanjuti Kasus Korupsi Huntara Susweni

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Penyidik pada Kejaksaan Negeri Manokwari masih menindak lanjuti kasus dugaan korupsi, dalam proyek pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di Susweni Distrik Manokwari Timur Kabupaten Manokwari, Tahun 2016 senilai Rp5 miliar.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Manokwari I Made Pasek Budiawan mengatakan, pihaknya sampai saat ini masih melengkapi berkas perhitungan kerugian negara sebagaimana petunjuk auditor.

“Kasunya tetap dan masih berlanjut. Kita masih melengkapi berkasnya dulu, karena permintaan auditor. Perhitungan kerugian negara dalam kasus itu baru akan dilakukan setelah kami melengkapi berkas sesuai petunjuk auditor,” kata Pasek di Manokwari, Senin (8/3/2021).

Pasek menegaskan, bahwa kasus dugaan korupsi tersebut pasti sampai ke meja hijau Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Papua Barat. Apalagi sejauh ini pihaknya telah memeriksa 20 orang sebagai saksi.

Diantara sejumlah saksi itu, ialah seorang pengusaha jasa konstruksi berinisial YF. Walau dalam praktiknya pembangunan Huntara dikerjakan lebih dari satu kontraktor, namun dalam kasus ini YF memiliki peran ganda. Selain menandatangani dokumen kontrak, YF juga berperan sebagai penyedia jasa sekaligus kontraktor pelaksana.

“Dalam pekerjaan proyek itu sebenarnya banyak melibatkan kontraktor, namun YF secara tunggal bertindak sebagai orang yang menandatangani dokumen kontrak. Status YF sampai saat ini masih sebagai saksi,” ujar Pasek. “Intinya, kasus Huntara Susweni pasti dituntaskan. Tidak ada yang sengaja disembunyikan. Tunggu saja,” katanya lagi.

Berdasarkan penyelidikan dan penyidikan Kejaksaan, sesuai DPA – APBD Tahun Anggaran 2016 pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manokwari, pembangunan Huntara harusnya dikerjakan oleh satu pihak saja. Namun dalam praktiknya, pembangunan Huntara melibatkan 11 kontraktor dengan klasifikasi pekerjaan yang berbeda-beda.

Pemerintah Daerah melalui BPBD Manokwari berinisiatif mendirikan Huntara dikarenakan pemukiman warga di Kompleks Borobudur Distrik Manokwari Barat, rusak berantakan akibat kebakaran dahsyat yang terjadi pada 16 Juni 2016 silam.

Kebakaran tersebut mengakibatkan puluhan kepala keluarga serta ratusan remaja dan anak-anak harus kehilangan tempat tinggal. Meski tak ada korban jiwa, namun kerugian materil ditaksir mencapai miliaran rupiah. Alhasil, pemerintah pun mengambil kebijakan membangun Huntara bagi para korban.

Huntara yang dibangun terdiri dari 20 ruang, dilengkapi kamar mandi dan satu unit dapur umum serta satu unit tempat penyimpanan Bahan Makanan (Bama). (PB13)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 9 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: