47 ODP Selesai Masa Pemantauan

MANOKWARI,  papuabaratnews.co  Sebanyak 47 orang dalam pemantauan (ODP) telah selesai menjalani masa pemantauan mandiri. Dari jumlah tersebut 34 orang berasal dari Kabupaten Manokwari, 3 orang dari Kabupaten Fakfak, dan 1 orang dari Kabupaten Raja Ampat.

Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Papua Barat, dr Arnold Tiniap kepada awak media mengatakan, sampai Minggu sore (29/3/2020), sebanyak 47 ODP telah selesai menjalani masa pemantauan mandiri dari jumlah awal  sebanyak 272 ODP.

“Iya data hari ini sebanyak 47 ODP telah selesai menjalani masa pemantauan mandiri,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media di Manokwari, Minggu (29/3/2020).

Arnold menerangkan selain 47 ODP yang telah menjalani masa pemantauan masih tersisa 225 ODP yang dalam pemantauan.

Dia merincikan, sebanyak 34 orang dari Fakfak, 8 dari Kaimana, 8 dari Teluk Wondama, 2 dari Teluk Bintuni, 19 dari Manokwari, 28 dari Sorong Selatan, 28 dari Sorong, 13 dari Raja Ampat, 2 dari Manokwari Selatan dan Kota Sorong sebanyak 83 orang.

“Jumlah ODP tertinggi yang masih dalam pemantauan yakni Kota Sorong sebanyak 83 orang,” ujarnya.

Sementara itu, pengurangan jumlah pasien dalam pengawasan di Kota Sorong dari 7 pasien kini menjadi 3 orang. Sekitar 4 orang pasien dinyatakan telah selesai masa pengawasan di rumah sakit. Dengan demikian saat ini tersisa 3 orang pasien dalam pengawasan di Sorong.

“Jumlah pasien dalam pengawawasn juga berkurang menjadi 3 orang, sedangkan 1 pasien meninggal,” tuturnya.

Dia menambahkan, per 29 Maret 2020 sebanyak 21 sampel swap telah diambil. Sementara 18 sampel swap telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan di Jakarta. Total sampel yang dikirim 14 berasal dari Kota Sorong, 3 dari Manokwari dan 1 dari Teluk Bintuni.

Dia menyebutkan, tersisa 13 sampel swap masih dalam masa tunggu hasil pemeriksaan laboratorium. 1 sampel berasal dari Teluk Bintuni, 2 dari Manokwari dan 10 dari Kota Sorong.

“Kita menunggu mudah-mudahan dalam minggu ini 13 swap yang telah selesai diperiksa,” tutupnya.

Penyebaran Meluas

Sementara itu, jumlah kasus terkonfirmasi positif korona di Indonesia hingga Minggu sore (29/3/2020,  mencapai 1.285 orang dengan 114 orang di antaranya meninggal. Jumlah itu merupakan hasil pemeriksaan spesimen dari 6.500 orang di seluruh laboratorium di Indonesia. Penularan virus korona baru terus meluas karena pembatasan sosial dan jarak belum berjalan otpimal.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, dalam  konferensi pers di Jakarta, Minggu sore, menyebutkan, kasus positif bertambah 130 orang dari 1.046 orang menjadi 1.285 orang. Jumlah kasus kematian pun bertambah 12 orang dari 87 orang menjadi 114 orang. Pasien yang sembuh atau dua kali mendapatkan hasil negatif dari pemeriksaan mencapai 64 orang atau bertambah lima orang dari sebelumnya 59 orang.

“Ini menandakan di luar sana masih ada yang membawa penyakit dan belum melaksanakan isolasi di rumah,” katanya.

Menurut Yurianto, bertambahnya angka kasus terkonfirmasi positif menunjukkan pembatasan sosial dan imbauan agar masyarakat menjaga jarak belum berjalan maksimal. Masih banyak orang dalam pemantauan (ODP) yang belum menjaga jaraknya dengan orang-orang di sekitarnya. “Kekuatan terbesar memutus mata rantai (wabah) ini ada di masyarakat, dengan mematuhi protokol yang ada maka saya yakin ini bisa kita hadapi dan kita lewati bersama-sama,” ungkapnya.

Yurianto menjelaskan, pembatasan sosial merupakan salah satu upaya yang harus dijalankan setiap orang karena virus mematikan mudah menular melalui percikan air yang keluar saat bersin dan batuk. Bahkan, jika percikan itu menempel di barang kemudian dipegang orang lain, maka virus dengan cepat juga berpindah atau menular kepada siapa pun yang memegangnya.

Kondisi itu membuat pemerintah tak berhenti mengingatkan masyarakat untuk selalu beribadah, bekerja, dan belajar di dalam rumah. Namun, imbauan itu pun tak cukup. Masyarakat perlu terus diajak bersama-sama untuk menjaga jarak di berbagai tempat, termasuk di dalam rumah.

“Lindungi yang sehat agar tidak sakit, mari melindungi yang sakit agar bisa sembuh dan tidak menularkan ke orang lain. Siapapun yang ada di sekitar kita tetap harus berfikir untuk menjaga jarak,” jelas Yurianto. (PB22/KOM/RED)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: