Disparitas Kemiskinan Kota dan Desa di Papua Barat Tinggi

MANOKWARI – Disparitas kemiskinan antara kota dan desa di Provinsi Papua Barat, masih sangat tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase kemiskinan di pedesaan pada September 2021 mencapai 33,50% atau 193,10 ribu orang miskin. Sedangkan di perkotaan, persentase penduduk miskin hanya 6,44% atau 28,19 ribu orang miskin.

“Ini cukup jauh. Disparitas antara kota dan desa sangat tinggi,” ujar Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Provinsi Papua Barat, Robert Ronytua Pardosi, saat menggelar konferensi pers di Manokwari, Senin (17/1/2022).

Ia menjelaskan, persentase penduduk miskin di desa sejak Maret 2020 mencapai 32,70% naik menjadi 33,20% pada September 2020. Kemudian naik lagi menjadi 33,40% pada Maret 2021 dan terus meningkat jadi 33,50% pada September 2021.

“Antara Maret sampai September 2021, jumlah penduduk miskin di desa naik 2,04 ribu jiwa,” ujarnya.

Sementara di kota, kata dia, persentase penduduk miskin mulai Maret 2020 adalah 5,85% naik menjadi 6,31% pada September 2020. Pada Maret 2021 persentase penduduk miskin di kota kembali meningkat menjadi 6,50% dan turun menjadi 6,44% pada September 2021.

“Dari sisi persentase memang terjadi penurunan dari Maret ke September 2021. Tapi kalau dari sisi jumlah, ada kenaikan tipis 0,18 ribu orang miskin di kota,” tuturnya

“Sejak Maret 2020 itu disparitas kemiskinan antara kota dan desa masih sangat tinggi,” jelas Robert lagi.

Ia menerangkan, persentase penduduk miskin di Papua Barat untuk periode September 2021 menempati urutan kedua, jika dibandingkan dengan Papua, Maluku dan Maluku Utara.

Diberitakan media ini sebelumnya, penduduk miskin di Papua Barat pada September 2021 tercatat sebanyak 221,29 ribu orang.

Jumlah ini mengalami peningkatan 2,2 ribu orang, jika dibandingkan kondisi Maret 2021 yang tercatat ada 219,07 ribu penduduk miskin. Dan, bila dibandingkan dengan September 2020, jumlah penduduk miskin Papua Barat naik 6,07 ribu orang.

Robert Ronytua Pardosi menjelaskan, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi peningkatan jumlah penduduk miskin tersebut.

Antara lain, pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap aktivitas perekonomian masyarakat, pertumbuhan ekonomi triwulan III-2021 terkontraksi 1,76% (yoy), konsumsi rumah tangga turun 0,59% (q-to-q), rata-rata pengeluaran per kapita per bulan pada kelompok Desil 1 turun hingga 1,95%, pertumbuhan kenaikan pendapatan per kapita per bulan pada kelompok Desil 2 masih di bawah rata-rata garis kemiskinan, cakupan rumah tangga yang menerima bantuan sosial (Program keluarga harapan) turun 3,09%, dan rumah tangga yang menerima bantuan sembako juga turun 5,17%.

Namun secara persentase, sambung dia, tingkat kemiskinan Papua Barat justru mengalami penurunan sangat tipis 0,02% poin yaitu dari 21,84% pada Maret 2021 menjadi 21,82% pada September 2021.

Turunnya tingkat kemiskinan ini dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh positif 1,72% (year on year/yoy) dan tingkat pengangguran kondisi Agustus 2021 yang turun 0,34% poin dibanding Februari 2021.(PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: