Pelindo Klaim Arus Peti Kemas Naik 17 Persen

MANOKWARI, papuabaratnews.co – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 4 Cabang Manokwari mengklaim arus peti kemas dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah peti kemas yang masuk melalui Pelabuhan Manokwari pada tahun 2018 mencapai 30 ribu boks, dan meningkat sebanyak 35 ribu boks di tahun 2019.

“Dari tahun 2018 ke tahun 2019 itu arus peti kemas meningkat sebesar 17 persen,” ujar Manager Operasional Pelindo 4 Cabang Manokwari Yance Kodey ketika ditemui Papua Barat News di ruang kerjanya, Selasa (17/3/2020).

Menurut dia, peningkatan ini menjadi yang terbesar dari seluruh cabang yang ada di wilayah Papua. Dan, jumlah peti kemas yang terhitung sejak Januari 2020 sampai pertengahan Maret sudah mencapai 11 ribu boks.

Peti kemas tersebut didominasi dari Surabaya dan Makassar dengan kapasitas muatan perkapal berkisar antara 200 boks. Proses bongkar muat di pelabuhan Manokwari, kata dia, memakan waktu sampai tiga hari untuk masing-masing kapal.

“Jumlah kapal pengangkut kontainer yang masuk selama tahun 2020 ini sebanyak 30 kapal yang datang dari Surabaya dan Makasar,” ujar dia.

Disinggung terkait kondisi pelabuhan yang semakin sempit akibat penumpukan peti kemas, Yance menuturkan, Pelindo telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat guna memanfaatkan lahan seluas 1400 myang dibangun oleh Pemprov sejak tahun 2014 yang lalu. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari pelabuhan yang sedang digunakan sekarang.

“Sedang melakukan komunikasi dengan pemprov agar aset milik pemprov bisa kita kelola sebagai Badan Usaha Pelabuhan, sehingga aset tersebut tidak terkesan mubasir,” tutur dia.

Dampak lain yang ingin dicapai dari pemanfaatan area tersebut, lanjut dia, adalah agar aset yang ada dapat memberikan kontribusi balik kepada pemerintah daerah setempat.

“Pemerintah sudah menggelontorkan begitu banyak biaya untuk pembangunan area tersebut,” kata mantan Supervisor Operasional Pelindo cabang Sorong ini.

Dia pun memastikan bahwa kegiatan distribusi serta proses bongkar muat di pelabuhan masih berjalan normal sehingga tidak ada alasan jika kenaikan barang dipengaruhi oleh distribusi kontainer atau lambannya proses bongkar muat. Pihaknya justru menginginkan agar barang yang sudah ada di pelabuhan segera tersalurkan ke tangan pedagang, agar tidak terjadi penumpukan kontainer agar tidak mengganggu kelancaran keluar masuknya kapal maupun proses bongkar muat itu sendiri.

“Kami hanya memastikan kedatangan kapal, jumlah kontainer yang masuk serta bongkar muat di pelabuhan,” lanjut dia.

Ia menekankan, distribusi barang dari pelabuhan ke pemilik barang merupakan pekerjaan DPT ekspedisi yang tidak hanya bekerja untuk satu pemilik barang saja. Ekspedisi menyuplai barang untuk kebutuhan seluruh pemilik barang yang ada di Manokwari, dan juga untuk daerah di luar Manokwari. Hal inilah yang menjadi alasan keterlambatan barang tiba di pemilik barang.

“Urusan distribusi barang dari pelabuhan ke pemilik barang bukan kewenangan Pelindo,” tegas dia.

Selain itu menurut Yance, terkadang ada pedagang yang menjadikan pelabuhan sebagai gudang. Barang-barang miliknya yang sudah masuk ke pelabuhan tidak segera diambil dengan alasan masih banyak stok di gudang. Hal ini menjadi catatan serius, karena akan berdampak pada proses jual beli barang di pasaran.

“Terkadang, kami tanyakan kepada pemilik barang tentang alasan tidak mengambil barangnya di pelabuhan, mereka bilang stok di gudang masih cukup. Sementara ketika masyarakat mengeluhkan kenaikan harga barang, mereka (pedagang) beralasan masih menunggu kapal. Padahal barangnya ada ditumpuk di pelabuhan,” tutu Yance.(PB25)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: