SD Inpres 32 Arfu Sulit Terapkan Belajar Online

MANOKWARI,  papuabaratnews.coMetode belajar mengajar dari rumah menggunakan sistem online, tidak dapat diterapkan maksimal di seluruh sekolah yang ada di Provinsi Papua Barat. Sebab, sebagian daerah belum terkoneksi dengan jaringan internet.

Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres 32 Arfu, Distrik Mubrani, Kabupaten Tambrauw, Philipus Makambak mengatakan, pihaknya kesulitan menerapkan metode belajar mengajar secara online sejak Maret 2020 lalu. Dampaknya, sebanyak 67 siswa terpaksa harus tetap berada di rumah tanpa aktivitas belajar mengajar. Perlu diketahui, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan surat edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan Covid-19 bagi guru dan siswa untuk semua jenjang pendidikan di Indonesia.

“Kami tidak bisa akses internet di sini (Kampung Arfu, red). Karena itu, anak-anak tinggal saja dan bermain di rumah,” ujarnya saat dikonfirmasi Papua Barat News di Kampung Arfu, Sabtu (2/5/2020) pekan lalu.

Selain belum terlayani dengan jaringan internet, sambung dia, 67 siswa juga belum memahami aplikasi yang dipergunakan dalam metode belajar online dari rumah seperti siswa-siswa di daerah perkotaan.

“Siswa banyak yang belum tahu, karena itu agak sulit menerapkan sistem belajar online seperti di wilayah kota,” paparnya.

Dia pun berharap, Pemerintah Kabupaten Tambrauw dapat mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan penerapan sistem belajar dari rumah tersebut. Jika kebijakan tidak dikeluarkan maka, dampak terburuk adalah kualitas pendidikan di daerah setempat. Selain itu, pihak sekolah belum menerima alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw.

“Saya takut anak-anak ini makin bodoh dan ketinggalan materi karena libur terlalu lama di rumah,” paparnya.

Kepala Kampung Atori, Distrik Mubrani, Zakarias Masu, mengaku bahwa, banyak anak-anak yang mengikuti orang tua mereka ke hutan karena aktivitas sekolah tidak berjalan.

“Anak-anak banyak tidak belajar di rumah, karena orang tua ajak ke hutan,” ucap dia.

Sementara itu, pelaksanaan ujian kenaikan kelas siswa SMA dan SMK/Sederajat se-Provinsi Papua Barat yang juga menggunakan metode online dikhawatirkan tidak berjalan optimal, lantaran belum seluruh wilayah terkoneksi internet.

“Kita tutup mata sajalah, saya katakan begitu. Mau bikin apa lagi, mau paksa dengan kondisi begini (Pandemi Covid-19, red),” ujar Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat, Barnabas Dowansiba.

Sebagai penanggungjawab pendidikan di Papua Barat, Barnabas tidak dapat menjamin metode ujian menggunakan sistem jaringan internet dapat berjalan efektif di tengah masa pandemi Covid-19 yang melanda ratusan negara di dunia.

“Efektif atau tidak nanti evaluasinya dari belakang,” tegas dia.

Dia lalu menuturkan, pembatalan Ujian Nasional sekolah akibat Covid-19 berdampak pada pengembalian anggaran yang telah digelontorkan oleh Kemendikbud. Anggaran tersebut hampir mencapai Rp4 miliar, namun sebagian anggaran sudah dipergunakan dalam masa persiapan Ujian Nasional sebelum adanya instruksi pembatalan.

“Kita sudah pakai itu hampir Rp2 miliar. Kalau yang sudah dikirim ke sekolah-sekolah tidak bisa dirarik,” pungkas Barnabas.(PB22)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: