Sekuntum Bunga dari Perempuan Arfak untuk Kedamaian Papua

Kami membagi bunga ini sebagai wujud cinta kasih kami untuk semua perempuan.

 

Laporan: Fransiskus Salu Weking

 

JARUM jam menunjukan pukul 13.15 WIT. Di pinggir lampu merah Jalan Haji Bauw, Kota Manokwari, berjejer belasan perempuan asli Papua. Mereka tergabung dalam Perkumpulan Perempuan Arfak (PPA) Provinsi Papua Barat.

Orasi tentang kedamaian yang diselingi lantunan lagu-lagu untuk keindahan Tanah Papua, mewarnai siang di Jalan Haji Bauw.

Di tangan mereka, ada sejumlah kuntum bunga berwarna warni.

Selang beberapa menit, lampu traffic light berubah warna dari hijau ke merah. Satu persatu perempuan Arfak turun ke jalan, dan menghampiri setiap pengendara kendaraan bermotor yang berhenti.

Bunga-bunga yang digenggam, mulai dibagikan ke setiap pengendara. Tersirat makna yang mendalam dari aksi yang dilakukan belasan perempuan asli Papua, tepat pada peringatan Hari Perempuan Sedunia (Internasional Woman’s Day).

Bunga sebagai simbol perdamaian. Perdamaian untuk Tanah Papua, perdamaian untuk semua suku-suku asli Papua dan perdamaian bagi semua masyarakat yang mendiami Bumi Kasuari.

Perempuan Arfak telah memulai langkah yang patut diapresiasi. Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat, bersama-sama menjaga harmonisasi kehidupan di Tanah Papua Barat, khususnya Manokwari.

“Ini wujud cinta kasih kami untuk semua perempuan,” kata Ketua PPA Papua Barat Serci Meidodga saat ditemui di lokasi, Selasa (8/3/2022) siang.

Tak hanya bunga, tangan mereka juga memegang sejumlah baliho bertuliskan ‘Serui dan Arfak Kitong Papua. Sa Jaga Ko, Ko Jaga Sa’.

Penggalan frasa lokal ini memiliki makna, tidak ada perbedaan antara satu dan yang lain. Semua suku asli adalah satu, satu Papua. Sudah semestinya, saling menjaga dan menghormati.

Telah diketahui bersama, Kota Manokwari belakangan diwarnai aksi demo hingga pemblokadean jalan raya. Kondisi ini mengusik nurani perempuan Arfak. Mereka tak ingin harmonisasi kehidupan yang terbangun selama ini, runtuh akibat unggahan bernuansa rasisme melalui media sosial.

“Kami tidak ingin ada rasis, kami tidak ingin ada pertengkaran, kami tidak ingin ada pertikaian. Kami mau perdamaian di negeri ini terus tercipta,” ujar Serci.

Lewat aksi pembagian bunga, perempuan Arfak mengimbau agar seluruh masyarakat menyadari bahwa Manokwari selain menjadi ibu kota Provinsi Papua Barat, juga sebagai Kota Injil. Sudah semestinya, kehidupan masyarakat di Manokwari mencerminkan kedamaian dan dapat menjadi contoh untuk daerah lain di Indonesia.

Dengan adanya kedamian, pembangunan daerah dapat terlaksana tanpa adanya gangguan.

“Mari kita hidup dengan damai, supaya kita pembangunan daerah bisa berjalan,” kata Serci.

Perempuan Arfak bersama organisasi perempuan lainnya, menggelar aksi simpatik memperingati Hari Perempuan Internasional di Jalan Haji Bauw Wosi, Manokwari, Selasa (8/3/2022). (Foto: PB News/F. Weking)

Pembagian bunga pada Hari Perempuan Sedunia, menggambarkan perempuan Papua berani tampil dan menyuarakan perdamaian.

Yuliana Numberi, salah satu aktivis perempuan yang hadir dalam aksi itu, mengatakan, perempuan-perempuan asli Papua maupun non Papua harus saling menghormati, bergandengan tangan dan saling menghargai. “Ini bukti kesadaran perempuan Arfak merangkul semua perempuan, untuk menjaga kedamaian di Manokwari,” ujar Yuliana terkesima.

Meskipun menjadi korban ujaran rasisme lewat unggahan di media sosial, perempuan Arfak tak sedikitpun menaruh dendam. Inisiatif dari perempuan Arfak, patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi seluruh perempuan di Tanah Papua. Dengan adanya unggahan rasisme beberapa waktu lalu, perempuan diharapkan semakin bijaksana dalam menggunakan media sosial. Sebab, media sosial merupakan ruang yang tidak memiliki batasan. Segala percakapan digital yang negatif, akan berdampak buruk terhadap kehidupan di dunia nyata.

“Mereka terima ujaran rasisme, tapi mereka tidak melihat itu sebagai kemunduran. Justru mereka maju dan mengajak perempuan lainnya menjaga kedamaian,” tutur Yuliana perempuan Serui.

Usai membagikan bunga, para perempuan asli Papua melanjutkan penandatanganan petisi untuk menolak berbagai macam bentuk rasisme. Hadir dalam kegiatan itu, Direktris Yayasan Mitra Perempuan Papua (YMP2) Papua Barat, Anike TH Sabami. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: