Tenaga Kerja Sektor Pertanian Papua Barat Turun

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pertanian masih menjadi sektor yang paling dominan dalam penyerapan tenaga kerja di Provinsi Papua Barat, disusul sektor perdagangan dan administrasi pemerintahan.

Pada Februari 2021, jumlah tenaga kerja sektor pertanian sebanyak 119.955 orang atau 26,08 persen dari 459.890 penduduk yang bekerja.

Namun, bila dibandingkan dengan Februari 2020 yang mencapai 137.737 orang, maka jumlah tenaga kerja sektor pertanian turun 4,51 persen poin atau sekitar 17.782 orang.

“Sektor pertanian ini banyak diminati penduduk di Papua Barat, tapi tumbuh negatif 4,51 persen poin,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat Maritje Pattiwaellapia, Senin pekan lalu.

Menurut dia, situasi pandemi Covid-19 dan masifnya perkembangan teknologi menyebabkan terjadi fenomena pergeseran tenaga kerja pertanian ke sektor lainnya seperti perdagangan.

Kondisi ini dapat dilihat dari persentase penyerapan tenaga kerja sektor perdagangan pada Februari 2021 yang tumbuh signifikan 4,46 persen poin atau sekitar 22.234 orang dibanding Februari 2020.

Dengan demikian, jumlah tenaga kerja sektor perdagangan tercatat sebanyak 102.692 orang atau 22,33 persen dari total penduduk yang bekerja di Papua Barat.

“Apalagi sekarang di rumah saja sudah bisa jualan online. Pola pekerja yang tadinya sebagian besar pertanian, mulai bergeser,” jelas Maritje.

Kemudian, kata dia, administrasi pemerintahan menjadi lapangan usaha ketiga terbesar yang menyerap tenaga kerja. Jumlanya mencapai 67.468 orang atau sekitar 14,67 persen dari total penduduk yang bekerja di Papua Barat, pada Februari 2021.

Namun, sektor ini juga terkontraksi 0,41 persen poin atau mengalami penurunan sebanyak 455 orang, jika dibandingkan Februari 2020 yaitu 67.923 orang. “Apakah ada yang pensiun, sehingga terkontraksi,” ucap dia.

Dilihat berdasarkan tren sektoral, tidak ada lapangan usaha yang konsisten naik ataupun turun dalam menyerap tenaga kerja di Papua Barat. “Kontribusi penyerapan tenaga kerja fluktuatif setiap tahunnya,” jelas Maritje.

Sementara itu, Asisten II Bidang Kesejahteraan & Pembangunan Setda Provinsi Papua Barat Melkias Werinussa mengatakan, penurunan tenaga kerja di sektor pertanian akan menjadi perhatian dari pemerintah daerah. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka dapat mempengaruhi produktivitas dan ketersediaan komoditi pertanian.

“Kadang-kadang selesai masa tanam, petani beralih jadi pedagang,” ujar dia.

Selain tiga lapangan usaha, BPS Papua Barat juga mencatat kontribusi sektor lainnya terhadap serapan tenaga kerja. Seperti, jasa pendidikan menyerap tenaga kerja sebesar 6,73 persen (30.938 orang), konstruksi menyerap tenaga kerja sebanyak 6,27 persen (28.816 orang), transportasi dan pergudangan menyerap tenaga kerja sebesar 5,90 persen (27.156 orang) , industri pengolahan menyerap 4,42 persen (20.307 orang), jasa lainnya 3,26 persen (14.999 orang), akomodasi dan minuman 3,04 persen (13.979 orang), kesehatan dan sosial 2,07 persen (9.504), pertambangan dan penggalian 1,70 persen (7.841 orang), jasa keuangan 1,35 persen (6.203 orang), informasi dan komunikasi 0,92 persen (4.209 orang), jasa perusahaan 0,69 persen (3.174 orang), pengadaan listrik 0,25 persen (1.169 orang), pengadaan air 0,19 persen (884 orang), dan lapangan usaha real estate hanya menyerap 0,13 persen (596 orang).

Partisipasi turun

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pada Februari 2021 sebesar 68,11 persen atau turun 1,00 persen poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah angkatan kerja yang meningkat 7.178 orang menjadi 490.201 orang pada Februari 2021.

Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, penurunan TPAK mengindikasikan adanya penurunan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.

Turunnya TPAK ini dipengaruhi oleh turunnya TPAK jenis kelamin laki-laki sebesar 3,61 persen poin menjadi 79,40 persen. Sementara TPAK perempuan justru mengalami peningkatan 2,00 persen poin menjadi 55,33 persen.

“Artinya partisipasi laki-laki lebih tinggi dalam bekerj dibandingkan perempuan. Mungkin perempuan lebih memilih urus rumah tangga,” pungkas Maritje Pattiwaellapia. (PB15)

 

Berita ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 11 Mei 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: